Lele Wuek Ai, Kuliner Lokal dari Jagung

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Jagung atau Lele dalam bahasa Sikka, selalu menjadi makanan pokok selain nasi dan banyak ditanam di kebun warga setiap musim hujan, dan hasilnya untuk dikonsumsi sendiri. Usai panen, jagung-jagung tersebut biasanya diletakkan atau disimpan di lumbung yang berada di kebun dan tidak dikupas kulitnya.

Jagung-jagung tersebut akan diambil sesuai kebutuhan untuk dikonsumsi sepanjang  tahun, dan dicampur dengan beras atau ditumbuk dan dicampur dengan kacang untuk dimakan.

“Dulu, orang tua kami juga membuat makanan Lele Wuek Ai dari campuran jagung dan kacang,” kata Berta Jemahul, yang ditemui di rumahnya di desa Nita Kloang, kecamatan Kloang, kecamatan Nita, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (7/12/2019).

Berta Jemahul, anggota kelompok perempuan Kloang Aur dari desa Nitakloang, kecamatan Nita, kabupaten Sikka, provins i Nusa tenggara Timur, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (7/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Perempuan yang tergabung dalam kelompok perempuan Kloang Aur ini menyebutkan, kelompoknya sering membuat makanan lokal ini agar bisa dikonsumsi generasi muda.

Hal ini dilakukan agar generasi muda  dapat mengetahui adanya makanan lokal yang sudah diwariskan leluhur mereka, dan rasanya pun tidak kalah lezat dibandingkan makanan modern.

“Untuk membuatnya, kami mempergunakan kacang merah lokal yang dinamakan kacang Wuek Ai, atau biasa dinamakan kacang Ercis. Kacang dijemur dahulu, lalu dimasak,” terangnya.

Setelah setengah matang, sambung Berta, lalu diangkat. Sementara jagung lokal ditumbuk terlebih dahulu hingga kulitnya terkelupas dan direbus. Jagung yang sudah ditumbuk tersebut dimasak hingga setengah matang, lalu diangkat.

“Setelah itu diangkat dan diaduk bersama dengan kacang Wuek Ai. Campur santan kelapa secukupnya ke dalam campuran kacang dan jagung ini,” jelasnya.

Setelah merata, adukan dikukus hingga matang, lalu diangkat dan dikeringkan. Makanan ini pun siap dihidangkan untuk disantap bersama ikan dan sayur sebagai pengganti nasi.

Hiporsia Filotea, anggota kelompok Kloang Aur lainnya menambahkan, pihaknya selalu membuat aneka makanan lokal yang selama ini sudah hampir terlupakan, karena tidak diolah dan dihidangkan lagi.

Maka, dalam setiap acara di desa maupun tingkat kabupaten, kelompoknya selalu menyajikan makanan lokal Sikka untuk dihidangkan kepada para tamu yang hadir.

“Banyak juga tamu yang juga masyarakat lokal mengkonsumi makanan lokal yang kami sajikan. Banyak juga masyarakat yang dulu sering makan makanan lokal, sehingga mereka mengaku seperti sedang bernostalgia saja,” tuturnya.

Lihat juga...