Identifikasi Serangan Harimau, BKSDA Sumsel Perbanyak Trap

Tim BKSDA Sumsel, KPH dan pegiat konservasi harimau memasang kamera perangkap di Desa Muara Dua, Kabupaten Muara Enim, Jumat (27/12/2019) – Foto Ant

PALEMBANG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel), memperbanyak sebaran kamera perangkap (trap) dan box trap di daerahnya. Keberadaan kamera tersebut, untuk membantu mengidentifikasi keberadaan harimau.

Utamanya di lokasi-lokasi serangan harimau yang menewaskan warga. Kepala BKSDA Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan mengatakan, timnya bersama pegiat konservasi harimau dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) telah memasang enam kamera perangkap di enam lokasi. “Secara keseluruhan posisi harimau di lokasi-lokasi serangan belum teridentifikasi penuh, kami hanya mengindikasikan bahwa wilayah-wilayah itu masuk jelajah harimau, sebab jika serangan terjadi di hutan lindung itu wewenang KPH, BKSDA wewenanganya wilayah konservasi,” katanya, di Palembang, Sabtu (28/12/2019).

Catatan BKSDA Sumsel dua bulan terakhir ada beberapa serangan harimau. Serangan pertama terjadi di Tugu Rimau Gunung Dempo pada 16 November 2019 yang mengakibatkan seorang wisatawan bernama Irfan (19) terluka. Serangan kedua terjadi pada 17 November 2019 di Desa Pulau Panas Kabupaten Lahat, yang mengakibatkan seorang petani bernama Kuswanto (58) tewas.

Kemudian serangan ketiga pada 2 Desember 2019 di Desa Rimba Candi Kota Pagaralam. Serangan tersebut mengakibatkan seorang petani terluka, di lokasi tersebut warga juga melihat seekor anak harimau.

Serangan keempat menewaskan Mustadi (55), warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muaraenim pada 12 Desember 2019, dan serangan kelima menewaskan Suwadi (60), warga Kecamatan Mulak Ulu Kabupaen Lahat Sumatera Selatan pada 22 Desember 2019.

Serangan keenam dan paling terbaru, terjadi pada 27 Desember 2018 di Kecamatan Panang Enim, Kabupaten Muara Enim. Serangan tersebut menewaskan seorang wanita bernama Sulis (30). Lima serangan pada rentang 16 November – 22 Desember terjadi di kawasan hutan lindung. Sedangkan serangan terbaru di Kecamatan Panang Enim masih diperiksa terkait lokasi di dalam atau di luar hutan lindung.

Kamera perangkap juga dipasang di lokasi yang dilaporkan terdapat kemunculan harimau, seperti di Desa Muara Dua Kecamatan Semendo Dempo Laut Kabupaten Muara Enim. “Di Desa Muara Dua, kami memasang empat kamera trap dan 1 box trap usai laporan yang melihat adanya harimau di perkebunan warga,” tambah Genman.

Kamera perangkap tidak serta merta dapat menghalau harimau. Namun hasil rekaman kamera trap dapat digunakan untuk menentukan langkah konservasi terhadap harimau agar konflik segera diselesaikan. Sayangnya, dari kamera perangkap yang telah terpasang belum ada individu harimau yang berhasil terekam, hasil rekaman hanya mendapati aktifitas satwa yang menjadi mangsa harimau seperti babi hutan. “Kalau babi hutan berkeliaran di sekitar kamera trap, artinya posisi harimau sudah menjauh dari wilayah itu,” katanya.

Selain kamera prangkap yang sudah dipasang, BKSDA masih akan memasang sekitar tujuh kamera trap di beberapa lokasi yang diharapkan dapat dijumpai harimau. “Kami masih berkoordinasi dengan pegiat konservasi harimau terkait pencarian lokasi yang tepat agar citra individu harimau bisa didapatkan,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...