Kaleidoskop Bencana di Sumbar 2019: 746 Kejadian Bencana dan Penanggulangannya

Editor: Makmun Hidayat

PADANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat mencatat sepanjang tahun 2019 telah terjadi 746 bencana yang melanda 16 kabupaten dan kota. Jumlah ini mengalami penurunan jika dibandingkan kejadian bencana di tahun 2018 lalu yang mencapai angka lebih dari satu ribu kejadian.

Kepala BNPB Doni Monardi bersama Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dan didampingi oleh Kalaksan BPBD Sumatera Barat Erman Rahman dan Wakil Wali Kota Padang Hendri Septa di Monumen Merpati Perdamaian pada 7 November 2019. -Foto: M. Noli Hendra

Kalaksa BPBD Provinsi Sumatera Barat, Erman Rahman, mengatakan, jumlah kejadian bencana sebanyak 746 itu  terhitung hingga 1 Januari 2019 – 26 Desember 2019. Bencana yang terjadi ini terjadi di 16 kabupaten dan kota dari 19 kabupaten dan kota yang ada di Sumatera Barat. Beruntung korban jiwa yang meninggal akibat bencana di tahun 2019 ini hanya sedikit, yakni 10 orang.

Erman menjelaskan 746 bencana itu juga telah mengakibatkan sejumlah infrastruktur rusak, pertanian mengalami puso, dan dampak kerugian lainnya. Tercatat dari total 746 kejadian itu, ada terjadi 2 kali badai, 4 abrasi pantai, 13 terjadi kekeringan, 2 orang dilaporkan hilang, 5 kali terjadi luapan air, pergeseran tanah 2 kali.

Lalu untuk tanah longsor ada terjadi 93 kalu, pohon tumbang disejumlah daerah ada 293, banjir 154, banjir bandang 13, gempa bumi merusak 12, jembatan runtuh 8, kabut asap 6, kebakaran hutan dan lahan 99 kali, orang tenggelam ada dilaporkan 3 orang, dan bencana puting beliung terjadi 36 kali.

Namun, jika di uraikan, dari kejadian itu, telah membuat 453 hektare sawah terendam banjir, 19 jembatan amblas, 25 bangunan lainnya rusak, dan 7 sarana kesehatan turut merasakan dampaknya.

“Kita melihat dengan adanya penurunan jumlah bencana serta kabar baiknya hanya sedikit korban jiwa yang meninggal, menunjukan bukti bahwa mitigasi yang dilakukan oleh BPBD selama ini terbilang berhasil. Soal bencana memang datang atas pengaruh cuaca, tapi kalau masyarakat kita siap, insya allah korban jiwa bisa diantasipasi,” katanya, ketika di temui di kantornya, Jumat (27/12/2019).

Wakil Gubernur Sumatera Barat menyaksikan evakuasi batu besar yang terbawa banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Solok Selatan pada 29 November 2019. -Foto: M. Noli Hendra

Dampak lainnya, selain adanya 10 korban jiwa yang meninggal dunia, juga ada 78 orang yang mengalami luka-luka dan 3.026 harus mengungsi. Tidak hanya itu, akibat bencana banjir dan longsor disejumlah daerah di Sumatera Barat ini juga membuat 703 rumah warga rusak, 3.618 rumah terendam banjir, 25 tempat ibadah, 22 sekolah, 751 kios, 96 kebun, 19 titik irigasi, 12 kolam ikan, 2 perkantoran, dan dua jalan ambalas akibat bencana tersebut.

“Akibat bencana itu, kerugian yang ditaksir mencapai 166.280.356.156,” ujarnya.

Dikatakannya bencana di Sumatera Barat pada tahun 2019 ini sudah dimulai sejak Januari dan bahkan hingga jelang penutupan tahun ini Sumatera Barat masih dilanda bencana disejumlah daerah.

Bencana Januari di Kabupaten Pasaman Barat

Pada awal tahun 2019 tim gabungan BPBD Pasaman Barat menemukan seorang warga yang hanyut dalam keadaan telah meninggal dunia, setelah melakukan delapan hari pencarian. Hanyut satu orang warga ini diakibat di daerah Rojang Situak Barat, Kecamatan Lembah Melintang, terjadi akibat terjadinya banjir di daerah itu.

Bencana Maret 2019 di Kabupaten Pasaman

Hujan yang turun dengan intensitas sedang-lebat melanda wilayah Pasaman mengakibat sebuah jembatan rusak yang juga merupakan jalan lintas Samutera putus. Kondisi tepat terjadi di wilayah Jorong Ampang Gadang, Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman.

Bencana September 2019 di Sejumlah Daerah di Sumbar

Bertepatan pada bulan September ini bencana yang terjadi yakni kebakaran hutan dan lahan di sejmlah daerah di Sumatera Barat. Tercatat ada sekitar 20 hektar hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Barat  ludes terbakar, seiring bermunculannya titik api (hotspot) di wilayah setempat.

