BNPB Ingatkan Banjir-Longsor Mengancam hingga 2020 

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo, memprediksi ancaman bencana pada 2020 mendatang tidak akan berbeda dengan bencana yang terjadi pada 2019. Banjir, longsor, puting beliung, masih akan menjadi ancaman, di samping erupsi gunungapi dan bahaya gempabumi.

“Banjir, longsor dan puting beliung masih akan menjadi bencana yang paling sering terjadi, melihat bulan Januari memasuki musim hujan,” kata Kepala BNPB, Doni Monardo, saat Refleksi Bencana Tahun 2019 dan Proyeksi Bencana 2020 di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (30/12/2019).

Menurut Doni, diperkirakan curah hujan pada 2020 puncaknya terjadi pada Januari, potensi sangat tinggi terjadi banjir dan longsor serta puting beliung. Dan, peta bahaya banjir tersebar di seluruh wilayah Indonesia, yakni di 499 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang sampai tinggi.

“Dari 499 daerah tersebut, jumlah penduduk yang terpapar dari bahaya sedang hingga tinggi sebanyak 63,7 juta jiwa. Sementara untuk bahaya longsor terdapat di 441 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang hingga tinggi, dengan jumlah penduduk terpapar dari bahaya sedang hingga tinggi sebanyak 40,9 juta jiwa,” ungkapnya.

Untuk bahaya gempa dan tsunami, merupakan peristiwa yang terulang, sehingga prediksi gempa dan tsunami tidak bisa diprediksi. Namun, kesiapan menghadapi bahaya gempa dan tsunami merupakan hal yang harus disosialisasikan kepada masyarakat, agar korban dan kerugian yang terjadi akibat gempa bisa diminimalkan.

“Untuk ancaman erupsi gunungapi, tentu harus diwaspadai, kita tahu di Indonesia terdapat 127 gunung aktif atau 13 persen gunungapi dunia. Terdapat 75 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang hingga tinggi dari erupsi gunungapi di Indonesia, dan 3,5 juta penduduk terpapar oleh bahaya sedang hingga tinggi di daerah erupsi gunungapi,” jelasnya.

Penanaman pohon di daerah terdampak bencana, merupakan salah satu untuk mencegah terjadinya bencana banjir dan longsor. Sedangkan untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, kata Doni, ada beberapa langkah, antara lain mengembalikan kodrat gambut dengan mengubah perilaku, memberikan penyuluhan terpadu dan terintegrasi untuk tingkatkan ekomoni masyarakat, pembentukan satgas pencegahan dan penanggulangan satu komando.

“Katana atau keluarga tanggung bencana merupakan program yang kita bangun, dengan berpengetahuan, keluarga harus diberikan pengetahuan tentang ancaman dan risiko bencana serta cara menghindari dan mencegahnya. Lalu, sadar, menyadari bahwa tinggal di wilayah rawan bencana dan perlu menyesuaikan, seperti membangun rumah tahan gempa dan lain-lain,” ungkapnya.

Selanjutnya, kata Doni, kelurga tangguh bencana adalah berbudaya, dengan berperilaku selaras dengan prinsip pengurangan risiko bencana, seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam dan merawat pohon dan lainnya.

“Dan, yang terakhir adalah tangguh bencana, di mana selalu siap siaga menghadapi bencana, mampu menghindari dan pulih dari dampak bencana,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, mengatakan bencana yang terjadi pada 2019 lebih banyak dibandingkan 2018. Berdasarkan data BNPB, hingga 27 Desember 2019 tercatat ada 3.768 bencana yang terjadi di Indonesia.

“Sedangkan pada 2018 tercatat 3.397 bencana alam. Jadi, secara umum tren bencana meningkat dari tahun sebelumnya,” katanya.

Agus memaparkan, bencana hidrometeorologi menjadi yang paling banyak terjadi pada 2019, sebanyak 3.731 peristiwa. Bencana tersebut meliputi puting beliung 1.370 peristiwa, banjir 764 peristiwa, serta kebakaran hutan dan lahan 746 peristiwa.

“BPNBP mencatat, bencana alam yang paling banyak terjadi tahun 2019 adalah puting beliung. Sejak 2014 hingga pertengahan 2019, bencana puting beliung sudah terjadi sebanyak 4.551 kasus,” ujarnya.

Lihat juga...