Disperpusip Magelang Sediakan Buku bagi Warga Lapas

MAGELANG  – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Magelang menyediakan berbagai buku bacaan untuk para warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II/A Magelang guna memperluas wawasan dan bekal mereka ketika sudah keluar dari masa tahanan.

“Diharapkan melalui buku-buku ini dapat menambah pengetahuan warga lapas. Sekaligus bisa dijadikan bekal ketika mereka sudah bebas nanti, sehingga menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya serta berwawasan luas,” kata staf Perpustakaan Kota Magelang, Sodikun, di Magelang, Senin.

Kerja sama Disperpusip Kota Magelang dan Lapas Kelas II/A Magelang terkait dengan penyediaan buku bacaan sebagai bagian dari upaya bersama menanamkan budaya membaca kepada masyarakat, terutama warga lapas setempat.

Sejak beberapa tahun terakhir, Disperpusip Kota Magelang mengirim secara rutin buku-buku bacaan ke lapas setempat untuk dimanfaatkan warga binaan.

Ia menyebut buku-buku yang dikirim ke lapas disesuaikan kebutuhan warga binaan, seperti tentang psikologi, agama, sosial, teknik, keterampilan, dan fiksi.

Salah satu pegawai Lapas Kela IIA Magelang, Tri Yoga, mengatakan sejak 13 tahun terakhir pihaknya bersinergi dengan Perpustakaan Kota Magelang terkait dengan pengiriman dan peminjaman buku-buku bacaan untuk warga binaan.

Kerja sama itu, katanya dalam keterangan tertulis Humas Pemkot Magelang, mendukung penguatan psiokologis warga binaan lapas setempat.

Buku bacaan yang konstruktif, ujarnya, juga salah satu sarana hiburan bagi warga binaan.

“Warga binaan sangat antusias mendapatkan pinjaman buku-buku ini. Ada yang membaca kitab suci, buku motivasi, agama, eletro, pertanian, dan lainnya. Tapi minat tertinggi tetap pada buku fiksi,” ujarnya.

Saat ini, Lapas Kelas II/A Magelang sudah memiliki perpustakaan berskala mini dengan koleksi bacaan yang relatif terbatas.

Ia mengharapkan kerja sama pihaknya dengan Disperpusip Kota Magelang itu bermanfaat bagi warga binaan dalam menambah wawasannya.

“Meski secara fisik terpenjara, namun mereka masih berhak untuk tetap mendapatkan akses informasi dan pengetahuan. Dengan literasi, harapannya mereka mendapatkan motivasi diri dan memperkuat ilmu agama untuk berubah menjadi lebih baik,” katanya. (Ant)

Lihat juga...