hut

Awal Musim Tanam, Pande Besi Banjir Pesanan Cangkul

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Musim penghujan selalu menjadi berkah tersendiri bagi para perajin alat pertanian atau biasa disebut pande besi. Pasalnya di awal musim tanam seperti sekarang ini mereka selalu kebanjiran pesanan berbagai macam alat pertanian.

Mempersiapkan hal itu, para pande besi pun memproduksi berbagai macam alat pertanian dengan jumlah jauh lebih banyak dari biasanya. Hal itu dilakukan untuk memenuhi tingginya permintaan petani akan sejumlah alat pertanian seperti cangkul, arit, cengkrong dan sebagainya.

Salah seorang pande besi, asal Manisrenggo, Klaten, yang biasa berjualan di Pasar Tradisional Jangkang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Paijo, mengaku mulai memperbanyak produksi cangkul sejak beberapa waktu terakhir. Dalam sehari ia mengaku mampu membuat cangkul hingga 10 buah.

Cangkul itu ia buat secara manual dengan cara ditempa menggunakan alat sederhana. Bahan yang biasa digunakan adalah besi-besi bekas seperti per truk, besi rel, dan sebagainya. Setelah jadi cangkul ia setor ke toko-toko pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Satu buah cangkul sendiri ia patok seharga Rp250 ribu per buah.

“Kalau musim hujan banyak petani mulai kembali menanam padi. Sehingga permintaan alat seperti cangkul selalu meningkat. Maka kita bikin cangkul dalam jumlah banyak. Bisa 2-3 kali lebih banyak dibandingkan biasanya,” katanya saat ditemui di pasar Jangkang, Selasa (3/12/2019).

Selain membuat cangkul, Paijo sendiri juga menerima servis atau reparasi alat pertanian yang rusak. Mulai dari mengasah arit, mengganti gagang atau pegangan, hingga memodifikasi alat sesuai permintaan petani.

“Kalau memasuki musim penghujan seperti sekarang ini banyak petani yang datang untuk reparasi. Karena memang berbagai aktivitas pertanian mulai kembali berjalan setelah sebelumnya terhenti karena musim kemarau,” katanya.

Dalam sekali reparasi, Paijo sendiri mematok tarif bervariasi tergantung jenis kerusakan dan kesulitan pengerjaan. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp30 ribu rupiah. Selama setengah hari di pasar ia mengaku bisa menerima reparasi hingga belasan buah. Meningkat dari hari biasa yang hanya kurang dari 5 buah saja.

“Untuk daerah di sekitar sini hampir semua alat pertanian seperti arit atau cangkul buatan lokal. Tidak ada alat yang impor. Karena masih banyak perajin yang membuatnya. Kualitasnya juga jauh lebih bagus, jika rusak atau tumpul bisa diperbaiki sehingga tidak perlu beli baru lagi,” ungkapnya.

Lihat juga...