Makassar New Port Berkontribusi Positif di Pelindo IV

MAKASSAR – Perampungan dan pengoperasian Makassar New Port (MNP) tahap IA, telah memberikan kontribusi pertumbuhan positif bagi PT Pelindo IV (Persero).

Keberadaanya telah meningkatnya trafik bongkar muat hingga akhir 2019. Dirut PT Pelindo IV Makassar, Farid Padang, di sela peninjauan MNP di Makassar, Sabtu (21/12/2019) mengatakan, kehadiran MNP berkontribusi baik bagi upaya peningkatan trafik kapal maupun jumlah petikemas. “Kehadiran MNP ini memberi pertumbuhan positif terhadap Pelindo IV, tergambar dari trafik kapal naik dari 414 Gross Ton (GT) pada 2018 menjadi 466 juta GT pada 2019,” ungkapnya, Sabtu (21/12/2019).

Sementara dari petikemas naik dari 2,11 juta Teus menjadi 2,25 juta teus pada 2019. Kondisi ini ditunjang dengan pemberlakuan Direct call atau ekspor langsung ke luar negeri melalui Pelabuhan Makassar. Atau tidak lagi melalui Surabaya dan Jakarta.

Dirut PT Pelindo IV Makassar, Farid Padang – Foto Ant

Sebagai gambaran, apabila dalam sebulan hanya ada pengiriman 40 kontainer, maka pada 2019 telah naik menjadi 10.000 Teus kotainer. Sehingga dalam setahun, bisa mencapai 100.000 Teus. Dari sisi waktu pengiriman, terjadi penghematan waktu 14 hari dibandingkan sebelum penerapan Direct Call.

Program Direct Call  telah dilakukan ke sejumlah negara tujuan di Asia seperti Hongkong, Cina, Singapura, Malaysia dan Jepang, serta sejumlah negara Eropa dan Amerika. Mengenai pembangunan MNP yang sudah dicanangkan pada 2017 oleh Presiden Joko Widodo dan ditargetkan rampung 2024. Di dalam kawasan MNP akan dibangun kawasan industri yang akan memberikan nilai tambah terhadap komoditi ekspor di daerah ini.

Adapun total investasi untuk merampungkan proyek strategis nasional ini tercatat mencapai Rp89 triliun. Investasi  dibagi tiga tahap pembangunan. Sedang khusus pembangunan kawasan industri di MNP menelan anggaran sebesar Rp68 triliun. “Keberadaan kawasan industri itu nantinya tidak akan mematikan kawasan industri Makassar (KIMA) yang sudah ada, tetapi akan bersinergi dan diupayakan KIMA bukan lagi sebagai gudang penyimpangan komoditi saja tetapi lebih pada ke industri pengolahan,” kata Farid. (Ant)

Lihat juga...