Antisipasi Banjir Masyarakat Pessel Diminta Membuat Lobang Biopori

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, menemukan cara untuk mengantisipasi genangan air yang rentan terjadi di pemukiman padat penduduk.

Solusi itu yakni perlu untuk membuat lobang biopori di titik yang terjadi genangan air, dampaknya juga bisa mengatasi kekeringan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pesisir Selatan, Jumsu Trisno, mengatakan, lobang biopori itu selain berfungsi sebagai serapan air ketika musim hujan, juga bisa sebagai penyimpanan atau cadangan air, termasuk juga sebagai media pengisap sisa limbah buangan rumah tangga jenis organik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pesisir Selatan, Jumsu Trisno, yang ditemui di sela kegiatan rapatnya di Padang, Rabu (4/12/2019) -Foto: M. Noli Hendra

Untuk itu, Pemkab Pesisir Selatan mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di pemukiman padat penduduk atau kawasan perumahan, agar membuat lobang biopori.

“Upaya itu bertujuan untuk menjaga keseimbangan air tanah agar terhindar dari ancaman kekeringan terutama di saat memasuki musim kemarau. Karena dengan adanya lobang biopori pada kawasan padat penduduk atau kawasan perumahan, bisa dijadikan sebagai tempat cadangan air di saat musim kemarau,” katanya, Rabu (4/12/2019).

Peran lubang biopori dapat dilihat saat musim hujan tiba, dimana lobang biopori tersebut dapat berfungsi sebagai serapan air, dan tentunya dapat mengatasi genangan air, serta juga sebagai media penghisap limbah buangan rumah tangga.

Ia menjelaskan bahwa biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Bahkan biopori memiliki fungsi yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan.

Di antaranya, memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah, membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar, mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit, mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut, mengurangi risiko banjir di musim hujan, maksimalisasi peran dan aktivitas flora-fauna tanah, serta mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

“Cara membuat lubang biopori tersebut tidaklah terlalu rumit, hanya perlu menggali lubang secara vertikal dengan diameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah. Jarak antara lubang satu dengan yang lainya 50-100 cm, mulut lobang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lobang,” ungkapnya.

Selanjutnya lobang diisi dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau dari sisa pangkasan rumput. Penambahan sampah organik ke dalam lobang yang telah berkurang, juga perlu dilakukan. Hal itu memang akibat dari penyusutan dan proses pelapukan.

“Nah kompos yang sudah terbantuk dalam lobang itu, dapat diambil setiap akhir musim kemarau. Pengambilan kompos itu sekaligus bertujuan untuk pemeliharaan terhadap lobang resapan tersebut,” terangnya.

Lebih jauh dijelaskan bahwa biopori juga bermanfaat secara arsitektur lanskap sehingga telah digunakan sebagai pelengkap pertamanan di berbagai rumah mewah dan rumah minimalis yang menerapkan konsep rumah hijau.

Diungkapkan lagi bahwa biopori juga telah menjadi pelengkap penerapan kebijakan luas minimum ruang terbuka hijau di perkotaan.

“Berdasarkan berbagai manfaat itu,  kita menganjurkan kepada masyarakat untuk membuat lobang biopori, sebagaimana telah dikembangkan saat ini di lingkungan taman Masjid Akbar Baiturahman Painan,” tutupnya.

Lihat juga...