Manjakan Pengunjung, Taman Burung TMII Terus Berbenah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus berbenah dalam upaya memberikan kenyamanan kepada pengunjung.

Pembenahan itu dengan melakukan renovasi mempercantik area Taman Burung TMII. Mulai dari pintu masuk, perbaikan Kubah Barat dan Kubah Timur, hingga menambah fasilitas.

Manajer Unit Taman Burung dan Taman Reptile Indonesia serta Museum Komodo TMII, M. Piter Kombo, saat ditemui di TMII, Jakarta, Rabu (4/12/2019). Foto; Sri Sugiarti

Manajer Unit Taman Burung dan Taman Reptile Indonesia serta Museum Komodo TMII, M. Piter Kombo, mengatakan, Taman Burung mulai berbenah sejak 2017 dengan merenovasi beberapa tahap.

Pertama, melakukan pembenahan pada Kubah Barat dan Kubah Timur. Kemudian kedua adalah perbaikan gerbang masuk Taman Burung TMII, sampai selasar ujung kiri-kanan, serta relokasi kios dan sebagainya.

Tahap ketiga, adalah pembuatan ampiteater terbuka untuk show burung di tengah-tengah danau wallace. “Ampiteater ini fasilitas baru yang mau dibangun berada di tengah-tengah danau, yang memisahkan antara Kubah Barat dan Kubah Timur,” ujar Kombo kepada Cendana News, Rabu (4/12/2019).

Pembangunan ampiteater untuk show burung di tengah-tengah Danau Wallace Taman Burung TMII, Jakarta, Rabu (4/12/2019). Foto: Sri Sugiarti

Kemudian yang direnovasi lainnya, itu ada auditorium untuk pertunjukan nonton flim video. Berlanjut renovasi karantina, klinik, gudang pakan dan penangkaran.

Selain itu, fasilitas umum pengunjung yang baru dibangun adalah toilet khusus penyandang disabilitas dan ruang ibu menyusui anak.

“Jadi toilet khusus disabilitas ini yang pertama di TMII, dan juga ruang ibu menyusui. Fasilitas ini untuk memudahkan mereka saat berkunjung ke Taman Burung,” ujar Kombo.

Kombo berharap dengan selesainya renovasi ini bisa meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke Taman Burung TMII.

Selain itu juga kata Kombo, renovasi ini diharapkan bisa meningkatkan potensi pelestarian yang ada di Taman Burung.

“Kita tahu bersama TMII sebagai lembaga konservasi memiliki 4 pokok unit fauna, yakni Taman Burung salah satunya. Jadi harapannya dengan renovasi ini tentu pelayanan dan upaya pelestarian untuk satwa Indonesia semakin berkembang ke depan,” imbuhnya.

Renovasi ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengunjung. Namun dikatakan Kombo, terlihat dari evaluasi tahun 2019 ini, dimana renovasinya belum selesai keseluruhan, tapi pengunjung Taman Burung TMII sudah melebihi target yang ditetapkan manajemen TMII.

“Kurang lebih kita melebihi target sekitar 5-8 persen sampai bulan Oktober ini. Harapannya, sampai Desember bisa melebihi 15-20 persen dari target jumlah pengunjung 160 ribuan per tahun. Dengan target pendapatan Rp 3,5 miliar per tahun,” ujar Kombo.

Terkait pendapatan dijelaskan Kombo, memang ada beberapa kebijakan yang masih dipertimbangkan untuk bisa dijalankan, seperti kenaikan tiket masuk.

Karena memang dengan adanya renovasi dan fasilitas baru ini tentu pelayanan lebih ditingkatkan. Sehingga tentunya harga tiket masuk perlu diimbangi.

Namun menurutnya, jika dibandingkan dengan tiket Taman Burung lainnya yang dibiayai sendiri, Taman Burung TMII ini harga tiket paling murah yaitu Rp 20.000 per orang.

“Jadi tidak bisa dibandingkan dengan Ragunan, karena dibiayai pemerintah. Tapi kalau dibandingkan dengan Fauna Land Ancol, kita paling murah untuk harga tiketnya,” ujarnya.

Kombo menjelaskan, Taman Burung TMII merupakan salah satu destinasi wisata di bidang satwa yang terbesar di Indonesia. Pemerintah DKI Jakarta menetapkannya sebagai wahana konservasi yang melindungi berbagai jenis burung langka di Indonesia.

Pembangunan Taman Burung ini atas ide cemerlang Ibu Negara yaitu Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.

Pada awalnya, Taman Burung dibangun tahun 1975 dengan hanya satu kubah dan diresmikan tanggal 19 Agustus 1976. Kemudian dikembangkan menjadi sembilan kubah pada tahun 1986 dan diresmikan oleh Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto, pada tanggal 27 April 1986.

