Kemenristek Siapkan Anggaran Rp15 Triliun untuk Hilirisasi Riset

Menristek Bambang Brodjonegoro menyampaikan pemaparan pada Rapat Kerja Satuan Pengawas Internal Perguruan Tinggi Negeri dan LL Dikti se-Indonesia di Padang, Senin (9/12/2019) – Foto Ant

PADANG – Kementerian Riset dan Teknologi, mengalokasikan anggaran sebesar Rp15 triliun di 2020, untuk mendorong hilirisasi hasil riset di perguruan tinggi. Harapannya, riset yang dilakukan dapat diimplementasikan di dunia usaha, dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Caranya pertama kita menyediakan dana hibah yang disediakan secara berkelanjutan, begitu satu tahapan riset selesai ada hibah lagi sehingga peneliti lebih terpacu untuk akhirnya sampai pada tahap hilirisasi dan komersialisasi,” kata Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro di Padang, Senin (9/12/2019) malam.

Menurut Bambang, yang hadir di Padang dalam rangka Ia Rapat Kerja Satuan Pengawas Internal Perguruan Tinggi Negeri dan LL Dikti se-Indonesia, anggaran Rp15 triliun itu di luar operasional dan diupayakan tepat sasaran agar hilirisasi riset lebih cepat.

Selain memberikan hibah, juga akan melibatkan pihak swasta dan BUMN lebih awal, sehingga peneliti tahu apa yang menjadi kebutuhan perusahaan dan masyarakat. Sehingga program hilirisasi riset menjadi lebih mudah dilakukan. Di 2020, fokus riset dilakukan untuk sembilan area meliputi, pangan, kesehatan, obat, energi, teknologi maju, hingga upaya mengatasi persoalan pembangunan seperti stunting, perubahan iklim, bencana. “Dengan demikian riset akan bermanfaat langsung bagi masyarakat,” jelasnya.

Pada sisi lain, terkait dengan adanya duplikasi hingga replikasi riset, akan dikendalikan oleh program Badan Riset dan Inovasi Nasional. Sehingga tidak ada lagi pengulangan tema yang sama. “Tujuannya, agar ada sinergi di antara para pihak yang meneliti tema yang sama sehingga bisa bekerja sama.” ujarnya.

Bambang mengatakan, penelitian bagi perguruan tinggi tidak hanya sebatas untuk naik pangkat bagi dosen. Namun ke depan, harus bisa diimplementasikan. Penelitian merupakan cara untuk berkontribusi lebih besar kepada negara, sehingga bisa memberikan kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat.

Supaya ada kaitan antara penelitian dengan daya saing nasional, harus ada inovasi sehingga bisa dihilirkan. Saat ini riset untuk keperluan publikasi sudah banyak. Akan tetapi, penelitian tidak sebatas publikasi, karena setelah itu ada temuan yang harus dipatenkan. “Kita berharap setelah ada paten tidak berhenti sampai di situ, karena kurang berguna jika tidak ada yang membeli lisensi atau membuatnya menjadi sesuatu yang diterima masyarakat luas,” jelasnya.

Oleh sebab itu ia mendorong paten harus berlanjut pada lisensi, untuk masuk kepada arena komersial dan ditawarkan masuk kepada dunia usaha. (Ant)

Lihat juga...