Indeks Kerukunan Beragama 2019 Alami Peningkatan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (kemenag) telah melakukan survei di 34 provinsi untuk mengetahui indeks kerukunan beragama (KUB) di Indonesia. Survei tersebut dilakukan terhadap 13.600 responden dan margin of error 4,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Menteri Agama RI Fachrul Razi mengatakan indeks KUB tahun ini berada di angka 73,80 secara nasional. Menunjukan bahwa kondisi kerukunan umat beragama berada pada kategori tinggi. Dia menilai, angka ini meningkat jika dibandingkan dengan indeks KUB tahun lalu sebesar 70,90.

“Tadi saya meluncurkan indeks KUB, nilai kita dibandingkan yang lalu spendnya 1-100 tinggi sekali, yakni 73,80,” kata Menag di kantor M.H Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (11/12/3019).

Namun jika dibadingkan pada tahun 2015, indeks tersebut jauh lebih rendah. Meskipun indeks KUB menurun, tapi angka rata-rata indeks selalu berada di angka 70. Dia menekankan, indeks ini melihatkan kondisi kerukunan di Indonesia baik.

“Tapi sebetulnya masih sedikit lebih kurang jika dibandingkan tahun 2015 yang keliatannya lebih tinggi sedikit,” ujarnya.

Dia mengaku senang dan harus dipertahankan. Jadi kerukunan umat beragama, terwujud melalui tingginya tingkat toleransi, kesetaraan dan kerjasama. Dia menjelaskan, hasil pengukuran ketiga variabel itu menghasilkan skor, angka, indeks yang menunjukkan tinggi rendahnya KUB di Indonesia.

KUB yang dimaksud adalah keadaan hubungan umat beragama dari hasil pengukuran tiga indikator tersebut, yaitu toleransi di dalamnya ada saling pengertian, saling menghormati dan menghargai.

Kedua, kesetaraan dalam mengamalkan ajaran agamanya dan ketiga, kerja sama dalam bermasyarakat berbangsa, bernegara di NKRI. Jadi semakin tinggi ketiga indikator itu maka semakin tinggi nilai indeks KUB.

“Ini sangat erat dengan yang sedang kita kembangkan yakni moderasi beragama. Moderasi beragama ini bukan hanya memoderatkan agama, kalau agama sudah moderat, sampai kiamat pun tetap applicable agama itu. Yang kita moderatkan adalah cara kita beragama, terutama dihadapkan dengan pemeluk agama lain,” paparnya.

Dia mengatakan, ada tiga kategori yang dinilai dalam survei tersebut yakni kerjasama memperoleh skor 75,40, toleransi 72,37 dan kesetaraan sebesar 73,72. Dari hasil survei tersebut, Papua Barat menempati peringkat pertama dengan skor 82,1 disusul Nusa Tenggara Timur 81,1 dan Bali berada diurutan ketiga yang mendapat nilai 80,1.

Sementara, DKI Jakarta berada diurutan 27 dengan mendapat skor 71,3. Menurutnya, alasan Jakarta berada di urutan ke 27 dari total 34 provinsi karena faktor politik yang sempat memanas di Pilpres 2019 dan Pilkada 2018.

“Kita breakdown kan elemen-elemen apa saja, kita temukan tuh DKI yang rendahnya bidang apa, nanti kita fokus ke sana. Insyaallah kita sama-sama fokus memperbaikinya,” kata dia.

Sementara, untuk calon ibu kota baru yakni Kalimantan Timur berada diurutan ke 17 dengan skor 73,2. Dari hasil indeks KUB itu, Kemenag memberikan beberapa rekomendasi yakni, setiap daerah diharapkan memaksimalkan usaha pemeliharaan konflik dan pengantisipasi konflik mulai dari keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat.

Rekomendasi berikutnya yaitu memberikan pelatihan cara menahan diri dari tindakan di luar hukum, memberikan advokasi hukum dan memberikan pengetahuan agar orang terhindar dari jerat hukum.

Kemudian, membantu usaha yang dilakukan pemerintah dan pemda dalam pemeliharaan kerukunan dan pengantisipasian konflik dengan merujuk Peraturan Bersama Menteri (PMB) 9-8/2006.

Menag memberikan catatan yang harus di ingat. Dia juga mengapresiasi atas peluncuran indeks KUB dilakukan selama lima tahun, yaitu sejak 2015.

“Ini sangat membanggakan dan harus dipelihara. Dengan puslitbang binmas agama, tahun 2019 ini memberikan masukan kepada pemerintah pusat dan daerah terkait kondisi KUB sehingga memiliki dasar dalam mempertahankan dan meningkatkan persoalan-persoalan umat beragama,” jelasnya.

Saat ini Kemenag sedang mempersiapkan penyusunan kegiatan di setiap kementerian. Agar terjadi peningkatan KUB dan memberikan reaksi terhadap angka indeks di tahun berikutnya.

“Jadi tiap bidang kita ada di pendidikan Islam apa yang perlu kita lakukan di sana, umat islam apa yang perlu dilakukan masalah wakaf dan banyak lagi. Permasalahan dihadapi adalah dinamika politik yang jadi variabel kontrol memperanguhi indeks KUB. Jadi semakin kondusif politik nasional, maka akan semakim tinggi indeks KUB yg diperoleh. Ini salah satu faktornya,” tuturnya.

Berikut Skor Indeks KUB Indonesia tahun 2019:

– Skor Indeks KUB di Atas Rata-rata Nasional
1. Papua Barat: 82,1
2. Nusa Tenggara Timur: 81,1
3. Bali: 80,1
4. Sulawesi Utara: 79,9
5. Maluku: 79,4
6. Papua: 79,0
7. Kalimantan Utara: 78,0
8. Kalimantan Tengah: 77,8
9. Kalimantan Barat: 76,7
10. Sumatera Utara: 76,3
11. Sulawesi Selatan: 75,7
12. Sulawesi Tengah: 75,0
13. Jawa Tengah: 74,6
14. DI Yogyakarta: 74,2
15. Sulawesi Barat: 74,1
16. Sulawesi Tenggara: 73,9

– Skor Indeks KUB di Bawah Rata-rata Nasional
17. Jawa Timur: 73,7
18. Kalimantan Timur: 73,6
19. Gorontalo: 73,2
20. Kep. Bangka Belitung: 73,1
21. Lampung: 73,1
22. Kepulauan Riau: 72,8
23. Maluku Utara: 72,7
24. Kalimantan Selatan: 72,5
25. Sumatera Selatan: 72,4
26. Bengkulu: 71,8
27. DKI Jakarta: 71,3
28. Jambi: 70,7
29. Nusa Tenggara Barat: 70,4
30. Riau: 69,3
31. Banten: 68,9
32. Jawa Barat: 68,5
33. Sumatera Barat: 64,4
34. Aceh: 60,2

Lihat juga...