Harga Durian di Lamsel Stabil Meski Produksi Turun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kemarau panjang menyebabkan produktivitas buah durian di Lampung Selatan, menurun. Pedagang pun mengalami kelangkaan stok. Namun, kondisi tersebut tak serta-merta membuat harga jual buah durian mengalami kenaikan.

Ferry, pedagang musiman buah durian di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut pasokan berasal dari sejumlah kecamatan yang mengalami masa panen, di antaranya durian jenis keong, ketan, petruk dan montong.

Menurut Ferry, pembuahan pada tahun ini terkendala cuaca panas. Sejumlah pemilik pohon durian yang masih berbuah umumnya berada di kaki Gunung Rajabasa dan dekat aliran air. Penurunan produksi durian tersebut membuat pedagang durian yang kerap menjamur di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), berkurang.

Ferry mendapatkan pasokan buah durian sebagian dari wilayah Lamsel dan Tanggamus. Sistem tebas atau membeli dari pohon di wilayah Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, membuat ia bisa menjual dalam jumlah banyak.

Durian ketan asal Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan, Jumat (7/12/20109). -Foto: Henk Widi

“Pada musim tahun ini, satu pohon rata-rata hanya menghasilkan sekitar 100 buah dari semula sekitar 250 buah per pohon,” kata Ferry, saat ditemui Cendana News di tepi Jalan Lintas Sumatra, Sabtu (7/12/2019).

Namun, kata Ferry, produksi buah yang menurun tidak mengakibatkan harga jual buah durian melonjak, karena konsumen memilih membeli durian dalam jumlah terbatas.

Menurut Ferry, durian jenis ketan dan keong dengan ciri khas warna kuning seperti mentega banyak diminati. Ia menjual buah durian menyesuaikan ukuran, kecil, sedang hingga besar. Buah durian dijual Rp30.000 hingga Rp60.000 per buah, sebagian dijual dengan sistem gandengan. Proses mencicipi buah dilakukan dengan membelah atau menusuk daging buah sebelum dibeli konsumen.

Ferry menyebut, harga jual buah durian yang stabil meski pasokan minim, karena konsumen didominasi konsumen lokal. Sejak Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) beroperasi dari Bakauheni hingga Sumatra Selatan, pengendara yang melalui Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) berkurang. Ia bahkan memilih menjual durian dengan harga stabil, agar tetap mendapat keuntungan.

“Konsumen berasal dari Jakarta, Banten dan Jawa Barat, mulai sepi melalui Jalinsum, membuat pedagang buah lokal  ikut terdampak,” beber Ferry.

Sebagian buah yang tidak laku terjual, menurut Ferry, kerap dibeli oleh pembuat kuliner tempoyak.

Yanti, salah satu pembeli asal Penengahan, mengaku membeli buah durian yang berukuran kecil dan sebagian tidak terjual. Penyuka kuliner sambal tempoyak itu, menyebut daging buah durian yang memiliki rasa hambar atau tidak manis kerap tidak terjual.

“Konsumen kerap hanya membeli buah durian yang manis, sehingga tersisa durian yang hambar, dan dijadikan bahan tempoyak,” ungkap Yanti.

Buah durian yang tidak terjual, kerap dibeli hanya dengan harga Rp15.000 hingga Rp20.000. Setelah dikupas dan dipisahkan daging buah dengan biji, durian akan disimpan dalam toples kedap udara. Daging buah durian difermentasi dengan cabai merah, terasi, garam dan bisa digunakan sebagai sambal setelah disimpan selama dua pekan. Sambal tempoyak menjadi pelengkap kuliner ikan bakar dan pindang patin.

Jemu, pengepul buan durian lain di Desa Pasuruan, mengaku harus berburu ke kabupaten lain. Sebagian buah durian diperoleh dari wilayah Lamsel untuk dijual kembali secara eceran. Musim kemarau membuat hasil buah durian yang dibeli dari petani mengalami penurunan.

Sekali membeli dengan sistem menebas pohon, ia bisa mendapatkan sekitar 5.000 buah.

“Saat musim kemarau, saya hanya bisa menebas sekitar 3.000 buah dipetik secara serentak sebelum matang,” bebernya.

Sistem pemeraman memakai daun leresede, belerang, daun pisang, membuat durian matang dalam waktu empat hari. Buah durian yang sudah diperam selanjutnya akan disortir sesuai tingkat kematangan. Buah durian yang sudah matang akan dijual dengan sistem keliling memakai mobil.

Penjualan buah durian dengan harga stabil, menurutnya menjadi cara menjual buah sebanyak mungkin. Sebab, dengan harga yang lebih mahal ia justru tidak bisa menjual buah durian hingga habis.

Sebagian buah durian yang matang melalui proses pemeraman, disebutnya memiliki rasa manis yang serupa dengan buah matang di pohon. Meski demikian, buah matang di pohon kerap pecah pada bagian kulit sehingga lebih cepat busuk.

Menjual buah durian dalam jumlah banyak, membuat ia bisa menjual mulai harga Rp20.000 hingga Rp50.000 per buah. Konsumen bisa memilih buah durian berbagai ukuran dan jenis.

Pematangan buah durian dengan sistem peram, menurut Jemu membuat kulit durian masih terlihat hijau, meski daging buah cukup manis.

Selain dikonsumsi langsung, buah durian kerap dibeli sebagai bahan pembuatan kuliner sop durian dan tempoyak melalui proses fermentasi.

Lihat juga...