Mengenal Silat Minangkabau yang Diakui UNESCO

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengumumkan bahwa silat yang menjadi salah satu kebudayaan di Sumatera Barat, belum lama ini telah diputuskan dalam sidang UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) bahwa silat masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Gemala Ranti, mengatakan, silat atau silek dalam bahasa Minangkabau merupakan sebuah budaya yang telah ada sejak dahulu kala.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Gemala Ranti, yang ditemui di kantornya di Padang, Senin (16/12/2019)/Foto: M. Noli Hendra

Hingga kini silat sendiri telah berkembang ke seluruh penjuru daerah di Sumatera Barat, bahkan daerah di Nusantara dan juga ke beberapa negara telah banyak mempelajari silat.

Artinya, dengan telah masuknya silat yang dalam hal ini Pencak Silat ke UNESCO untuk WBTB, sebagai bukti bahwa silat adalah milik Indonesia dan sejarah adanya silat nyata ada dan berkembang dari Indonesia.

Sehingga kini, Pemprov Sumatera Barat memiliki tanggungjawab agar silat yang ada saat ini tidak hilang ditelan zaman dengan hadirnya berbagai bela diri. Tapi, berbicara silat Minangkabau, dapat dipastikan tidak bakalan punah seperti yang dikhawatirkan terebut.

“Kalau di Sumatera Barat  untuk yang  belajar silat, sebenarnya tidak bakalan menampakkan lokasi tempat latihannya. Atau kita kenal disembunyikan dari pantauan masyarakat umum. Nah dengan demikian, silat dari generasi ke generasi bakalan terus berlangsung,” katanya, Senin (16/12/2019).

Akan tetapi, Gemala menyatakan terkait silat, ada banyak hal yang perlu dikenal, apa dan bagaimana silat yang ada di Minangkabau. Perlu mengenal terlebih dahulu soal silat dan siapa orang yang melatih silat tersebut.

Dipahami silat juga mengajarkan seseorang bersilaturahmi, baik itu bersilaturahmi dengan Tuhan Yang Maha Esa, maupun dengan sesama manusia. Sehingga, hal ini erat kaitannya dengan spiritual, yang tidak hanya memperagakan dalam bentuk kekuatan tenaga, tapi juga menyimpan aspek spiritual.

Namun hal yang demikian, menurutnya, hanya bisa ditemukan pada silek atau silat tradisi, bukan pada pencak silat. Seperti di Minangkabau, cukup banyak aliran silek tradisi, seperti Silek Tuo, Silek Harimau, Silek Kumango, Silek Sitalarak, Silek Lintau, Silek Pauah, dan berbagai aliran lainnya.

“Lahirnya silek di Sumatera Barat ini, memiliki sejarah yang cukup panjang dan belum bisa dipastikan kebenaran asal-usul pertama silek berkembang di Sumatera Barat. Namun, keberadaan silek bagi masyarakat Minang pada tempo dulu, ialah bentuk pertahanan nagari/desa dari ancaman-ancaman pihak luar. Bahkan, tak jarang generasi-generasi Minangkabau yang merantau, syarat untuk dapat izin pergi, harus memiliki bekal bela diri silek,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, Suharman, mengatakan, bagi masyarakat di Minangkabau, belajar silat tidak hanya semata berlatih fisik. Seperti filosofi yang banyak dipahami oleh masyarakat Minangkabau, yaitu lahirnya silat itu juga mencari teman.

Maknanya orang yang belajar dan pandai silat, memiliki hubungan silaturahmi sesama manusia dengan baik. Karena silat mengajarkan seseorang untuk rendah hati, tenang, bijaksana, dan sikap yang menghargai orang lain.

Begitu juga dengan filosofi batin silat mencari Tuhan. Dalam belajar silat tidak hanya tentang fisik dan sikap yang baik. Tapi harus diiringi dengan ibadah yang taat. Di Sumatera Barat sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Islam.

Artinya yang belajar silat harus menjalankan ibadah, seperti salat lima waktu dan ibadah lainnya.

Sebab dalam tahapan belajar silat Minangkabau ini, ada istilah belajar silat di sasaran (lapangan tempat belajar silat) secara fisik, dan dan belajar silat yang harus didudukkan bersama guru atau tuo silek.

Di sini guru dengan murid akan berdiskusi tentang silat dibalik gerakan yang telah dipelajari. Maknanya dalam sebutan batin silat mencari Tuhan ini, silaturahmi tidak hanya kepada sesama manusia, tapi silaturahmi juga kepada Tuhan, harus dilakukan.

“Di Sumatera Barat, hampir seluruh pelosok daerah memiliki perguruan silat tradisi, yang muridnya diutamakan merupakan sanak saudara terdekat dari sang guru. Hal ini bisa ditemukan bagi daerah yang belajar silatnya, masih bersembunyi. Namun, seiring waktu berjalan, silat pun dapat dipelajari oleh masyarakat umum, tanpa ada embel-embel saudara atau bukan,” ungkapnya dihubungi terpisah.

Bahkan silat sendiri telah berkembang hingga ke sekolah, hingga ke perguruan tinggi pula, dan hebatnya telah merantau hingga sejumlah negara. Dengan demikian, silat tidak hanya menjadi jati diri bagi masyarakat Minangkabau, tapi silat juga turut menjadi kebanggaan bagi penduduk luar dari Indonesia.

Menurut catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, ada 12 aliran silat yang masih eksis keberadaannya di Sumatera Barat.

Dari jumlah tersebut, ada empat aliran yang bisa dikatakan khas di Minangkabau yaitu Silek Luncu, Padang Abai, Colau dan Kumango. Selain itu, terdapat banyak sasaran sebagai media pembelajaran dan pewarisan silat tradisi tersebut.

“Sekarang silat telah terdafar di UNESCO, karena dulu memang kita juga telah mengusulkan ke UNESCO. Karena dengan demikian silat bisa diakui oleh seluruh negara di dunia,” katanya.

Ia mengakui bahwa memang suatu kebanggaan bagi masyarakat Minangkabau karena memiliki sebuah warisan budaya yang telah ada ratusan tahun lalu, dan telah berkembang hingga ke sejumlah negara. Akan tetapi, masa depan dari silat, tetap memunculkan kekhawatiran.

Pada sidang ke-14 Komite Warisan Budaya Tak Benda, UNESCO menetapkan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Bogota, Kolombia, pada hari Rabu 11 Desember 2019 ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Sebelum masuk ke UNESCO Pencak Silat telah ditetapkan menjadi WBTB Indonesia dari berbagai provinsi di antaranya Penca dari Jawa Barat dan Silek Minang dari Sumatera Barat, Silek Tigo Bulan dari Riau, Pencak Silat Bandrong dari Banten, Silat Beksi dan Silat Cingkrik dari DKI Jakarta.

Lihat juga...