Belajar Sains di Area Iptek TMII

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sekumpulan remaja sangat antusias memainkan alat peragaan science, seperti Roda Tegak (upright wheel), Bola Melayang (floating ball), Meja Bernauli dan Bola Bergantung (haging ball).

Di arena peneliti cilik, seorang anak usia dini dengan didampingi pemandu, terlihat asyik memainkan Bola Berpacu (racing wheel).

Di arena peneliti cilik, seorang anak mencoba alat peraga Bola Berpacu, dengan didampingi pemandu di area mekanik di gedung PP-IPTEK TMII, Jakarta, Rabu (25/12/2019). Foto: Sri Sugiarti

Suasana keceriaan mereka memainkan alat peragaan science itu terlihat di Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dalam peragaan Roda Tegak, salah satunya. Sebuah roda berwarna hijau itu dipegang oleh seorang pengunjung usia remaja. Kedua tangan dia memegang besi sisi kanan kiri yang ada di roda tersebut.

Lalu diputar roda yang tergantung di tangan dia itu dengan posisi tegak. Lalu lepas pegangan pada roda itu secara perlahan. Karena efek gryskopi roda yang berputar cepat mampu mengatasi gaya gravitasi. Sehingga membuat posisi roda tetap tegak.

“Keren, roda berputar cepat tegak lagi, padahal pegangan besi sudah dilepas. Wah, ini gaya gravitasi yang nggak bikin roda jatuh,” kata Ardi, salah satu pengunjung PP-IPTEK TMII kepada Cendana News, Rabu (25/12/2019).

Direktur PP-IPTEK, Syahrial Annas, mengatakan, PP-IPTEK adalah sarana pembelajaran untuk menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi secara mudah, kreatif, inovasi, berkesan dan menghibur. Melalui alat peragaan interaktif yang dapat disentuh dan dimainkan.

Direktur PP-IPTEK, Syahrial Annas, ditemui di gedung PP-IPTEK TMII, Jakarta, Rabu (25/12/2019). Foto: Sri Sugiarti

Terdapat 25 wahana di PP-IPTEK, dan 400 lebih peraga. Sehingga pengunjung bisa belajar dari alat-alat peraga itu untuk meningkatkan pengetahuan terhadap science.

“Jadi, alat peraganya bukan hanya dilihat tapi dipegang dan dimainkan. Itu akan muncul fenomena-fenomena sains, mereka terus takjub merasakan ada sesuatu setelah memainkan alat itu. Di situ sebetulnya muncul sains, dan tanpa disadari mereka itu lagi belajar sains,” kata Syahrial kepada Cendana News ditemui di PP-IPTEK TMII, Jakarta.

Belajar sains di PP-IPTEK, sangat berbeda saat si anak berada di ruang kelas sekolahnya. Kalau di sekolah, menurutnya, mereka belajar menghitung rumus tidak tahu apa itu yang dimaksud efek dari hukum arsimesti, misalnya.

Sedangkan kalau di PP-IPTEK, mereka bisa melihat langsung, memegang atau menyentuh dan memainkan alat peraga itu yang diselesaikan dengan contoh reaksi dari sains. Baru setelah itu mereka membaca keterangan yang tertera di alat peragaan tersebut.

Sehingga mereka bisa melihat secara nyata reaksi sains dari alat peragaan yang dimainkannya. Apalagi dilengkapi dengan penjelasan rumus yang tersaji dari alat tersebut.

“Salah satu sasaran kita belajar sains lewat permainan yang menyenangkan. Sehingga yang tadinya belajar sains itu jadi momok, sekarang dia ke sini senang. Karena mereka belajar memainkan dulu, dan tanpa disadari mereka sedang belajar sains,” imbuhnya.

Seiring perkembangan era digitalisasi, PP-IPTEK juga melengkapi alat peraga mengarah pada digital. Diantaranya, Wahana Inovasi Indonesia dan Digital World, yang menghiasi area PP-IPTEK sejak April 2019.

