Kampung Warga Sumba Berada di Lembah Perbukitan

Editor: Koko Triarko

WAINGAPU – Perkampungan di wilayah kabupaten Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, letaknya saling berjauhan dan berada di daerah lembah-lembah bukit.

“Sejak dahulu, nenek moyang kami membuat perkampungan di lereng-lereng bukit,” kata Hapu Tarambia II, tokoh adat Patawang Wanga, desa Patawang, kecamatan Umalulu, kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (15/12/2019).

Dikatakan Hapu, perkampungan dipilih di bagian lembah karena di daerah itu terdapat hamparan tanah lapang dan subur dan yang terutama daerah tersebut berada dekat mata air.

Hapu Tarambia II, tokoh adat Patawang Wanga, desa Patawang kecamatan Umalulu, kabupaten Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, saat ditemui di rumahnya, Minggu (15/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Maka, lelehur mereka selalu membuat kampung di dekat mata air karena selain untuk bertani, memenuhi kebutuhan pangan dengan menanam padi dan jagung serta palawija, juga untuk beternak.

“Perkampungan selalu dibangun dekat sungai atau kali, agar bisa dekat dengan sumber air untuk dikonsumsi, airnya juga untuk kebutuhan pertanian dan minum ternak peliharaan,” ungkapnya.

Menurutnya, padang pengembalaan berada di bagian bukit yang rata, yang ditumbuhi rerumputan dan saat sore hari ternak digiring ke lembah untuk minum air dan dikandangkan.

Jarak antarkampung yang berjauhan, menurutnya karena zaman dahulu tanah ulayat setiap suku sudah ditentukan, sehingga komunitas suku tersebut akan menggarap lahan dan beternak di wilayahnya.

“Hampir semua kampung-kampung tua berada di lembah dekat mata air atau kali. Pastinya di daerah tersebut juga ada lahan rata yang dipergunakan untuk membuka sawah atau kebun,” terangnya.

Paulus Renggi Nggani, masyarakat adat Patawang Wanga lainnya menambahkan, sejak 1980-an terlebih 1990-an, banyak warga yang mulai membuat rumah di dataran di bagian atas bukit dan juga di pesisir pantai.

Warga pun bisa menanam padi di sawah di pesisir pantai dan juga memelihara ternak, sehingga tidak perlu lagi menetap di kampung lama yang berada jauh dengan jalan raya.

“Kalau tinggal di  kampung lama, warga kesulitan mengakses transportasi karena tidak ada jalan ke kampung, sebab kendaraan umum tidak masuk ke kampung,” terangnya.

Maka, banyak anak muda yang usai menikah memilih membuat rumah dekat jalan raya, agar bisa lebih mudah menjual hasil pertanian dan peternakan mereka ke luar desanya, karena ada angkutan umum yang melintas.

“Selepas 2.000-an banyak warga yang mulai meninggalkan kampung lama dan bermukim di dekat pantai di dekat jalan raya, yang saat ini sudah menjadi jalan negara dan tetap hidup dari bertani dan memelihara ternak,” pungkasnya.

Lihat juga...