Kenaikan Harga Komoditas Jelang Nataru Untungkan Petani

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Kenaikan harga komoditas pada level petani menguntungkan warga Lampung Selatan (Lamsel). Hapsah, petani di Desa Tanjung Heran,Kecamatan Penengahan menyebut jelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 harga komoditas pertanian berangsur naik. Kenaikan harga tersebut imbas tingginya permintaan warga yang melangsungkan pesta pernikahan dan persiapan Nataru.

Sempat menjual harga tomat varietas rampai dengan harga Rp6.000 perkilogram, sejak sepekan terakhir harga mencapai Rp10.000 per kilogram. Kenaikan harga tomat rampai menurutnya seiring tingginya permintaan dari pemilik usaha kuliner pecel lele dan pecel ayam. Selain itu mulai datangnya hujan di sejumlah wilayah berimbas pasokan tomat berkurang. Tomat jenis rampai menurutnya memiliki ukuran kecil dan kerap dijadikan sambal.

Hapsah,petani penanam tomat rampai memanen buah yang mulai dijual dengan harga tinggi jelang Natal dan Tahun Baru, hasil panen disetor ke sejumlah pengecer di pasar tradisional, Senin (7/12/2019). -Foto: Henk Widi

Kenaikan harga tomat di level petani menurut Hapsah menutupi kerugian pada panen tahap awal. Pada panen tahap awal atau panen batang, harga pada level petani masih cukup merugikan. Sebab operasional pengolahan lahan,penyiraman air saat kemarau berimbas biaya membengkak. Mulai turunnya hujan berimbas pasokan air membuat ia bisa mengurangi proses penyiraman.

“Hujan yang turun sangat cocok untuk usaha pertanian dengan intensitas tidak terlalu lebat namun cukup membantu proses penyiraman secara alami tanpa harus memakai sumur bor,” ungkap Hapsah saat ditemui dalam proses pemanenan tomat rampai di kebunnya, Senin (9/12/2019)

Memasuki pertengahan Desember, Hapsah menyebut dari sekitar 500 tanaman tomat memasuki panen ranting (grantingan). Pada masa panen grantingan ia memprediksi masih bisa menghasilkan buah tomat hingga akhir tahun. Rata rata sekali panen ia bisa mendapatkan hasil panen 30 hingga 40 kilogram. Dijual seharga Rp10.000 perkilogram tiga kalo dalam sepekan ia mendapat hasil rata rata Rp300.000.

Hasil panen dari buah tomat rampai menurut Hapsah sebagian dijual ke pengecer. Panen dilakukan sehari sebelum pasar tradisional berlangsung pada hari Selasa, Jumat dan Minggu. Hasil panen tomat disebutnya hanya menjadi salah satu sumber penghasilan. Sebab selain tomat ia juga menanam sejumlah sayuran lain diantaranya kacang panjang,kemangi dan kacang hijau.

Petani lain bernama Hanafi memanfaatkan peluang naiknya harga sayuran jelang Nataru dengan menanam gambas. Sayuran gambas atau oyong ditanam secara bertahap pada dua bidang lahan seluas dua hektare. Satu hektare lahan menurutnya sudah bisa dipanen sepekan sebelum Natal dan sebagian bisa dipanen pada awal tahun baru. Sayuran yang bisa dipanen saat usia 45 hari setelah tanam (HST) disebutnya memanfaatkan peluang tingginya permintaan.

“Petani sayuran harus bisa melakukan pengaturan pola tanam dan memprediksi kenaikan harga agar bisa untung”papar Hanafi.

Hanafi,petani di Desa Tanjung Heran Kecamatan Penengahan Lampung Selatan merawat tanaman gambas yang dipersiapkan untuk kebutuhan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Senin (7/12/2019), -Foto: Henk Widi

Sayuran gambas menurutnya memiliki harga Rp4.000 pada kondisi normal. Namun mendekati Nataru sayuran tersebut mulai dijual seharga Rp7.000 perkilogram. Kenaikan harga sayuran dipastikan masih akan terjadi pada saat Nataru. Sebab pada saat angkutan Nataru sejumlah kendaraan ekspedisi akan mengalami hambatan di pelabuhan penyeberangan Bakauheni. Imbasnya pasokan kerap terlambat membuat harga meningkat.

Selain sayuran,petani lain bernama Inah,warga Desa Sukabaru,Kecamatan Penengahan menyebut harga cabai merah keriting mulai naik. Sebelumnya pada level petani harga cabai merah keriting mencapai level Rp30.000 perkilogram. Memasuki bulan November harga cabai merah keriting naik menjadi Rp35.000. Memasuki awal Desember pada level petani harga mencapai Rp45.000 perkilogram.

“Pasokan cabai merah keriting untuk memenuhi pasar Sumatera Barat sebagian pasar lokal Lampung,” ungkap Inah.

Pertanian cabai keriting yang ditekuni bersama suami menurutnya menghasilkan rata rata 5 kuintal sekali panen. Saat ini pemanenan memasuki proses pemetikan buah batang dan mendekati Nataru panen masih bisa dilakukan pada tahap ranting (grantingan). Seperti pada masa tanam sebelumnya dengan tanaman mencapai 2000 batang ia bisa mendapat hasil 3 ton satu masa panen. Mulai naiknya cabai jelang Nataru diakuinya memberi keuntungan bagi petani yang menanam cabai saat kemarau atau gadu tahun ini.

Lihat juga...