Masyarakat Sumbar Diimbau Waspadai Potensi Bencana di Akhir Tahun

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

PADANG — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, jelang penutupan tahun 2019 masih terdapat potensi bencana di sejumlah daerah di Sumatera Barat. Bahkan hingga Ramadan 2020 mendatang, musim hujan masih berpotensi terjadi tidak hanya di Sumatera Barat, tapi dalam skala nasional.

“Perlu dilakukan upaya sosialisasi dan edukasi yang masif dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. BMKG tentunya siap untuk ikut serta, karena peran BMKG jelas menginformasikan kondisi terkini,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Padang, Selasa (24/12/2019).

Disebutkan, untuk 2019, BMKG telah menempatkan 50 unit EEWS (Earthquake Early Warning System). 10 unit di sekitar Kepulauan Mentawai yang merupakan jalur megathrust, dan sisanya di wilayah pesisir, seperti di Pesisir Selatan, Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Agam dan Pasaman Barat.

Dikatakan, dengan keberadaan penempatan EEWS itu, dapat meningkatkan dan mendukung upaya kesiapsiagaan.

Menurutnya, terkait pembangunan EEWS haruslah didukung oleh perubahan mindset dan kultur dari pemerintah daerah dan masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana.
Apalagi akhir-akhir ini Sumatera Barat sering dilanda bencana banjir dan banjir bandang.

“Saya mengimbau pada masyarakat Sumatera Barat perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrim dan hujan lebat, mulai libur natal 2019 dan tahun baru 2020, bahkan bisa sampai pada April 2020 mendatang. Umumnya hujan terjadi dimulai pada saat menjelang siang hingga sore hari,” sebutnya.

Dikatakannya, terkait informasi cuaca, masyarakat dapat mengakses melalui website resmi BMKG, baik melalui media sosial, media elektronik, hotline informasi, dan media lainnya. Khususnya pada posko NATARU 2019/2020.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengatakan, terkait kondisi cuaca di Sumatera Barat dari yang disampaikan BMKG juga telah disampaikan ke masyarakat melalui rapat sebelumnya bersama berbagai pihak dan BPBD.

“Soal cuaca memang tidak bisa kita antisipasi, cuma pencegahan dari dampak cuaca ekstrem yang harus kita lakukan,” sebutnya.

Di Sumatera Barat, kedepannya akan bergerak untuk memberikan pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat dalam hal pencegahan bencana, seperti halnya bencana banjir bandang.

“Dari pantauan dan laporan BPBD kerusakan alam terparah itu ada di Sungai Batang Hari. Sungai ini melintasi Kabupaten Sijunjung, Dharmasraya, dan Solok Selatan, karena ada aktifitas tambang emas. Ini yang jadi tugas kedepan,” tegasnya.

Lihat juga...