Medan Magnetik Bumi, Pelindung Bumi dari Badai Magnetik Angkasa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Walaupun tidak terlihat secara nyata, medan magnetik Bumi memiliki fungsi untuk melindungi Bumi dari pengaruh badai magnetik yang berasal dari luar angkasa.

Kepala Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Suaidi Ahadi, memaparkan bahwa medan magnetik bumi adalah suatu medan magnet yang membentuk lingkar lonjong pada Bumi.

“Medan magnetik ini walaupun tidak terlihat tapi memiliki fungsi yang cukup nyata. Salah satunya adalah untuk melindungi Bumi dari sinar dan badai kosmik,” kata Suaidi saat ditemui di Gedung C Kantor BMKG Jakarta, Selasa (31/12/2019).

Dengan adanya medan magnetik ini, maka plasma energi yang merupakan hasil peledakan kumpulan medan magnet di permukaan Matahari dan merayap dalam ruang hampa dalam tempo 24-48 jam mencapai Bumi, akan mampu diuraikan.

“Sehingga badai magnetik ini tidak akan mempengaruhi Bumi secara langsung. Walaupun terkadang efeknya akan muncul pada daerah kutub, yang kita kenal sebagai Aurora,” urainya.

Kalau di Lintang Utara, akan dikenal dengan nama Aurora Borealis dan jika di Lintang Selatan akan dikenal dengan nama Aurora Aurealis.

“Aurora itu sejatinya adalah gesekan plasma energi yang mengandung medan magnet di lapisan Ionosfer Bumi. Warnanya terlihat indah, karena memang merupakan hasil pembakaran atau bisa dikatakan timbul akibat panas yang tercipta,” ujar Suaidi.

Jika plasma energi ini tidak ditahan atau dipecahkan di lapisan Ionosfer maka reaksi partikel yang ada di lapisan pelindung Bumi akan mampu meninggalkan jejak berupa lubang di lapisan ozon.

“Selain itu, badai geomagnetik ini juga akan menyebabkan gangguan pada alat-alat elektronik di Bumi. Yang paling mudah terlihat adalah pada kabel listrik tegangan tinggi atau sutet,” ucapnya.

Salah satu contohnya adalah rusaknya sutet di Kanada pada tahun 2003 sebagai akibat beban yang berlebihan.

“Dalam sains, dikenal indeks biomagnetik yang disimbolkan dengan kapital K. Ada level 1 hingga 9, dengan level 9 memiliki kekuatan 500 nano Tesla,” papar Suaidi.

Level yang tercatat memiliki kemampuan merusak adalah dimulai pada K-5, yang memiliki kekuatan 125 nano Tesla.

“Jika tidak dihalangi oleh medan magnetik Bumi, biomagnetik dengan level K-5 ini mampu merusak seluruh peralatan elektronik di Bumi,” ujarnya lebih lanjut.

Perkembangan teknologi, menurut Suaidi, memunculkan suatu teknologi magnetometer yang berguna untuk memantau tingkat paparan gelombang magnetik.

“Di BMKG ini dikembangkan apa yang disebut fast alarm magnetometer. Yang memungkinkan memutus aliran listrik pada sutet sehingga tidak akan menyebabkan meledak, sutet sebagai akibat beban berlebih,” urainya.

Teknologi ini akan bermanfaat bagi perusahaan pengelola listrik dan tegangan tinggi untuk mengurangi risiko paparan gelombang magnetik.

“Kalau terbuka peluang untuk bekerja sama dengan PLN, bagus juga. Sehingga, tidak akan ada kejadian sutet meledak,” pungkasnya.

Lihat juga...