Dolar AS Naik Terhadap Yen Jepang

NEW YORK – Dolar AS melonjak ke dekat tertinggi dua minggu terhadap ‘safe-haven’ yen Jepang pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), di tengah laporan, bahwa Amerika Serikat (AS) telah mencapai kesepakatan prinsip pada perdagangan dengan Cina, hanya beberapa hari sebelum tarif baru AS untuk impor barang Cina akan diberlakukan.

Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan perdagangan “fase-satu” dalam prinsip dengan Cina, sebuah sumber yang diberitahu tentang pembicaraan antara kedua negara pada Kamis (12/12/2019), mengatakan pernyataan dari Gedung Putih diharapkan segera.

Laporan ini mengikuti komentar Presiden AS Donald Trump dari awal sesi, ketika dia mengatakan Amerika Serikat “sangat dekat” untuk menyelesaikan kesepakatan dengan Cina.

Terhadap yen Jepang, yang cenderung menarik investor selama masa tekanan geopolitik atau finansial karena Jepang adalah negara kreditor terbesar di dunia, dolar naik 0,75 persen menjadi 109,35 yen, tertinggi sejak 2 Desember.

Terhadap yuan Cina di luar negeri, dolar turun 1,06 persen ke level terendah satu bulan. “Kami telah melihat reaksi risk-on (pengambilan risiko) yang kuat di pasar valas,” kata Ahli Strategi Valas di UBS Vassili Serebriakov, New York.

Investor telah mengawasi pembicaraan perdagangan AS-Cina untuk melihat, apakah AS akan mengenakan tarif hampir 160 miliar dolar AS pada barang-barang konsumen Cina pada 15 Desember.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,3 persen.

Kekuatan Kamis (12/12/2019) membantu dolar merebut kembali sebagian besar yang hilang pada Rabu (11/12/2019), setelah Federal Reserve (Fed) mempertahankan suku bunga stabil dan mengatakan kenaikan inflasi yang signifikan dan persisten diperlukan untuk menaikkan suku bunga lagi.

Euro diperdagangkan 0,11 persen lebih rendah terhadap dolar, setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar pada pertemuan pertama Christine Lagarde, sebagai ketua ECB pada Kamis (12/12/2019).

“Ini cukup banyak status quo dalam banyak hal,” kata Direktur Pengelola Valas Jefferies, Brad Bechtel, di New York.

Pound Inggris mundur dari tertinggi sembilan bulan pada Kamis (12/12/2019), karena investor membukukan keuntungan dari reli baru-baru ini, jika hasil pemilu Inggris mengejutkan di kemudian hari. Sterling 0,28 persen lebih rendah terhadap dolar.

Para pemilih menuju ke tempat-tempat pemungutan suara dalam pemilihan yang akan membuka jalan bagi Brexit di bawah Perdana Menteri Boris Johnson, atau mendorong Inggris menuju referendum lain yang pada akhirnya dapat membalikkan keputusan untuk meninggalkan Uni Eropa.

Pemungutan suara berakhir pada 2200 GMT (17.00 waktu setempat), dengan hasil jajak pendapat keluar dan hasil awal setelah itu. Pedagang memperkirakan hasil tercepat 03.00 GMT pada Jumat (22.00 pada Kamis). (Ant)

Lihat juga...