Jasa ‘Laundry’ Kian Menjamur di Bali

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

DENPASAR – Usaha jasa cuci pakaian atau laundry kini kian menjamur di Bali khususnya kota Denpasar. Gaya hidup masyarakat yang cenderung lebih simpel termasuk dalam urusan mencuci pakaian membuat usaha ini semakin diminati oleh masyarakat yang lebih modern.

Abdul Karim warga asal Trenggalek Jawa Timur ini benar-benar memanfaatkan ceruk bisnis ini. Dia menceritakan, jasa ini sudah dijalaninya sejak sembilan tahun yang lalu.

Menurutnya, bisnis laundry tak pernah sepi, apalagi saat memasuki musim penghujan yang mana masyarakat cenderung malas untuk menyuci pakaiannya. Sehingga harus berakhir di tangan penyedia jasa cuci pakaian alias laundry.

“Alhamdulillah selama ini saya melihatnya begitu Mas,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya di kawasan Denpasar, Selasa (10/12/2019).

Bersama keluarga, Abdul Karim menyewa ruko yang cukup luas. Tujuannya adalah agar bisa menampung jasa cucian yang setiap hari selalu banyak. Di ruko yang berukuran 6×8 meter ini, dirinya dibantu oleh istrinya menyelesaikan jasa tersebut.

Usaha laundry yang kian menjamur di Bali khususnya di kota Denpasar, Selasa (10/12/2019). -Foto: Sultan Anshori.

Dia memiliki dua mesin cuci jumbo dan satu unit mesin pengering. Dalam sehari, dia mampu menyelesaikan puluhan bahkan ratusan kilo baju bersih milik pelanggannya.

“Karena kami selesaikan rata-rata sehari pengerjaan, Mas. Jadi klien ngasih cucian pagi, sore cucian bersih sudah bisa mereka ambil,” jelasnya.

Saat ditanya waktu musim hujan, diakuinya memang membawa berkah tersendiri karena pesanan akan meningkat sekitar 100% dari hari biasanya. Namun, dirinya harus menambah mesin pengeringan pakaian agar cucian selesai cepat dan tepat waktu.

Untuk harga jasa cuci pakaian ini, dia mematok harga Rp7000 per kilogram baju kotor. Dalam sebulan, dirinya mampu meraup pundi-pundi uang hingga puluhan juta rupiah dari bisnis ini.

Meningkatnya bisnis laundry harus diakui oleh perubahan pola hidup masyarakat modern seperti saat ini.

Seperti Ayu Untari misalnya, wanita single ini lebih memilih menjasakan pakaian kotornya di laundry dengan alasan tidak memiliki waktu lagi karena sibuk bekerja di salah satu perusahaan swasta di kawasan Badung.

“Kalau nyuci sendiri ribet Mas. Belum beli deterjen dan harus disetrika sendiri. Tak ada waktunya. Mending saya masukkan ke laundry saja beres. Ya meskipun merogoh kocek sih, Mas,” tandasnya.

Lihat juga...