hut

‘BATAN – IAEA’ Pertemukan Pengembang dan Pengguna

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Setelah ditunjuk menjadi salah satu negara Collaborating Center di bidang Non Destructive Investigation (NDI) oleh IAEA, pada 2015, kali ini Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyelenggarakan workshop dan pameran untuk mempertemukan para pengembang teknologi dengan para pengguna, regulator (penentu kebijakan), dan penyedia jasa NDI.

Pemanfaatan NDI ini bisa digunakan dalam sektor industri manufaktur, lingkungan, kesehatan, infrastruktur dan pertanian.

Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir (TEN)  BATAN, Suryantoro, menyatakan prestasi ini adalah suatu hal yang membanggakan.  “Ini artinya BATAN memiliki kemampuan, expertise dan pengalaman di bidang NDI yang terdiri dari 10 unit kerja. Dan, bukan hanya satuan unit kerja, tapi juga bisa menghasilkan sumber daya manusia melalui STTN,” kata Suryantoro, pada acara Workshop dan Pameran  BATAN – IAEA Collaborating Center di sebuah hotel di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Ia menjelaskan, bahwa NDI merupakan serangkaian kegiatan pengujian atau inspeksi, untuk memastikan bahwa material, struktur, dan komponen dapat berfungsi sesuai yang dipersyaratkan.

“Berbagai sektor industri seperti industri logam, migas, transportasi, manufaktur, konstruksi, elektronika, dan lain-lain telah memanfaatkan NDI untuk mengendalikan mutu dalam meningkatkan keselamatan dan keandalan produk yang berdampak pada reputasi industri pengguna,” ujarnya.

Dengan penguasaan teknologi NDI, Kepala Pusat Aplikasi dan Radioisotop (PAIR), Totti Tjiptosumirat, menyatakan bahwa BATAN siap bekerja sama dalam menyiapkan sumber daya manusia dan berbagi pengalaman dengan stakeholders yang bergerak dalam bidang pekerjaan infrastruktur, manufaktur dan lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, akan terjalin interaksi dan komunikasi yang intensif untuk meningkatkan kerja sama antara BATAN sebagai pengembang teknologi, dan kepakaran dengan para pemangku kepentingan dalam pemanfaatan uji tak rusak. Karena misi utama dari Collaborating Center adalah sebagai sentra teknologi dan sentra tenaga ahli,” kata Totti.

Ia juga menyatakan, bahwa sudah cukup banyak tenaga ahli yang dihasilkan dari program ini. Bukan hanya di BATAN, tapi juga dari negara lain dalam program scientific visit yang sudah berlangsung sekitar 5-6 kali untuk lebih dari sepuluh negara, baik Timur Tengah, Asia Pasifik maupun Afrika.

“Untuk grup training sendiri, sudah berlangsung sekitar 12 kali regional training, dengan kapasitas anggota antara 16-20 orang per training. Waktu training sendiri bervariasi antara satu bulan hingga satu tahun,” pungkasnya.

Lihat juga...