hut

BSSN: Migrasi Teknologi Sebabkan Banyak Hoaks

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol. Dharma Pongrekun, mengakui maraknya hoaks yang terjadi di berbagai negara termasuk di Indonesia akibat adanya migrasi teknologi yang dimainkan oleh pihak pihak tertentu.

“Sebelum kemajuan teknologi hoaks atau ujaran kebencian masih sangat jarang,” ujar Pongrekun, usai menghadiri seminar bertajuk keamanan siber di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya di Bekasi Jawa barat, Senin (2/12/2019).

Dikatakan soal radikalisme di berbagai belahan negara termasuk Indonesia banyak terjadi setelah adanya migrasi menuju tekhnologi di era globalisasi sekarang. Untuk itu harus membentengi diri, sehingga perlu diwaspadai kedepan.

Menurutnya teknologi seperti gadget sekarang selalu ada digenggaman masyarakat. Dan sangat gampang bekerja masif penyebaran informasinya secara bersamaan yang terkadang tanpa disadari sulit terkontrol.

Sehingga imbuhnya perlu proteksi atau perlindungan diri secara personal termasuk proteksi bagi suatu negara bahkan penyebaran hoaks tentu ada pihak yang ingin memecah belah tatanan di suatu negara.

Dijelaskan Pongrekun, pihaknya juga mendorong kepada universitas bersama pemrintah untuk saling bersinergi mengembangkan sistem teknologi sekaligus memperkuat penelitian dan pengembangan guna mencegah serangan ataupun kejahatan siber demi keutuhan bangsa dan negara jangan sampai terjadi kembali kolonialisasi di era globalisasi.

Seminar yang bertemakan “International Conference On New Security Challenges Facing Cyber Threats From Multidisciplinary Approach” dihadiri ratusan mahasiswa serta menghadirkan narasumber dari akademisi tujuh negara.

Julian Thamrin selaku Ketua panitia mengatakan, dengan adanya seminar internasional ini, dirinya berharap bisa mengedukasi kaum milenial terkait bahaya penggunaan gadget di era globalisasi.

“Kita mendatangkan tujuh narasumber dari berbagai negara, agar bisa saling share mengenai pengamanan dan kejahatan siber dinegara masing masing,” ungkap Julian Thamrin.

Turut hadir dalam seminar perwakilan dari enam negara seperti Vietnam, Malaysia, Amerika dan Singapura. Mereka pun memiliki tujuan yang sama, menerapkan sistem ataupun regulasi dalam mencegah dari kejahatan siber. Terlebih seminar tersebut juga fokus terhadap keamanan siber dari sudut pandang hukum , ekonomi, serta politik.

Lihat juga...