BMKG Bangun Sistem Peringatan Dini Gempa ‘InaEEWS’

Editor: Makmun Hidayat

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dr. Daryono, S.Si, M.Si. -Dok: CDN

JAKARTA — Keberadaan Indonesia pada wilayah tiga patahan, menyebabkan menjadi salah satu wilayah aktif gempa bumi. Sehingga dibutuhkan suatu sistem pemantauan yang mampu memberi peringatan dini untuk menurunkan potensi kerugian, baik korban jiwa maupun materi. 

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Daryono, S.Si, M.Si, menyebutkan menurut data, rata-rata per tahun Indonesia mengalami 5-6 ribu gempa bumi.

“Untuk gempa di atas magnitudo 5, rata-rata 250-350 kali, gempa merusak itu antara delapan sampai 10 kali dan dalam dua tahun, bisa terjadi satu kali,” kata Daryono saat ditemui di Gedung D BMKG Jakarta, Jumat (20/12/2019).

Tapi  ia menyebutkan bahwa selama 2019, sudah terjadi 15 kali gempa bumi merusak. “BMKG mencatat gempa merusak terjadi di Solok Selatan M 5,6, Banten M 6,9, Gunung Salak M 4,0, Sumbawa M 5,3, Maluku Utara M 7,1 dan M 7,0, Banggai M 6,9, Sumenep M 5,0, Bali M 5,0, Lombok M 5,4, Ambon M 6,5, Banda M 7,4, Labuha  M 7,2, Mamberamo M 6,1 dan Sarmi M 6,2,” paparnya.

Daryono menyebutkan bahwa sejarah menunjukkan gempa merusak sudah terjadi sejak dahulu kala. “Data kita menunjukkan di Bali pernah terjadi pada tahun 1917,  di Yogyakarta tahun 1859 atau di Padang pada tahun 1926.  Dan beberapa hasil karya seni juga merekam peristiwa gempa ini,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan sejak tahun 2013, terjadi tren peningkatan gempa bumi. Data tahun 2013 adalah 4.234,  meningkat menjadi 4.434 pada tahun 2014,  5.299 di tahun 2015, 5.646 di tahun 2016, 7.169 di 2017 dan 11.920 di tahun 2018. “Dan mulai Januari hingga November 2019, kami sudah mencatat 10.309 kali,” ujarnya.

Gempa bumi menurut Daryono memiliki efek ikutan, yaitu landslide,  rockfall, tsunami, likuefaksi dan kebakaran.

“Untuk itu, kami dari BMKG berusaha untuk memantau gempa bumi ini dengan membangun sistem peringatan dini gempa bumi, InaEEWS (Indonesia Earthquake Early Warning Systems),” paparnya.

Sistem ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu sistem monitoring yang mendeteksi gempa bumi di hulu, sistem automatic processing yang mengolah data secara cepat dan sistem diseminasi penyebarluasan informasi atau peringatan dini di hilir yang disertai saran untuk menyelamatkan diri.

“Infonya akan disebarkan melalui mobille apps, media maupun website. Sehingga akan memberikan informasi kepada masyarakat sebelum gempa kuat melanda suatu kawasan,” ujar Daryono.

Ia menjelaskan bahwa saat ini pembangunan instalasi sudah mulai dilakukan dan diharapkan akan selesai pada tahun 2020.

“Pada Agustus kemarin, kita sudah memulai pemasangan 10 unit sensor EEWS di wilayah Banten. Dan selanjutnya sudah direncanakan akan dipasang 190 unit sensor yang akan disebar di Sumatera Barat, Lampung,  Jawa Barat dan Banten,” ucapnya lebih lanjut.

Sistem ini diharapkan dapat menurunkan potensi korban jiwa dan juga mengamankan objek vital berbasis respon informasi.

“Konsep ini bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu tiba gelombang P –  Pressure yang datang lebih awal dan gelombang S –  Shear yang datang beberapa detik kemudian. Menurut penelitian, golden time selama tiga detik, akan mampu menurunkan korban jiwa hingga 14 persen,  10 detik menurunkan hingga 39 persen dan 20 detik menurunkan hingga 63 persen,” pungkasnya.

Lihat juga...