BPS Malang Sosialisasikan Sensus Penduduk kepada Mahasiswa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Badan Pusat Statistik (BPS) kota Malang terus melakukan sosialisasi kepada para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi terkait pelaksanaan Sensus Penduduk (SP) 2020 demi terwujudnya Satu Data Kependudukan Indonesia.

Kepala BPS kota Malang, Drs. Sunaryo, M. Si, menyampaikan, undang-undang di Indonesia telah mengamanatkan bahwa setiap tahun berakhiran angka 0 (nol), negara wajib melaksanakan sensus penduduk.

Kepala BPS kota Malang, Drs. Sunaryo, M. Si, menjelaskan terkait SP2020 di auditorium teknik sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema), Senin (9/12/2019). Foto: Agus Nurchaliq

Tidak hanya untuk mencatat jumlah, tetapi juga distribusi, komposisi, dan karakteristik sosial ekonomi penduduk.

“Hasil sensus penduduk ini nantinya bisa digunakan merencanakan penyediaan pangan, infrastruktur, sarana pendidikan dan perencanaan di segala bidang,” ujarnya di sela sosialisasi SP2020 di auditorium teknik sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema), Senin (9/12/2019).

Lebih lanjut disampaikan Sunaryo, dalam pelaksanaan SP2020, metode pengumpulan data dilakukan melalui dua cara yakni Sensus Penduduk Online (SPO) yang bisa diakses melalui laman resmi BPS selama 15 Februari 2020 sampai dengan 31 Maret 2020 dan Sensus Penduduk Wawancara (SPW) yang akan dilakukan selama bulan Juli 2020.

Menurutnya, metode SPO nantinya akan meringankan beban petugas wawancara dalam melakukan survei.

“Kami melakukan sosialisasi SP 2020 ke kampus-kampus karena mahasiswa kita anggap sebagai agen perubahan, yang diharapkan bisa turut mensosialisasikan sensus penduduk online kepada teman-teman, keluarga maupun lingkungan sekitar,” terangnya.

Ada tujuh perguruan tinggi yang disasar yang memiliki jumlah mahasiswa cukup besar diantaranya UB, UMM, Unisma, UIN, Unmer dan juga Polinema.

Sunaryo menargetkan, SPO kota Malang bisa mencapai di atas rata-rata nasional atau kota yang lainnya.

“Harapan kami, kota Malang sebagai kota pendidikan angka SPO bisa di atas rata-rata nasional sekitar 23 persen. Jadi saya tidak menargetkan secara kuantitatif tapi saya berusaha maksimal dengan menyasar pangsa mahasiswa,” imbuhnya.

Disampaikan Sunaryo, jika masyarakat tidak melakukan sensus penduduk secara online maka namanya akan muncul karena datanya belum lengkap dan harus dikunjungi oleh petugas lapangan yakni petugas wawancara.

Tapi kalau sudah online, tidak perlu didatangi lagi oleh petugas wawancara. Cukup dicek oleh ketua RT.

“Mahasiswa harus didorong beserta civitas akademika dan masyarakat yang lain termasuk karyawan perusahaan dan semua yang tinggal di Malang kalau punya Android lebih baik mengisi dengan sensus mandiri secara online,” ujarnya.

Wakil Direktur III Polinema, Dr. Eng. Anggit Murdani, S.T, M. menyampaikan, dengan melakukan sensus penduduk 2020 berarti masyarakat telah ikut berkontribusi pada bangsa, karena sensus penduduk merupakan kegiatan yang sangat penting. Dengan SP dapat menggali berbagai informasi yang ada terkait semua aspek kehidupan di negara Indonesia.

“Dengan melibatkan mahasiswa, harapannya mahasiswa Polinema bisa menjadi agen pelopor untuk mensukseskan sensus penduduk. Setidaknya ada 150-200 siswa yang mengikuti sosialisasi SP2020 dari setiap kelas di semua program studi dan jurusan. Nanti mereka bisa menyampaikan ke teman-temannya maupun ke keluarganya untuk menyebarluaskan informasi yang disosialisasikan oleh BPS terkait SP2020,” pungkasnya.

Lihat juga...