hut

Dosen Harus Melek ‘IoT’

JAKARTA – Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ali Ghufron Mukti, mengatakan, pogram daring atau dalam jaringan harus terus dikembangkan.

“Perguruan tinggi (PT) harus mengembangkan program studi daring, sehingga mahasiswa bisa mendapatkan perkuliahan tanpa harus datang ke kampus,” ujar Ghufron, dalam pembukaan pertemuan profesor kelas dunia di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Karena itu, dosen harus melek atau memiliki kemampuan terhadap perkembangan internet of things (IoT) maupun Revolusi Industri 4.0. Ghufron menjelaskan, bahwa proses pembelajaran harus diubah, dan arahnya pada pemanfaatan teknologi.

“Jadi lebih ke arah pemanfaatan teknologi. Ini proses pembelajaran yang sangat gampang. Misalnya, kalau di Universitas Trisakti dari rumah sudah bisa akses perpustakaan. Pinjam buku atau perpanjangan sudah bisa diakses dari kamar tidur,” ujar dia.

Ghufron juga meminta agar pengelola perguruan tinggi bisa mengantisipasi pendidikan pada Era 4.0 tersebut. Pasalnya, sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat mengalami kebangkrutan karena terlambat dalam mengantisipasi perkembangan teknologi yang ada.

“Saat ini belum banyak yang mengantisipasi. Kalau pun ada, masih pada program studi daring dibandingkan perguruan tinggi daring. Sebetulnya ini beda antara pemberian kuliah secara daring dan prodi daring. Kalau prodi daring itu punya izin tersendiri, izinnya dipermudah. Namun, masih belum banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki prodi daring,” kata Ghufron.

Ghufron menambahkan, sejumlah perguruan tinggi sudah melakukan antisipasi, namun masih banyak juga yang belum. Penyebab utamanya, mulai dari infrastruktur, investasi, izin, hingga kesiapan dosen dan mahasiswanya.

Ke depan, Ghufron berharap makin banyak perguruan tinggi di Tanah Air dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Ant)

Lihat juga...