Kades Selomartani Dukung Rencana Pembangunan Tol Jogja-Solo

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Pemerintah Desa Selomartani, Kalasan, Sleman, berharap rencana pembangunan jalan tol Jogja-Solo akan lebih banyak memberikan dampak positif dibandingkan dampak negatif bagi warga. Terlebih, kawasan Desa Selomartani direncanakan sebagai salah satu titik keluar masuk kendaraan atau exit dan entry tol. 

Kepala Desa Selomartani, Semiyono, mengatakan meski muncul pro dan kontra di masyarakat, namun pihaknya mendukung penuh adanya rencana pembangunan jalan tol Jogja-Solo tersebut. Ia pun mengaku sudah menyiapkan sejumlah rencana, guna menyambut program pembangunan pemerintah pusat itu.

“Secara umum kita mendukung, walaupun ada pro-kontra di masyarakat, itu biasa. Adanya pintu keluar masuk tol di Selomartani diharapkan bisa memberi manfaat ekonomi bagi warga. Salah satunya bisa mengangkat kerajinan warga. Karena kita memiliki potensi itu,” ujarnya, saat ditemui di Balai Desa Selomartani, Kalasan, Sleman, Selasa (3/12/2019).

Menurut Semiyono, di Desa Selomartani ada 164 rumah serta 639 bidang tanah dengan total luas kurang lebih 44 hektare, yang terdampak rencana pembangunan jalan tol Jogja-Solo. Jumlah tersebut tersebar di 8 padukuhan yang ada di Selomartani. Jumlah ini menjadi yang terbanyak di kecamatan Kalasan.

“Saat ini kita sedang dalam tahapan sosialisasi. Rencananya nanti akan ada 6 kali sosialisasi. Karena memang titik terdampak banyak di Purwomartani. Sehingga, kita harapkan sementara ini tidak ada transaksi tanah di Selomartani. Ini untuk mengantisipasi spekulan. Karena nanti warga yang akan dirugikan,” ujarnya.

Program Jalan Tol Jogya-Solo rencananya akan melewati enam kecamatan dan 14 desa di wilayah kabupaten Sleman, dengan panjang jalan kurang lebih 22,36 km.

Sejumlah desa yang akan dilewati, antara lain Desa Tamanmartani, Selomartani, Tirtomartani, dan Purwomartani di Kecamatan Kalasan. Lalu, ada Desa Bokoharjo di Kecamatan Prambanan, dan Desa Maguwoharjo, Condongcatur, dan Caturtunggal di Kecamatan Depok.

Serta ada Desa Sariharjo di Kecamatan Ngalik, Desa Sinduadi, Sendangadi, Tlogoadi, dan Tirtoadi di Kecamatan Mlati, dan terakhir Desa Trihanggo di Kecamatan Gamping.

Dari semua desa terdampak, Desa Purwomartani di Kecamatan Kalasan memiliki jumlah bidang terdampak paling banyak, yakni 639 bidang dengan perkiraan luas 448.162 meterpersegi.

Lihat juga...