Hindari Senggolan Kapal, Gapasdap Imbau Pilih Lokasi Sandar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Insiden senggolan tiga kapal roll on roll off (Roro) di perairan pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) jadi perhatian sejumlah operator kapal.

Sebelumnya diberitakan Cendana News usai senggolan pada Sabtu (30/11/2019) KMP Amarisa, KMP Nusa Agung dan KMP Suki 2 menjalani pemeriksaan oleh Marine Inspector Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Bakauheni.

Warsa, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC Gapasdap) Bakauheni menyebut insiden kapal senggolan dipastikan murni akibat cuaca.

Warsa, kepala Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Cabang Bakauheni, Lampung Selatan di kantornya, Rabu (4/12/2019) – Foto: Henk Widi

Ketiga kapal disebutnya telah mendapat pemeriksaan dari marine inspector dengan keputusan perbaikan pada sejumlah bagian. KMP Amarisa yang rusak pada bagian pagar kapal, bow viser (bagian haluan kapal), KMP Nusa Agung rusak bagian pagar menjalani perbaikan.

Kerusakan pada KMP Suki 2 pada bagian ramdoor kapal mengharuskan kapal tersebut menjalani perbaikan (docking). Ketiga kapal yang mengalami senggolan disebutnya berada pada area labuh sandar (anchor) perairan Selatan Bakauheni.

Saat kejadian arus bawah laut cukup kuat berimbas kapal terseret arus (larat). Kecepatan arus yang kencang disebutnya kerap terjadi di perairan Bakauheni pada waktu tertentu menyesuaikan arah angin.

“Lokasi labuh sandar kapal yang masuki jadwal anchor menunggu pelayanan ada di area antara Pulau Sindu dan Pulau Kandang Balak. Imbasnya potensi larat terbawa arus cukup besar sehingga perlu diwaspadai operator kapal,” ungkap Warsa saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (4/12/2019).

Koordinasi dengan Ship Traffic Control (STC) dan operator kapal yang dilakukan oleh nahkoda lanjut Warsa sangat diperlukan. Sebab pada pertengahan November hingga awal Desember kondisi cuaca perairan di Selat Sunda kerap berubah.

Lokasi labuh sandar di bagian Selatan Pelabuhan Bakauheni diakuinya berhadapan dengan laut lepas. Meski ada penghalang sejumlah pulau, kondisi tersebut berimbas kapal berpotensi larat.

Meski insiden tiga kapal senggolan telah diperiksa marine inspector KSOP Bakauheni, beruntung tidak ada korban. Kerusakan pada bagian kapal disebutnya telah didiskusikan dengan tiga operator pemilik kapal yang terlibat insiden senggolan.

Selain tidak ada korban kejadian kapal senggolan menurut Warsa terjadi saat kapal tidak dalam jadwal pelayanan sehingga tidak membawa penumpang.

Insiden tersebut diakui Warsa tidak akan mempengaruhi operasional kapal roro di Lintas Bakauheni-Merak. Sejumlah kapal yang sudah menjalani rampcheck atau uji petik oleh KSOP, BPTD disebutnya laik laut untuk angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Sebanyak 68 kapal yang disiagakan dipastikan 65 diantaranya siap operasi pada angkutan libur Natal dan Tahun Baru. Rata-rata per hari kapal dioperasikan sebanyak 27 hingga 30 kapal.

“Usai perbaikan tiga kapal yang senggolan bisa kembali ke lintasan sesuai jadwal yang ditentukan,” beber Warsa.

Insiden senggolan kapal juga menjadi perhatian Yus Sondakh, Asisten Manager Operasional PT. Windu Karsa. Pemilik kapal Windu Karsa Pratama dan Adinda Windu Karsa tersebut mengaku perusahaan mengimbau nahkoda memilih lokasi labuh sandar yang tepat.

Yus Sondakh, Asisten Manajer Operasional PT Windu Karsa mengimbau nahkoda kapal memilih lokasi labuh sandar tepat sesuai kondisi cuaca hindari insiden, Rabu (4/12/2019) – Foto: Henk Widi

Pada musim angin selatan ia menyebut nahkoda kapal di bawah bendera Windu Karsa diimbau agar menjaga jarak aman dengan kapal lain.

“Lokasi labuh sandar yang aman saat angin selatan berada di sekitar pulau Rimau Balak di timur Desa Ruguk karena angin dan arus terhalang pulau,” tegas Yus Sondakh.

Meski insiden dipengaruhi oleh cuaca perairan, antisipasi menurutnya bisa dilakukan dengan membaca prakiraan BMKG Maritim. Selain itu sejumlah nahkoda bisa melakukan pembacaan kondisi cuaca melalui peralatan navigasi yang ada.

Ia juga berharap pihak terkait seperti STC dan BPTD bisa mengarahkan nahkoda saat labuh sandar sesuai kondisi cuaca. Imbauan bisa dilakukan melalui channel 16 dan sarana komunikasi lain.

Lokasi labuh sandar saat jadwal kapal istirahat menurutnya berada di luar alur masuk dan keluar pelabuhan. Antisipasi larat akibat arus kencang bawah air oleh sejumlah nahkoda menghindari insiden yang berimbas kerusakan pada bagian kapal.

Selain itu kondisi prima semua kapal di lintasan penyeberangan Selat Sunda mutlak disiapkan agar bisa melayani angkutan liburan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Lihat juga...