hut

BKSDA Kalbar Berhasil Selamatkan Orangutan Dampak Karhutla

PONTIANAK  – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan International Animal Rescue (IAR) Indonesia telah menyelamatkan sebanyak sembilan orangutan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2019 di Kabupaten Ketapang, Kalbar.

“Sejak kebakaran yang diawali Juli 2019, IAR Indonesia telah menyelamatkan sembilan orangutan dari kawasan hutan yang terbakar,” kata Manajer Lapangan IAR Indonesia, Argitoe Ranting, dalam keterangan tertulis yang diterima di Pontianak, Selasa.

Kemudian, menurut dia, sepanjang tahun 2015 pihaknya menyelamatkan 44 orangutan dari habitatnya yang hancur dalam beberapa bulan bahkan setelah kebakaran hutan mereda.

Dalam sepekan terakhir ini, IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, telah menyelamatkan dua orangutan di Ketapang, satu jantan dan betina dewasa yang diselamatkan dari Desa Sungai Besar dua hari setelahnya.

“Orangutan betina ini sangat kurus, karena telah menderita kelaparan selama berbulan-bulan sejak habitatnya terbakar, kami juga menduga dia kehilangan bayinya karena orangutan ini masih mengeluarkan air susu, mungkin bayinya mati karena kekurangan nutrisi. Jika kami tidak segera menyelamatkannya, mungkin dia sudah mati sekarang,” katanya.

Orangutan betina itu, kata dia, langsung dilepaskan di hutan Sentap Kancang tidak jauh dari tempat dia diselamatkan, sementara orangutan satunya lagi saat ini masih menjalani pemeriksaan dan perawatan oleh tim medis IAR Indonesia yang bekerja keras untuk memastikan dia kembali pulih dan bisa dipulangkan ke habitat aslinya sesegera mungkin.

Sementara itu, Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez mengatakan, kathutla adalah ancaman terbesar bagi orangutan saat ini.

“Sungguh memilukan melihat orangutan korban kebakaran hutan ini yang menderita kelaparan, tidak mempunyai apa pun untuk dimakan, sama seperti yang kita saksikan pada 2015. Meskipun demikian, kekuatan untuk tetap hidup dalam kondisi seperti ini cukup mencengangkan, bagian yang paling menyedihkan adalah kita tidak bisa menghitung berapa banyak dari orangutan ini yang tidak berhasil bertahan dan akhirnya terbakar dalam kebakaran atau mati perlahan karena kelaparan,” katanya.

Ia menambahkan diperlukan kemauan dan komitmen yang kuat dari semua negara untuk memerangi perubahan iklim. Kebakaran hutan merupakan penghasil rumah kaca terbesar di dunia.

“Bila kita tidak melindungi hutan yang tersisa, kita tidak hanya akan menderita akibat perubahan iklim, tetapi juga akan menyaksikan keanekaragaman hayati dari Kalimantan, termasuk orangutan, akan musnah,” katanya. (Ant)

Lihat juga...