Arang Batok Kelapa Usaha yang Menjanjikan di Lamsel

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Melimpahnya produksi batok kelapa dari sejumlah pembuat kopra menjadi peluang bagi warga Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, Lampung Selatan (Lamsel). Terlebih menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, permintaan dari konsumen lokal dan luar negeri juga meningkat.

Wanto, pembuat arang batok kelapa menyebutkan,  peningkatan permintaan berasal dari pengepul yang akan mengirim ke Taiwan. Arang yang memiliki karbon bahan kosmetik, penjernih air banyak diminati untuk permintaan ekspor.

“Selain ekspor kebutuhan lokal berasal sejumlah pemilik usaha kuliner, seperti sate, ayam bakar dan kerupuk kemplang,” ungkap Wanto saat ditemui Cendana News melakukan proses persiapan pengemasan arang batok kelapa, Selasa (17/12/2019).

Dekati libur Nataru, Wanto menyebut ia mulai mendapat permintaan dari sejumlah warung. Permintaan dengan kemasan 20 kilogram untuk acara bakar ikan, daging ayam pada acara malam tahun baru sangat mendominasi, bahkan bisa mencapai 100 karung. Untuk satu kemasan dijual rata rata seharga Rp30.000.

“Kebutuhan kuota untuk disetor ke pengepul minimal satu ton, kalau sudah terpenuhi sisanya bisa dijual ke pengecer yang mulai menyiapkan stok untuk Natal dan Tahun Baru,” tambahnya.

Ia menambahkan, bahan baku batok kelapa yang diperoleh dari produsen kopra dibeli rata rata Rp20.000 per keranjang besar. Usai pembakaran, arang yang sudah jadi akan ditimbun dalam lubang tanah untuk proses pendinginan sebelum dikemas.

Kakak Wanto, Ngatiran menyebutkan, usaha pembuatan arang batok kelapa kerap terkendala izin lingkungan. Mengatasi hal tersebut, mereka memilih lokasi jauh dari perumahan untuk dapat memproduksi tanpa mengganggu kenyamanan warga.

Disebutkan juga, permintaan semakin banyak mendekati musim penghujan untuk menjernihkan air hujan.

“Sejumlah warga memilihnya sebagai bahan penjernih air yang biasa digunakan dalam campuran batu bata, pasir, ijuk dan bahan lain,” tambahnya.

Pemilik usaha kelapa cungkil di Desa Hatta, Sulaiman juga menyebutkan, limbah batok kelapa sengaja tidak ia buang karena memiliki nilai ekonomis tersendiri. Bahkan permintaan bahan baku arang meningkat menjelang Nataru.

“Rata rata sekali pengambilan batok kelapa setiap pekan bisa mencapai 10 keranjang besar. Hasil penjualan dapat mencapai ratusan ribu,” terangnya.

Selain bisa membersihkan limbah dari halaman, penjualan batok kelapa bisa memberi penghasilan tambahan. Selain batok kelapa ia menyebut menjual air kelapa bahan nata de coco seharga Rp5.000 per jerigen.

Lihat juga...