Hujan Sebabkan Usaha Teri Ikan Asin Terganggu

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hujan yang mulai turun di wilayah Lampung Selatan (Lamsel), berimbas pada sektor usaha pengawetan teri dan ikan asin. Selain proses pengeringan menjadi terkendala, kelembapan udara di saat hujan juga menyebabkan timbulnya jamur pada ikan teri.

Sobri, pemilik usaha pengawetan teri ikan asin dengan proses perebusan, menyebut hujan yang mulai turun sejak sepekan terakhir menyebabkan proses pengeringan memanfaatkan sinar matahari menjadi terkendala.

Menurutnya, hujan yang turun berimbas sebagian ikan teri, ikan asin yang direbus menggumpal. Jenis teri lumpur, teri jengki yang telah dijemur dan terkena air, kerap mengalami kerusakan imbas hujan. Meski telah dilakukan penjemuran ulang, sebagian ikan teri yang sudah terkena air hujan remuk dan memiliki kualitas rendah. Selain remuk imbas hujan, potensi ikan asin berjamur cukup tinggi saat musim penghujan tiba.

Teri yang menggumpal akibat terkena air hujan, Sabtu (7/12/2019) -Foto: Henk Widi

Tempat pengeringan atau senoko dari bambu, waring, menurutnya harus ditutup dengan memakai plastik. Namun penutupan dengan plastik dalam jangka lama berimbas ikan rentan terkena jamur, bahkan membusuk. Padahal, proses pengawetan teri dan ikan asin dari ikan japuh, selar, pepirik dilakukan melalui proses perebusan memakai garam. Hujan yang kerap berlangsung lebih dari satu jam membuat pengeringan tertunda.

“Hujan yang turun kerap tidak menentu waktunya bisa sejak pagi atau siang, namun kondisi senoko berisi teri, ikan asin sudah berada di para para, sehingga persiapan penutup plastik harus disediakan agar segera bisa ditutup saat hujan turun,” kata Sobri, saat ditemui Cendana News, Sabtu (7/12/2019).

Pengaruh hujan pada kualitas teri ikan asin rebus, menurut Sobri akan terlihat secara kasat mata. Saat pengawetan, ikan selama musim kemarau, kualitas ikan yang dihasilkan lebih baik ditandai warna putih yang cerah.

Saat penghujan, meski penjemuran telah dilakukan berulang kali, namun imbas udara lembab air hujan, teri dan ikan asin yang diawetkan memiliki warna yang kusam dan sebagian berjamur.

Terbatasanya tempat juga membuat ia tidak bisa melakukan pengeringan di area terbuka tanpa terkena air hujan. Terlebih pada saat hasil tangkapan teri melimpah, usaha pengawetan teri dan ikan asin memproduksi sekitar 100 cekeng per hari.

Satu cekeng teri dengan rata-rata berat 10 kilogram saja, ia memproduksi 1 ton teri. Usai direbus dengan garam, teri akan dijemur pada senoko yang dihamparkan pada para para bambu.

“Kendala produsen pengawetan teri, saat hasil tangkapan melimpah berbarengan dengan musim penghujan,” beber Sobri.

Satu cekeng ikan teri basah., menurut Sobri dibeli dari nelayan dengan harga Rp200.000. Setelah melalui perebusan dan pengeringan, teri dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram jenis teri jengki. Jenis teri lumpur dijual Rp30.000 per kilogram. Jenis ikan asin yang juga tercampur pada proses pengeringan dijual seharga Rp25.000 per kilogram.

Bermodalkan sekitar Rp20 juta dari pembelian ikan teri basah, saat kering ia bisa mendapat hasil Rp36 juta. Dengan rata-rata teri kering yang telah dikeringkan menyusut sebanyak 1 ton, ia bisa mendapatkan teri kering 900 kilogram. Dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram, ia mendapatkan Rp36 juta. Hasil tersebut terjadi saat kondisi cuaca panas sempurna dan tanpa hujan.

“Saat hujan setelah proses sortir hasil teri kering bisa lebih sedikit, karena banyak yang terbuang dan mengurangi hasil penjualan,” beber Sobri.

Sistem pengawetan tradisional dengan garam melalui perebusan, menurut Sobri menjadi sumber penghasilan warga sekitar. Sejumlah pekerja bekerja mulai proses perebusan, penjemuran hingga penyortiran. Sejumlah pekerja rata-rata diupah sebesar Rp100.000 per hari, dan keperluan makan serta minum ditanggung.

Lihat juga...