Komunitas Bonsai di Lamsel Lestarikan Tanaman Langka

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Hobi pada tanaman yang dikerdilkan di dalam pot dangkal tidak hanya bertujuan untuk meraup pundi-pundi rupiah, tetapi juga menjadi salah satu upaya dalam melestarikan tanaman-tanaman yang mulai langka.

I Ketut Nare, ketua komunitas Jaya Bonsai yang aktif melakukan pembuatan bonsai di Desa Ruguk Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan di pekarangan rumahnya, Minggu (15/12/2019). Foto: Henk Widi

I Ketut Nare, ketua Komunitas Jaya Bonsai di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, tanaman langka yang dominan dilestarikan oleh anggotanya yakni sentigi dengan nama ilmiah Pemphis Acidula. Tanaman yang tumbuh di pesisir pantai tersebut saat ini mulai sulit diperoleh karena berbagai hal.

“Sebagai hobi anggota komunitas juga mulai menyadari pentingnya untuk melestarikan tanaman sentigi dan bahan bonsai lainnya,” tutur I Ketut Nare saat ditemui, Minggu (15/13/2019).

Ia juga menyebutkan, dalam proses pembentukan bonsai sebagai bagian dari seni perlu dilakukan pembentukan awal. Proses perawatan harus dilakukan agar tanaman memiliki bentuk sesuai yang diinginkan.

Sejumlah alat yang dipersiapkan untuk pembuatan bonsai meliputi gunting tanaman, kawal aluminium, tang, penyemprot air serta alat lain. Proses pembentukan atau styling harus dilakukan agar bonsai memiliki nilai estetika yang baik.

“Sejak proses pembentukan pada tanaman sentigi sesuai dengan pertumbuhan bisa dimulai usia tiga bulan,” papar I Gde Saputra.

Usai proses pengawatan pertama, bahan bonsai masih dibutuhkan sekitar tiga kali pengawatan. Proses dilakukan untuk membentuk agar mencapai nilai estetis dan menghasilkan secara ekonomis.

Saat ini I Ketut Nare menyebut membudidayakan pohon bonsai diantaranya jambu kerikil, cemara, sentigi, kaliage, sancang dan sejumlah pohon lain. Sejumlah pohon tersebut dirawat dengan media tanam serabut kelapa, pasir, pupuk kandang serta sejumlah bahan lain. Sejumlah pohon rata rata ditanam dari bibit hingga siap dibentuk menjadi bonsai.

“Proses pembentukan bonsai memerlukan waktu lama sehingga butuh ketelatenan serta kesabaran, sebagai hobi menjadi usaha yang memberi penghasilan bagi masyarakat desa Ruguk,” ungkap I Ketut Nare.

Sebagai upaya konservasi, sejumlah tanaman bonsai yang ditawar belum dijual. Ia bahkan menyebut rata rata bahan bonsai dibeli oleh penghobi dengan harga jual mulai Rp1 juta hingga Rp2 juta. Sementara sejumlah bonsai yang sudah terbentuk bisa dijual dengan harga Rp40juta hingga Rp50 juta.

“Meski harga menggiurkan, anggota komunitas diminta untuk melestarikan agar tanaman sentigi tidak punah,” tambahnya.

Asror, salah satu penggobi bonsai di Bakauheni menyebut menyukai bonsai sebagai koleksi. Sejumlah tanaman yang di koleksi diantaranya cemara, bougenvile dan jeruk.

Hobi bonsai menurutnya menjadi kegiatan pengisi waktu luang. Selain memiliki estetika ia memastikan hobi bonsai bisa memberinya ketenangan batin sekaligus menciptakan suasana segar di dalam ruangan.

Lihat juga...