Jusuf Kalla: Ekonomi Penentu Peningkatan Mutu Pendidikan

Editror: Makmun Hidayat

PADANG — Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan berbicara soal peningkatan mutu pendidikan berkaitan dengan ekonomi. Hal ini dikarenakan pendidikan yang baik hanya bisa dijalankan di negara yang ekonominya baik dan bertumbuh.

“Kita tidak bisa berbicara banyak tentang kemajuan pendidikan jika tingkat ekonominya rendah, atau tidak bertumbuh dengan baik. Sebaliknya ekonomi yang maju hanya dapat dicapai dengan SDM dengan pendidikan yang baik bagi warganya,” katanya usai diberi gelar Honoris Causa (HC) oleh Universitas Negeri Padang, Kamis (5/12/2019).

Jusuf Kalla meyakini sepenuhnya bahwa hanya dengan pendidikan nasional yang bermutu atau berkualitas tinggi dan merata secara nasional, negara Indonesia dapat mencapai kemajuan. Makanya antara peningkatan mutu dengan ekonomi itu saling berkaitan.

Menurutnya, tanpa pendidikan nasional yang bermutu tinggi, Indonesia tidak akan mampu memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang selanjutnya menjadi lokomotif bagi Indonesia yang maju, yang kompetitif di tengah persaingan dunia internasional.

Ia melihat selama menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu, seperti perubahan kurikulum, terakhir tahun 2013, yang paling penting antara lain ketentuan dalam UUD 1945, bahwa anggaran pendidikan 20 persen dari APBN, tertinggi dari semua sektor.

“Pendidikan Nasional diselenggarakan oleh Negara dalam bentuk sekolah-sekolah negeri dan masyarakat sendiri dalam bentuk sekolah swasta atau pesantren dari yang sederhana sampai sangat baik. Karena itu kita harus selalu menghargai usaha-usaha tersebut,” ucapnya.

Untuk itu, Jusuf Kalla menyatakan bahwa pemerintah dapat memberikan refleksi tentang pengalaman dan usaha menciptakan pendidikan nasional yang bermutu. Usaha ini dilakukan selama dirinya di pemerintahan sejak tahun 1999 sampai tahun 2019 melalui upaya perbaikan sarana, guru dan sistim, serta penerapan ujian nasional.

“Dengan adanya ujian nasional ini, kita dapat menjaga mutu pendidikan dengan mendorong siswa belajar keras dan sekaligus melakukan evaluasi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Baginya, untuk memajukan bangsa, secara bersama perlu memiliki dan menjalankan beberapa hal pokok. Pertama, pemerintah perlu membangun infrastruktur fisik yang menunjang pertumbuhan ekonomi, seperti membangun jalan, jembatan, bandar udara dan sebagainya.

Sedangkan masyarakat, khususnya yang bergerak dalam berbagai bidang usaha dapat membangun industri, usaha manufaktur dan pelayanan (service). Kemajuan itu harus adil, makmur dan sejahtera.

“Ekonominya harus maju agar bidang-bidang kehidupan lain juga dapat maju. Ekonomi tidak akan maju tanpa peningkatan produktivitas yang sekaligus meningkatkan nilai tambah (value added),” sebutnya.

Jusuf Kalla menegaskan jika berbicara tentang nilai tambah, karena tanah air Indonesia injtmemiliki kekayaan alam yang sangat banyak seperti tanah yang luas dan subur untuk pertanian dan perkebunan. Kemudian tanah air ini juga kaya dengan berbagai mineral dan barang tambang lainnya seperti batubara, minyak, gas.

“Nah jika kita mengeksploatasi semua kekayaan alam ini tanpa nilai tambah, kita tidak akan dapat apa-apahanya menjadi sekadar penjual yang baik, tetapi ekonomi kita tidak bisa tumbuh dengan baik dan maju,” ungkapnya.

Untuk itu, supaya bisa mencapai kemajuan ekonomi, pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan inovasi dan skill yang dapat meningkatkan produktivitas. Caranya yakni perlu menggunakan dan mengembangkan teknologi.

“Semua inovasi dan kemajuan itu hanya bisa dicapai dengan ilmu dan teknologi dan tidak ada ilmu dan teknologi tanpa pendidikan,” tuturnya.

Sementara itu, dikatakannya, jikal berbicara tentang pendidikan sebagai bagian dari infrastruktur sosial, peningkatan pendidikan mencakup dua bidang pokok yaitu peningkatan jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas). Pada saat yang sama juga perlu peningkatan infrastruktur fisik pendidikan antara lain yang mencakup piranti keras (hard ware) dan piranti lunak (soft ware).

Menurutnya dalam proses pendidikan itu, perlu memiliki ruang kelas dan laboratorium yang baik, bersamaan dengan kurikulum yang juga baik, yang bisa meningkatkan mutu pendidikan.

Ia menyatakan ada dua aliran utama dalam pendidikan yaitu liberal education yang banyak dipraktekkan di Amerika Serikat yang mengajarkan cara berpikir, maka timbullah kemampuan inovasi. Sebaliknya negara-negara Eropa seperti Jerman dan sebagian besar Asia mengutamakan skill atau keterampilan yang lazim disebut link and match.

“Karena itu sekarang inovasi banyak di AS tetapi industri ada di Eropa dan Asia. Skill atau keterampilan juga membutuhkan disiplin yang tinggi seperti diajarkan di Jepang, Korea dan Cina, termasuk cara yang berpakaian seragam, yang tentu tidak dijumpai di sekolah-sekolah Amerika,” sebutnya.

Melihat hal itu, Indonesia tentu butuh inovasi dan keterampilam, karena itu data tahun 2018 disamping SMA yang jumlahnya 13.495, didirikan pula 13.710 SMK, jadi sudah lebih banyak SMK daripada SMA.

Artinya, pemerintah ingin meningkatkan ketrampilan yang lebih baik bagi generasi muda. Begitu pula perguruan tinggi, politeknik dan diploma. Namun hasilnya belum memadai karena masalah guru dan fasilitas.

“Semoga kedepan persoalan ini bisa menemukan jalan terbaiknya,” harap pria yang merupakan sumando dari Minangkabau ini.

Lihat juga...