Keterbukaan Antarkan Desa Bojongkulur Jadi Desa Mandiri

Editor: Makmun Hidayat

Kepala Desa Bojongkulur Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Firman, ditemui Cendana News, di pasar desa setempat Jumat (6/12/2019). -Foto: M. Amin

BOGOR — Kepala Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Firman, mengakui keterbukaan menjadikan kesuksesan indeks desa tersebut sebagai Desa Mandiri nomor satu se-Jawa Barat dan urutan ke-7 dari seratus desa se-Indonesia.

“Keterbukaan menjadi kunci sukses menjadikan Desa Bojongkulur, Gunung Putri, memiliki indeks desa mandiri tertinggi di Jabar, dan Indonesia,” ucap Firman, kepada Cendana News, ditemui saat melihat pasar desa setempat, Jumat (6/12/2019).

Firman menambahkan, keterbukaan sangat penting terutama terkait anggaran dana desa harus disampaikan secara gamblang untuk diketahui masyarakat dari jumlah dan peruntukannya dan dibagi penggunaannya seperti  pembangunan atau pemberdayaan desa.

“Dengan keterbukaan maka akan memunculkan rasa kepemilikan desa. Bahkan jika ada kekurangan dalam membangun tertentu masyarakat akan membantu karena keterbukaan tadi,” ujar Firman.

Desa Bojongkulur, ditetapkan sebagai desa mandiri sejak tahun 2016. Bahkan dari tahun lalu urutan ke 66 se-Indonesia dan urutan ke-7 se-Jabar. Tetapi berkat keterbukaan dan evaluasi yang dilakukan kepala desa akhirnya di 2019 indeks desa mandiri di Bojongkulur menjadi menonjol .

Firman mengatakan indeks desa mandiri di Bojongkulur yang menonjol dalam penilaian baik ditingkat daerah Jabar atau pusat  adalah terkait indeks kebersamaan dan kepedulian masyarakatnya terkait memajukan desa paling menonjol.

“Contohnya, seperti membangun jalan suatu wilayah dana desa hanya menyediakan Rp20 juta, karena dibagi ke tempat wilayah lain. Sementara jalan yang dibangun dengan dana tersebut perlu Rp200 juta sisanya warga swadaya,” tukasnya.

Artinya lanjut dia dari tiga parameter dalam menentukan desa mandiri di desa Bojongkulur semua sudah terpenuhi. Adapun tiga parameter indeks desa mandiri tersebut seperti masalah ekonomi, kedua sosial, lalu ketiga soal lingkungan.

Menurutnya terkait dengan sarana dan prasarana perekonomian di desa mulai dari perbankan, usaha masyarakat, perdagangan, fasilitas pelayanan, jika nilainya baik banyak terpenuhi maka akan mendapat nilai tinggi dan Desa Bojongkulur sudah memiliki itu.

Kedua terkait masalah sosial diukur dari ketersediaan simpul masyarakat, bagaimana upaya kemandirian nya turut serta dalam pembangunan, kemudian ikut berswadaya, ketika terjadi bencana bagaimana kesetiakawanan sosialnya, ketika ada konflik apa tidak di desa tersebut semakin tidak ada maka nilai indeks tinggi.

Ketiga soal lingkungan bagaimana kesiapansiagaan bencana infrastruktur yang melindungi masyarakat penghijauan . Dari tiga parameter itu sebetulnya mampu meningkatkan indeks desa mandiri.

“Dari tiga parameter tersebut dikumpulkan laku poinnya berapa. Alhamdulillah Desa Bojongkulur tertinggi di Jabar dan nomor 7 se-Indonesia,”tandasnya .

Diakuinya, Desa Bojongkulur terus melakukan evaluasi terkait apa saja kekurangannya untuk menunjang kesempurnaan indeks tersebut. Dan di 2019 desa tersebut mendapat dana desa sebesar Rp900 juta.

Sebelumnya belum belum memiliki taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa dan sekarang semua sudah tersedia . Yang paling menonjol kemandiria masyarakat cukup tinggi untuk berswadaya.

“Desa Bojongkulur ini mungkin se-Indonesia memiliki penduduk paling tertinggi mencapai 62 ribu penduduk memiliki KTP. Jika ditambah yang tidak ber-KTP, Desa Bojongkulur bisa mencapai 80 ribu,” pungkasnya.

Lihat juga...