Desa Pelosok di Sumba Timur Butuh Pembangunan Jalan

Editor: Koko Triarko

WAINGAPU – Wilayah kecamatan dan desa di kabupaten Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, letaknya berjauhan sehingga untuk menjangkaunya dibutuhkan sarana jalan yang memadai. Bahkan, sejumlah wilayah di kabupaten ini letaknya terpisah oleh perbukitan yang merupakan padang savana, sehingga praktis hanya ada jalan tanah yang menghubungkan setiap desa.

“Hampir semua jalan menuju ke setiap desa masih berupa jalan tanah kapur,” kata Umbu Kamba Raja, warga desa Kamanggih, kecamatan Kahaungu Eti, kabupaten Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (14/12/2019).

Dikatakan Umbu Kamba, semua jalan tersebut merupakan jalan kabupaten sehingga lebarnya pun hanya sekitar 2,5 meter, dan hanya cukup untuk dilewati satu kendaraan saja.

Untuk mencapai ibu kota kecamatan di Kamanggih sudah banyak ruas jalan yang diaspal, tetapi selepas desa Kamanggih yang berjarak sekitar 50 kilometer dari kota Waingapu, masih merupakan jalan tanah.

“Hampir semua jalan tanah dan medannya sulit, sehingga mungkin ini yang menyebabkan perusahaan yang melakukan pengaspalan jalan harus benar-benar memahami topografinya,” ungkapnya.

Bahkan, untuk menjangkau setiap desa, hampir tidak ada angkutan umum yang lewat sehingga warga biasanya mengendarai sepeda motor dan berjalan kaki untuk menjual hasil pertanian dan perkebunannya.

Hal ini membuat warga di kecamatan ini masih banyak yang terisolasi dan sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, sehingga pemerintah harus memikirkan untuk membangun jalan.

“Harus dipikirkan bagaimana caranya agar bisa membangun jalan ke desa-desa, baik menggunakan dana dari pemerintah pusat atau kabupaten, maupun bisa menggunakan dana desa,” ungkapnya.

Dedy Holo, warga lain di Sumba Timur, mengatakan hampir semua jalan di kabupaten Sumba Timur kondisinya sangat mengenaskan, dan masih berupa jalan tanah berkapur.

Menurut Dedy, hanya jalan di daerah pantai selatan Sumba Timur yang kondisinya sudah lebih bagus, karena sebagian besar sudah diaspal atau di-hotmix, sehingga kendaraan bisa melewatinya.

“Makanya banyak orang dari luar Sumba kalau ke desa sering tidak mau, karena kondisi jalannya sangat memprihatinkan dan menantang. Di kiri kanan jalan terdapat jurang,” ungkapnya.

Menurut Dedy, topografi Sumba Timur yang merupakan perbukitan membuat pembangunan jalan melewati lereng-lereng bukit dan saat musim hujan, jalan tak bisa dilewati kendaraan.

Saat hujan, jalan akan licin, apalagi kondisi jalan menananjak dan menurun dan berada persis di tebing dan di sampingnya terdapat jurang yang dalam.

“Kalau dahulu nenek moyang orang Sumba hanya mengandalkan kuda sebagai transportasi untuk ke setiap wilayah maupun ke kota Waingapu, untuk menjual hasil pertanian. Perjalanannya pun butuh waktu berjam-jam,” terangnya.

Lihat juga...