Memasuki Musim Tanam, Petani di Sumba Timur Mulai Menjual Ternak

Editor: Mahadeva

WAINGAPU – Memasuki musim penghujan, yang diperkirakan akan segera turun di akhir Desember nanti, petani di Desa Patawang dan Wanga, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menjual ternak peliharaannya.

Penjualan ternak dilakukan, karena petani butuh uang untuk membeli obat semprot rumput, serta membeli bibit jagung yang akan ditanam. Lahan kebun sudah dibiarkan terlantar sejak panen yang lalu. “Rata-rata, petani yang berada di perbukitan hanya mengandalkan lahan kebun, sehingga hanya menanam padi dan jagung saja saat musim hujan,” kata Marius Kana Talo, warga Desa Wanga, Senin (16/12/2019).

Maris Kana Talo petani Desa Wanga saat ditemui Cendana News, Senin (16/12/2019) – Foto : Ebed de Rosary

Marius menyebut, setiap tahun menjelang musim tanam petani pasti menjual hewan ternak peliharaan. Harga jual yang diterapkan petani cukup murah. Hewan-hewan ternak biasanya dijual di pasar kecamatan ataupun dibawa ke Kota Waingapu. “Biasanya harga jual ternaknya pasti lebih murah, apalagi saat ini mendekati hari raya Natal dan Tahun Baru, sehingga petani membutuhkan banyak uang untuk keperluan hari raya agamanya,” ujarnya.

Kambing biasanya dijual dengan harga berkisar antara Rp500 ribu sampai Rp700 ribu per ekor. Sedangkan kambing untuk ukuran sedang, biasanya dijual Rp700 ribu sampai Rp1 juta rupiah. Sementara untuk sapi, ukuran besar dijual dengan harga Rp10 juta sampai Rp15 juta. Namun saat pertengahan Desember, petani mulai melepasnya dengan harga Rp7 juta sampai Rp10 juta per-ekor. “Babi juga sama harganya dari yang biasanya Rp5 juta per-ekornya untuk ukuran besar, bisa turun menjadi Rp4 juta per-ekornya. Ayam juga dijual dengan harga Rp60 ribu sampai Rp80 ribu, dari harga normalnya Rp100 ribu per ekornya,” ujarnya.

Bandari Lamuru, warga Desa Patawang, Kecamatan Umalulu menambahkan, rata-rata petani di wilayah kabupaten Sumba Timur termasuk di Kecamatan Umalulu, tidak mempunyai uang tunai untuk belanja kebutuhan sehari-harinya. Jika membutuhkan banyak uang, petani akan menjual hewan ternak untuk kebutuhan di musim tanam. Termasuk saat hari raya, apalagi hasil perkebunan seperti kemiri produksinya anjlok akibat kekeringan.

Para petani di Pulau Sumba disebut Bandaria, kekayaan petani ada di hewan ternak. Karenanya, harga jual kuda, sapi dan kerbau bisa mencapao belasan juta rupiah per-ekor. Rata-rata, setiap petani memiliki satu atau dua ekor sapi, kuda dan kerbau. Sementara para keturunan bangsawan atau raja, mempunyai ratusan hewan ternak seperti sapi dan kerbau.

Lihat juga...