Indonesia Tawarkan Pengembangan Bandara Labuan Bajo ke Belanda

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Dua Project Public Private Partnership (PPP) pengembangan Bandar Udara Labuan Bajo dan Bandar Udara Singkawang, menjadi salah satu topik yang diperbincangkan dalam Aviation Business Forum Indonesia-Belanda, di Lelystad, Den Haag, Belanda.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana B. Pramesti, dalam pertemuan tersebut, Selasa (10/12), memaparkan, bahwa masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mewujudkan Labuan Bajo sebagai destinasi super premium. Salah satunya adalah penyediaan bandar udara dengan fasilitas yang representatif, untuk wisatawan kelas atas, baik dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, saat ini pengembangan Bandara Labuan Bajo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, telah berada pada tahap evaluasi penilaian, dan ditargetkan pemenang lelang dapat diputuskan pada akhir tahun ini.

Hal serupa juga berlaku untuk Bandar Udara Singkawang, Kalimantan, yang pengembangannya kini memasuki tahap persiapan Final Business Case Study, dan diprediksi akan selesai pada Mei 2020.

Meskipun tidak diproyeksikan sebagai destinasi wisata super premium laiknya Pulau Komodo, Singkawang sebagai pusat budaya Tiong Hoa di Indonesia diprediksi dapat menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung.

“Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan untuk menarik minat kerja sama investasi dari pihak swasta asing. Perlu diketahui, Indonesia mencapai urutan ke-73 pada Ease of Doing Business Rate, yakni Indonesia menawarkan kondisi yang kondusif untuk membangun bisnis,” ujar Polana B. Pramesti.

Sementara itu, AirNav Indonesia yang juga turut hadir dalam forum tersebut, menyampaikan perkembangan pengelolaan navigasi penerbangan Indonesia, dengan dibentuknya Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, sejak 2013, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012, tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia.

Dalam paparannya, AirNav menyampaikan, bahwa berdasarkan prediksi IATA, kawasan Asia Pasifik akan mengalami peningkatan lalu lintas penerbangan yang signifikan, dan Indonesia akan menjadi negara ke dua setelah Cina yang akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan lalu lintas tersebut.

“Peningkatan ini tentu membuka peluang kerja sama investasi dan pengembangan teknologi di bidang navigasi penerbangan di Indonesia,” terang salah seorang perwakilannya.

Para pihak dari Belanda, yakni To70, Luchtverkeersleiding Nederland (Air Traffic Control in Netherlands), Schipol Airport dan KLM menyambut baik peluang-peluang kerja sama yang bisa dikembangkan Indonesia dan Belanda di sektor penerbangan. Mereka menyatakan akan mencoba menindaklanjuti lebih dalam lagi pertemuan itu. (Ist)

Lihat juga...