BPBD Sumatera Barat menyebutkan, diperkirakan lebih dari 5 hektar hutan pinus dan lahan masyarakat ludes terbakar di Nagari Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar.  Masih di lokasi yang sama juga sudah terbakar sekitar 10 hektar hutan pinus dan lahan masyarakat, Lalu ada sekitar 8 hektar hutan dan lahan masyarakat juga terbakar di Kabupaten Dharmasraya

Bencana Oktober 2019 di Kabupaten Pasaman Barat

Bertepatan pada awal bulan Oktober, di Nagari Persiapan Ophir, Pasaman Barat terjadi jalan amblas akibat dihantam air bah sungai setempat. Selanjutnya masih di Pasaman Barat, daerah Bungo Tanjuang Air Bangis direndam banjir dengan ketinggian 50 centimeter.

Bencana November 2019 di Kabupaten Solok Selatan dan Padang

Di bulan November 2019 ini daerah Kabupaten Solok Selatan dilanda banjir bandang dan longsor. Akibat bencana itu ada sebanyak 190 KK dan 595 jiwa yang mengungsi. Kerugian yang ditaksir mencapai Rp57,3 miliar yang terdiri dari kerugian meruksan rumah penduduk dan fasilitas umum, serta kerusakan irigasi dan sektor pertanian.

Serta di Kota Padang juga terjadi abrasi pantai yang merusak Monumen Merpati Perdamaian, dan hal ini juga dapat kunjungan dari Kepala BNPB Doni Monardo yang didampingi oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dan juga Pemko Padang.

Bencana Desember 2019 di Sejumlah Daerah di Sumbar

Di penghujung tahun 2019 ini ada sejumlah daerah di Sumatera Barat yang dilanda bencana seperti Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman, Agam, Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, Sijunjung, dan Kabupaten Limapuluh, serta belum lama ini didaerah Kabupaten Pesisir Selatan.

Pada Desember 2019 ini, bencana yang terjadi mulai dari angin kencang, longsor, banjir bandang, dan banjir.

Penanganan Bencana di Sumbar Bersama BNPB dan BMKG

Erman Rahman menyatakan dari sekian bencana yang terjadi di Sumatera Barat sejak Januari 2019 itu, hingga kini telah dilakukan penanganan dengan baik melalui BPBD di kabupaten dan kota.

Penyebab bencana yang terjadi Sumatera Barat yang bisa dikatakan bencana tahunan, tidak terlepas dari kondisi cauca yang cenderung ekstrem di penghujung tahun. Serta didukung dari adanya kerusakan hutan dan sungai, membuat bencana banjir bandang turut menghantam rumah penduduk dan menyebabkan korban jiwa 10 orang.

“Dalam persoalan kejadian bencana di Sumatera Barat 2019, itulah yang telah kita dilakukan penanggulangannya. Berharap dari sisa waktu di tahun 2019 Sumatera Barat dalam keadaan baik-baik saja,” sebutnya.

Kepala BNPB Doni Monardo menandatangani kerja sama dengan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati didamping Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno di acara Rakor Kebencanaan di Sumbar pada 23 Desember 2019. -Foto: M. Noli Hendra

Bahkan menyikapi adanya kondisi bencana di Sumatera Barat ini, Kepala BNPB Doni Monardo datang ke Sumatera Barat tepatnya tanggal 23 Desember melakukan rapat koordinasi bersama kepala daerah dan juga BPBD se-Sumatera Barat di Inna Padang Hotel.

Pada kesempatan tersebut Kepala BNPB Doni Monardo menyerahkan bantuan penanggulangan bencana berupa satu unit mobil rescue komando, satu unit speedboat fibet dan empat unit perahu evakuasi, yang diterima langsung oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno pada tanggal 23 Desember 2019.

Di kesempatan itu, pihak BMKG juga menyerahkan 50 unit EEWS (Earthquake Early Warning System) yang ditempatkan 10 unit di sekitar Kepulauan Mentawai yang merupakan jalur megathrust, dan 40 unit di wilayah pesisir Sumatera Barat, seperti di Pesisir Selatan, Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Agam dan Pasaman Barat.

Tujuan penempatan EEWS itu, dapat meningkatkan dan mendukung upaya kesiapsiagaan di Sumatera Barat. Sebab, perannya akan dapat menjadi sumber informasi terkait kondisi dan cuaca terkini.

Tidak hanya itu, Erman juga mengungkapkan bahwa pada Agustus 2019 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat menerima bantuan kapal cepat dari Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) untuk memperkuat armada evakuasi kebencanaan.

Kapal cepat tersebut memiliki lebar sekitar 2,5 meter dan panjang 6 meter, dilengkapi dengan peralatan evakuasi, fasilitas air bersih dan sanitasinya. Kapal ini dibekali mesin berkapasitas 2 X 200cc, global positioning system (GPS) untuk navigasi, kompas, alat komunikasi dan alat keselamatan lainnya.

Lihat juga...