Buka Jalan Ternak Peliharaan, Warga Sumba Timur Gali Lereng

Editor: Makmun Hidayat

WAINGAPU — Ada yang tampak unik saat berada di wilayah pedesaan di Pulau Sumba, seperti halnya di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di daerah perbukitan pada lereng-lereng tebingnya dijumpai lubang-lubang.

Dalam lubang selebar sekitar satu meter tersebut yang membentang dari wilayah tanah lapang di perbukitan padang savana menuju ke arah lembah,  terdapat sumber air atau dialiri kali-kali berukuran kecil.

“Lubang-lubang ini digali warga sebagai jalan bagi ternak sapi, kerbau atau kuda milik warga,” kata Paulus Renggi Nggani warga Desa Wanga Kecamatan Umalulu, Sumba Timur,  Senin (16/12/2019).

Menurut Paulus, warga di Pulau Sumba termasuk di Sumba Timur biasanya melepas ternak mereka di padang-padang savana yang berada di daerah perbukitan yang rata.

Sementara di daerah lembah yang juga terdapat tanah lapang dijadikan warga sebagai lahan kebun atau sawah karena berada di dekat kali-kali kecil atau sungai yang selalu terdapat air.

“Lubang-lubang dibuat agar memudahkan ternak-ternak peliharaan digiring ke wilayah lembah untuk minum air di kali dan dikandangkan oleh pemiliknya yang tinggal di lembah,” terangnya.

Bila pemilik ternak menetap di daerah perbukitan, kata Paulus, maka otomatis kandang ternaknya pun berada di bukit sehingga usai minum air, ternak peliharaan akan digiring melewati jalan tersebut kembali ke bukit.

Kalau pemilik ternak menetap di lembah,  maka sehabis minum air saat sore hari ternak akan dikandangkan dan pagi harinya baru digiring kembali menuju perbukitan untuk memakan rumput di padang savana.

“Memang  sulit membuat lubang sebagai jalannya ternak-ternak ini karena rata-rata tanah di Pulau Sumba merupakan tanah kapur dan keras. Biasanya lubang digali saat musim hujan biar lebih mudah,” ujarnya.

Bandaria Lamuru warga Desa Patawang, Umalulu, Sumba Timur, NTT, saat ditemui di desanya, Senin (16/12/2019). -Foto Ebed de Rosary

Bandaria Lamuru, warga Desa Patawang, Kecamatan Umalulu, menjelaskan, ternak para bangsawan atau keturunan raja jumlahnya ratusan ekor baik sapi, kerbau maupun kuda dan ada petugas yang mengembalakannya.

Petugas yang mengembalakannya biasanya berjumlah lebih dari satu orang karena ternaknya banyak sekali dan kadang dibiarkan saja berada di padang savana karena jumlahnya sangat banyak.

“Saat siang dan sore hari para pengembala akan menggiring ternak mereka untuk minum air. Banyaknya ternak membuat petugas terkadang kesulitan menjaga apalagi pencurian ternak sering terjadi di Sumba,” pungkasnya.

Lihat juga...