“Gagasan dan ide Ibu Tien Soeharto sangat cemerlang membangun Taman Burung ini. Jenis burung dari seluruh Indonesia ditampilkan di sini, kita jadi mengenalnya,” ujarnya.

Menurutnya, dalam membangun Taman Burung ini, Ibu Tien Soeharto menggandeng ilmuwan-ilmuwan dan stakeholder yang kompeten, berkualitas dan mumpuni dalam bidang flora-fauna. Hingga Taman Burung ini memiliki koleksi ratusan burung.

“Saat ini kami punya 164 jenis burung dengan jumlah 1.000 ekor lebih, dan ditempatkan di dua kubah tersebut,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, ada juga penangkaran fokus pada jenis burung berkicau, burung Gagang Bayam Timur, Burung Merak Hitam dan lainnya.

Dengan dibangunnya Taman Burung, Ibu Tien Soeharto berharap masyarakat Indonesia dapat berkunjung ke habitat aslinya tidak jauh dan memerlukan biaya mahal. Tapi cukup dengan berkunjung ke TMII sudah bisa melihat ragam jenis burung khas Indonesia.

“Pemikiran Ibu Tien Soeharto sangat visioner yakni berupaya mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenal dan melestarikan fauna Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bangunan utama Taman Burung ini berupa sangkar-sangkar berbentuk kubah. Sembilan kubah yang dibangun menjadi dua kelompok besar. Yakni dimana masing-masing kelompok terdiri dari atas empat dan lima buah kubah yang saling berhubungan.

Kubah besar memiliki ukuran lebar 68 meter dan tinggi 30 meter. Sedangkan kubah terkecil bergaris tengah 20 meter, serta tingginya 9 meter.

Dua kubah besar Timur dan Barat ini dipisahkan sebuah celah, yang menggambarkan bayangan atau Garis Wallace.

Inilah menurut Kombo, yang membedakan Taman Burung dengan taman satwa pada umumnya. “Taman Burung TMII ini memakai konsep Garis Wallace, karya ilmuwan Inggris yang melihat perbedaan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur,” imbuhnya.

Dijelaskan dia, garis bayangan itu tergores mulai Kepulauan Sangir di sebelah utara Sulawesi ke arah selatan hingga Selat Lombok. Garis ini membelah Indonesia menjadi Timur dan Barat.

Menurutnya, kedua bagian kubah tersebut memiliki ragam fauna dan flora berbeda. Adanya kubah Timur dan Barat untuk memudahkan pengunjung mengetahui flora dan fauna yang ada di bagian timur dan barat.

Adapun kubah barat berisi flora dan fauna bagian Indonesia Barat. Begitu pula kubah timur menampilkan khazanah flora-fauna bagian Indonesia Timur yang tak kalah menarik.

Ketika pengunjung memasuki kubah barat, mereka bisa menikmati kicauan burung asal Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Seperti burung merak, jalak Bali, Elang, Enggang, dan Beo.

Saat keluar dari kubah barat, berlanjut dengan memasuki lorong pembatasan. Ini merupakan peristirahatan, sebelum kemudian memasuki kubah timur.

Di lorong perbatasan ini tersaji kafetaria yang menjual makanan dan minuman ringan.

Kafe ini juga menjual makanan untuk ikan-ikan di danau Wallace yang terhampar. Sambil memberi makan ikan, pengunjung bisa melihat lincahnya angsa-angsa putih berenang.

Di area ini, pengunjung juga bisa berfoto dengan burung jinak, yaitu Kakatua yang lucu dan menggemaskan. Satu kali sesi foto dengan si genit Kakatua, pengunjung cukup membayar Rp 5.000 rupiah.

Pengunjung foto dengan burung Kakatua di area lorong perbatasan Kubah Barat dan Timur Taman Burung TMII, Jakarta, Rabu (4/12/2019). Foto: Sri Sugiarti

Usai berfoto, pengunjung bisa melanjutkan penjelajahan ke kubah timur. Di kubah ini tersaji jenis burung asal Sulawesi, Maluku dan Papua. Seperti, burung Mabruk, Kasuari, Nuri, Cendrawasih, dan lainnya.

Di kedua kubah itu, burung-burung dibebaskan terbang melayang hinggap dari satu pohon ke pohon satunya. Tersaji juga pepohonan langka, seperti kenari, jeruk kingkit, dan pisang seribu.

Semua pohon langka itu memberi tempat nyaman bagi burung-burung tersebut sambil menikmati sajian pepaya, pisang, dan jagung.

Kombo berharap destinasi wisata Taman Burung ini dapat didatangi banyak masyarakat untuk lebih mengenal ragam burung khas Indonesia.

“Berwisata ke Taman Burung ini, pengunjung bisa belajar dan mengenal berbagai jenis burung yang terdapat di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...