Kaleidoskop Jakarta, Dari Revitalisasi Trotoar hingga Pemecatan Kepala Dinas

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta, terus berupaya memberikan yang terbaik untuk warga Ibu Kota. Berbagai kegiatan dilakukan dengan untuk melayani masyarakat Ibu Kota.

Seperti kegiatan revitalisasi trotoar jalan, yang diklaim untuk menghadirkan kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki. Pembangunan jalur pedestarian, diharapkan memberi ruang bagi pejalan kaki. Sehingga ada kesetaraan untuk semua lapisan masyarakat di Jakarta, mulai dari anak-anak, ibu hamil, lansia hingga penyandang disabilitas. Sejak 2019, revitalisasi trotoar telah dilakukan sepanjang 134 kilometer. Telah disiapkan revitalisasi trotoar sepanjang 47 kilometer dengan anggaran optimal hingga 1,1 triliun rupiah untuk tahun depan.

Salah satu hasil revitalisasi trotoar, yang dijadikan percontohan adalah trotoar di Jalan Sudirman – MH Thamrin. Trotoar di lokasi tersebut direvitalisasi pada 2017 hingga 2018. Jalur pedestrian tersebut sudah didesain ramah bagi para penyandang disabilitas. Sudah dilengkapi pelican crossing antar trotoar di sisi barat dan timur. Revitalisasi trotoar di tahun ini diperluas ke lima wilayah kota administrasi di DKI Jakarta. Sebanyak 51 lokasi jalan di seluruh wilayah Jakarta direvitalisasi dengan total anggaran sekira Rp327 miliar.

Beberapa yang disasar seperti, Jalan KH. Wahid Hasyim dan Sudirman-Thamrin (Jakarta Pusat), Jalan Sisingamangaraja hingga Jalan Fatmawati (Jakarta Selatan), Kawasan Velodrome (Jakarta Timur), Jalan Daan Mogot (Jakarta Barat), Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Pluit Selatan Raya (Jakarta Utara).

Hingga akhir 2019, setidaknya terdapat 10 titik yang sedang direvitalisasi. Yaitu, trotoar di Jalan Dr Satrio, trotoar di Jalan Otto Iskandardinata, trotoar di Jalan Matraman Raya, trotoar di Jalan Pangeran Diponegoro, trotoar di Jalan Kramat Raya dan jalan Salemba Raya, trotoar di Jalan Cikini Raya, trotoar di Jalan Latumenten, trotoar di Jalan Danau Sunter Utara, trotoar di Jalan Yos Sudarso, dan trotoar di Jalan Kemang Raya.

Sementara yang menjadi sorotan karena dinilai penting untuk direvitalisasi di 2019 adalah trotoar Cikini dan trotoar Kemang. Di trotoar Cikini, adavjalur sepanjang 10 kilometer yang akan diperlebar, dari semula hanya tiga meter menjadi 4,5 hingga enam meter. Pelebaran untuk membuat area, 1,5 meter untuk pejalan kaki, 1,5 meter untuk penyandang disabilitas 1,5 meter untuk street furniture dan 0,5 sampai 1 meter untuk amenities.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyampaikan, pihaknya akan melanjutkan revitalisasi trotoar di 2020. Pemprov DKI mengusulkan anggaran Rp1,1 triliun untuk kegiatan tersebut  “Di 2017 hingga 2019, kita merevitalisasi sepanjang 134 kilometer dan targetnya nanti tahun depan, kita akan menata 47 kilometer,” kata Anies, pada 16 Oktober 2019 silam.

Sementara untuk revitalisasi trotoar Kemang, dibangun sepanjang kurang lebih 3,3 kilometer. Trotoarnya akan diperlebar dari 1,5 hingga dua meter menjadi tiga hingga empat meter. Revitalisasi trotoar Kemang dilakukan Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan para pemilik gedung, hotel, maupun restoran terdampak.

Hasil dari kolaborasi melahirkan kesepakatan, revitalisasi trotoar di Kemang menerapkan Teknik Pengaturan Zonasi (TPZ). Kolaborasi antara pemerintah dengan pelaku usaha tersebut menjadikan satu lajur di kawasan Jalan Kemang Raya dipotong untuk dibangun fasilitas publik berupa trotoar. Dengan adanya kemudahan dalam kolaborasi, revitalisasi yang telah dimula sejak Mei 2019 tersebut ditargetkan selesai tepat waktu pada akhir 2019 ini.

Revitalisasi trotoar dimaksudkan juga untuk mengintegrasikan transportasi umum di DKI Jakarta. Integrasi tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur No.66/2019, untuk mengendalikan kualitas udara Jakarta. Warga Jakarta didorong untuk lebih mengutamakan aktivitas berjalan dan menggunakan transportasi umum, baik dari dan menuju tempat kerja maupun saat berwisata.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Hari Nugroho mengatakan, saat ini fokus pengerjaan masih pada bagian konstruksi. “Setelah dibongkar trotoar lamanya lalu di-marking, pembesian dan dicor, kalau kita bicara pakai beton dekoratif atau stamp concrete, itu dicor baru dibentuk dekoratifnya. Tapi kalau batu alam andesit tinggal langsung pasang,” kata Hari.

Lihat juga...