Bandara Rokot Mentawai Gerbang Wisata Dunia, Perlu Perluasan

Editor: Makmun Hidayat

MENTAWAI — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendorong Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk segera melakukan pembebasan lahan, untuk penambahan panjang landasan pacu seluas 800 meter. 

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, perlu kerja keras bagi Pemkab Kepulauan Mentawai untuk membebaskan lahan penambahan panjang landasan pacu tersebut. Karena dari Menko Kemaritiman dan Investasi menyatakan jika Mentawai tidak segera bergerak, maka pembangunan landasan bandara akan pindah ke Fak-Fak Papua.

Untuk itu, Nasrul meminta kepada seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar Bandara Rokot yang terletak di Desa Matobe, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai itu, untuk dapat bekerja sama dalam pembebasan lahan.

“Sekarang landasan yang ada baru 800 meter. Agar lebih aman untuk berpacu, maka perlu ditambah 800 meter lagi, artinya panjang landasan pacu yang dibutuhkan 1.600 meter,” katanya saat mengunjungi kondisi Bandara Rokot Mentawai, Minggu (21/12/2019).

Wagub juga mengharapkan permasalahan lahan, dapat diselesaikan tahun ini, sehingga pada 2020 sudah dimulai pemerataan lahan. Kemudian 2021 pekerjaan fisik selesai dan 2022 bandara secara keseluruhan selesai dan 2023 sudah bisa beroperasi.

“Jika landasan pacu yang baru ini bisa selesai, maka akan bisa mendaratkan pesawat dengan jumlah penumpang 80 orang, dan sudah bisa langsung dari Batam, Bengkulu, Sibolga, Padang, Jambi dan Pekanbaru,” ujarnya.

Sebaliknya, jika pembangunan Bandara Rokot ini tidak selesai, maka anggaran untuk pembangunan akan dipindahkan ke daerah lain.” Informasinya akan dipindahkan untuk pembangunan bandara di Fak-Fak, Papua Barat,” jelasnya.

Dengan demikian, agar pemindahan tersebut tidak terjadi, Nasrul Abit mengharapkan pemahaman bersama kepada seluruh masyarakat dengan dibantu oleh pihak Pemerintah Daerah Mentawai. Bahkan, jika hal tersebut terwujud, maka ekonomi akan membaik, tenaga kerja akan bertambah banyak dengan tetap memprioritaskan putra daerah.

“Jangan sampai anggaran yang diberikan oleh pusat ke sini tidak bisa dimanfaatkan, sekali tidak dimanfaatkan akan susah mendapatkannya kembali,” katanya.

Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet, meyakini apabila pembangunan ini berhasil yang akan diuntungkan tentu masyarakat Mentawai. Di tahun 2022 atau 2023, apabila ini selesai dan ditambah lagi trans Mentawai juga sudah, maka bupati yakin kabupaten ini akan keluar dari daerah tertinggal.

“Saya melihat apabila Bandara Rokot berfungsi, maka ekonomi masyarakat akan tumbuh di sini. Mulai dari lapangan pekerjaan hingga menunjang tumbuhnya pelaku usaha,” ucapnya.

Apalagi di Mentawai apabila bandara resmi beroperasi, maka para peselancar dunia bakal mudah mengakses Mentawai. Kalau ombak Mentawai merupakan ombak terbaik melakukan surfing di dunia.

Sementara, Deputi Bidang Infrastruktur Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Ridwan Djamaluddin mengatakan, dengan pembangunan bandara ini akan menjadikan Mentawai sebagai lokasi wisata kelas dunia, karena akan mempermudah para wisatawan masuk ke daerah ini.

“Dari pendapat praktisi pariwisata, kunci paling penting dalam membangun wisata di Mentawai ini adalah bandara yang lebih baik, jadi dengan ini akan hadir terobosan penting dan sangat bermanfaat,” katanya.

Selain itu, dia juga menyampaikan pembangunan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat, terutama pada daerah yang masih tertinggal, sehingga pembangunan di seluruh Indonesia bisa merata.

“Pembangunan infrastruktur yang besar bukan hanya dibangun di pulau-pulau besar saja, tapi juga di pulau-pulau kecil,” ungkap Ridwan.

Menurutnya, untuk memperluas bandara ini akan menghabiskan anggaran Rp530 miliar, yang yang bersumber dari Kementerian Perhubungan. “Untuk 2020 anggaran yang sudah dialokasikan sebanyak Rp130 miliar untuk pematangan lahan,” tegasnya.

Lihat juga...