Malam Tahun Baru, Warga Banyumas Nonton Pertunjukan Wayang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Hiruk-pikuk dan deru kendaraan bermotor sama sekali tak terdengar di malam pergantian tahun di Desa Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas.

Lantunan gending Jawa disertai merdu suara sinden menggantikan suara petasan yang biasanya marak di malam pergantian tahun.

“Mau menonton pertunjukan wayang kulit di rumah Pak Dewan Lulin, ada dua dalang yang main, bisa sampai pagi pertunjukannya, jadi malam tahun baruan di sana,” tutur salah satu warga Desa Kedungwulur Lor, Samsul, Selasa (31/12/2019) malam.

Samsul bersama beberapa tetangganya berduyun-duyun menuju lokasi pertunjukan wayang kulit. Tak lupa ia membawa perlengkapan sarung beserta jaket.

Adalah Lulin Wisnu Prajoko, anggota DPRD Banyumas periode 2019 – 2024 yang memilih untuk menggelar pertunjukan wayang kulit untuk menghibur warga desanya. Dua dalang asal Banyumas, Dalang Budi dan Dalang Karso dihadirkan, dengan membawakan lakon Bima Suci.

Lakon Bima Suci ini sangat digemari oleh penggemar wayang kulit, karena mengandung perenungan mendalam tentang asal dan tujuan hidup manusia. Lakon ini mengisahkan tentang perjalanan Bima mencari air kehidupan yang diwarnai berbagai tantangan.

“Sejak kecil saya sudah suka wayang kulit, sering nonton pertunjukan di desa dan pulang dini hari, bahkan kalau ada pertunjukan di desa tetangga, saya juga ke sana untuk nonton,” kata Lulin.

Kecintaan terhadap wayang kulit yang sudah terbangun sejak kecil ini, semakin terpupuk, saat masuk usia remaja, Lulin bekerja di tempat dalang kondang asal Banyumas, Dalang Gino. Ia selalu menyertai kemana pun almarhum dalang kondang tersebut pentas.

Sehingga, sampai saat ini, Lulin mengaku mempunyai tanggung jawab moral untuk ikut menjaga tradisi leluhur tersebut.

Anggota DPRD Banyumas tiga periode ini, minimal setahun sekali menggelar pertunjukan wayang kulit di rumahnya. Dengan tujuan untuk menghibur warga desa, mengenalkan wayang kulit kepada generasi muda dan upaya nguri-uri  atau melestarikan budaya supaya tidak punah.

“Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan, siapa lagi?” tuturnya.

Sebelum acara pertunjukan wayang kulit, selepas Maghrib diadakan santunan untuk warga miskin, anak yatim serta para janda di desa tersebut. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah dan bersilaturahmi antarwarga. Pertunjukan wayang kulit sendiri baru dimulai sekitar pukul 22.00. WIB.

Lihat juga...