Berburu Baronang Ala ‘Garonger’ Nusantara

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Matahari sudah terbit di balik pulau Rimau Balak, pulau Kandang Balak, Bakauheni, Lampung Selatan. Sebanyak enam orang anggota Garonger Nusantara (Garnus) asal Cilegon, Provinsi Banten, telah menyiapkan pancing di pantai Tanjung Tuha Pasir Putih, Bakauheni. Ujang yang akrab disapa Popay, menyebut memancing bersama lima anggota Garnus menikmati liburan akhir pekan.

Popay mengatakan, memancing dengan sistem garong menjadi hobi yang sekaligus untuk menjalin komunikasi antarsesama pemancing. Berbeda dengan penghobi memancing (angler) lain, pemancingan dengan alat pancing garong kerap disebut “ngegarong”. Jenis target utama ngegarong berupa ikan baronang (rabbit fish), yang berciri khas sisik didominasi warna coklat.

Menurut Popay, sebutan ngegarong karena proses memancing memakai sejenis mata kail bermata enam atau lebih, berbentuk matahari atau disebut garong.

Berbeda dengan teknik memancing jenis lain, ngegarong baronang akan tertangkap pada bagian insang, perut, bahkan ekor. Padahal, pada teknik memancing jenis lain memakai umpan ikan kerap terkena pada bagian mulut. Sensasi ngegarong akan terasa saat ikan baronang memakan umpan.

Ujang alias Popay, menunjukkan ikan baronang hasil tangkapannya dengan teknik tegek memanfaatkan pancing garong di pantai Tanjung Tuha, Bakauheni, Lampung Selatan, Minggu (29/12/2019). -Foto: Henk Widi

“Memancing sistem garong kami lakukan dengan umpan lumut laut yang mudah diperoleh di lokasi memancing, sekaligus habitat alami ikan baronang yang dikenal memakan apa saja, jadi kami tidak repot mencari umpan,” kata Popay, saat ditemui Cendana News, Minggu (29/12/2019).

Memancing dengan teknik garong, imbuh Popay, kerap memakai joran jenis tegek, sehingga kerap juga disebut penegek. Joran tegek (pole rod) merupakan joran tanpa cincin penggulung (ring guide) dengan panjang empat hingga enam meter. Joran yang mudah dipanjangkan atau dipendekkan, menjadi pilihan untuk memudahkan proses ngegarong. Selain joran, senar dilengkapi dengan pemberat dan pelampung, menyesuaikan jarak pancing garong.

Popay menyebut, kontur pantai di wilayah Bakauheni memungkinkan anggota komunitas Garnus bisa memancing dengan dua cara. Pertama, dilakukan dengan memancing di bebatuan dengan sistem rigging tackle. Cara ini dilakukan dengan nangkring pada tebing karang atau dikenal dengan istilah rock fishing. Teknik ke dua dilakukan memakai sistem ngoyor, dengan sebagian badan masuk dalam air.

“Saat pasang tonda dengan ombak perairan pantai cukup landai, kami bisa mendekati tubir tepat di dekat kapal yang labuh jangkar atau anchor untuk memancing,” ungkap Popay.

Sistem ngoyor saat memancing garong, menurut Popay harus membawa perlengkapan memadai. Ia kerap harus memakai pelampung dan sepatu boots. Sebagai garonger, sebutan untuk pemancing garong, pemilihan tempat berhubungan dengan keselamatan. Dengan sejumlah alat keselamatan memadai ia bisa memancing dengan aman dan nyaman.

Popay yang asal Cilegon, mengaku  telah memancing di sejumlah pantai yang ada di Lamsel. Sejumlah spot mancing di pantai timur Lampung di antaranya Ketapang, Bakauheni hingga pantai barat, seperti Kalianda, Belebuk dan sejumlah pantai lainnya. Saat memancing, ia kerap bersama sekitar enam hingga sepuluh garonger lain anggota komunitas.

“Kami kerap harus menginap di rumah anggota komunitas lain atau kerabat, untuk memancing sekaligus silaturahmi dan berlibur,” beber Popay.

Sekali ngegarong, kata Popay, kerap mendapatkan ikan baronang lebih dari 10 kilogram. Ikan yang diperoleh selanjutnya akan dimasak bersama dengan pemancing lain. Saat mendapatkan tangkapan ikan dalam jumlah banyak, ia membawa pulang untuk oleh-oleh keluarganya.

Para garonger di Indonesia, disebutnya memiliki sejumlah koordinator wilayah. Ia mengaku tidak akan kesulitan saat berkunjung ke sebuah wilayah. Dengan anggota sekitar 8.097 orang, ia bisa saling berinteraksi untuk menunjukkan lokasi ngegarong yang tepat. Persaudaraan anggota komunitas menjadikan anggota Garnus memiliki saudara di setiap wilayah pantai.

“Keanggotaan Garnus cukup mudah, asal hobi memancing sistem tegek untuk memancing baronang,” papar Popay.

Diamini sang rekan, bernama Usman atau Babai, anggota Garnus akan selalu memakai seragam saat memancing. Cara tersebut dilakukan untuk memperlihatkan persatuan sebagai anggota komunitas. Saat di jalan bertemu dengan anggota Garnus lain, sikap persaudaraan akan ditunjukkan. Bahkan, tidak hanya dalam bidang memancing, persaudaraan tersebut terlihat saat di jalan.

“Saat kami kehabisan bensin karena membawa motor, ada anggota Garnus yang membantu termasuk akomodasi penginapan, jadi solidaritas tinggi,” papar Babai.

Babai menyebut, saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun ini ia memilih memancing di Tanjung Tuha. Bersama lima rekan anggota Garnus Cilegon, ia memilih Bakauheni karena jarak tempuh dekat. Naik kapal eksekutif selama satu jam, ia sudah bisa sampai Bakauheni. Ngegarong di Bakauheni sekaligus berbagi kebersamaan dengan anggota Garnus lain di wilayah Lamsel.

Lihat juga...