Wahana Inovasi Indonesia menghiasi area gedung PP IPTEK TMII, Jakarta, Rabu (25/12/2019). Foto: Sri Sugiarti

Adapun yang terbaru adalah wahana Ozon diresmikan pada September 2019. Sedangkan pada tahun 2018 lalu, pernah ditampilkan wahana Self Balancing Wheel dan Stereo Visual.

Wahana stereo visual ini menampilkan peragaan-peragaan yang mengungkapkan kelebihan panca indera penglihatan manusia. Sedangkan wahana Self Balancing Wheel, yaitu menampilkan kendaraan dengan sensor zero meskipun beroda satu.

Syahrial berharap wahana baru ini dapat menarik antusiasme anak-anak dan masyarakat luas terhadap dunia sains dan IPTEK.

“Kalau kita cinta sains, harusnya semua ilmu terbaru ada di sini. Tapi karena kita butuh modal, jadi separuh-separuh tidak semua digital,” ujarnya.

Adapun wahana lainnya, adalah wahana petualangan sains, yang terdiri dari lima alat peraga. Yaitu, Human Yoyo, Lorong Ilusi, Laser Trap, Mirror Maze, dan Gyro Extreme.

Pengunjung dapat termotivasi dan memahami prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mudah melalui 400 alat peraga yang bisa disentuh, dipegang dan dimainkan.

Beberapa alat peraga menantang misalnya, simulator gempa bumi, sepeda layang, roket air, try science, dan masih banyak lagi.

Semua alat peraga tersebut disiapkan untuk anak-anak dari taman kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan sekolah tingkat atas (SLTA), serta masyarakat luas.

“Kalau di museum, anak-anak dilarang memegang koleksi ya. Tapi kalau di PP-IPTEK, mereka harus mencoba berbagai wahana, memegang dan memainkan untuk bisa merasakan serta memahami sainsnya,” ujar Syahrial.

PP-IPTEK juga menawarkan berbagai kegiatan bagi anak sekolah. Diantaranya, sebut dia, sanggar kerja dan demo ilmu pengetahuan dan teknologi, pelatihan perancangan alat peraga, science fair, pelatihan proses ilmu pengetahuan alam, pelatihan peduli lingkungan hidup, science camp, peneropongan bintang, aneka lembar kreativitas dan lomba perancangan alat peraga.

Anak-anak dan pengunjung lainnya bisa juga menyaksikan film ilmiah dan peragaan kimia di ruang auditorium. Kegiatan ini selain menghibur juga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memahami sains.

“Kami ingin terapkan budaya dunia iptek sejak usia dini kepada masyarakat. Bahwa sains itu dari buka mata sampai tutup mata, dari bayi sampai tua tidak pernah lepas dari sains. Diharapkan semua lapisan masyarakat bisa terakomodir,” ujarnya.

PP-IPTEK dibangun berawal dari ide Menteri Riset dan Teknogi, B.J. Habibie, yang berkeinginan bagaimana mencerdaskan masyarakat Indonesia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ide B.J. Habibie disambut baik oleh Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto dan Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.

Pada tahun 1991, gedung PP-IPTEK dibangun di area TMII menghadap Monumen Persahabatan KTT Non Blok. Gedung bergaya arsitektur futuristik dengan luas bangunan 24.000 meter persegi di atas lahan 42.300 meter persegi, ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 10 November 1995.

“PP-IPTEK ini dibangun memang oleh tokoh besar, seperti Ibu Tien Soeharto dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1995,” ujar Syahrial.

Bagian menarik gedung PP-IPTEK ini terletak pada atapnya. Puncak bangunan berbentuk bundaran yang bagian tengahnya cekung ke dalam.

Bundaran itu berukuran kecil dan berwarna coklat pekat. Bentuk bangunan didesain apik dengan paduan warna cerah yang menambah unik penampilannya.

Filosofi gedung ini bermakna sebagai penerang ilmu pengetahuan. Karena terhiasi ornamen lilin dan api yang menyala menghiasi bangunan ini.

Lihat juga...