Mengenali Gejala Pneumonia dan Tata Laksana Perawatannya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Walaupun menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak, Pneumonia masih belum dipahami secara mendetil oleh masyarakat.

Ketidakpahaman akan gejala pneumonia dan apa yang menyebabkan pneumonia ini timbul menyebabkan angka pneumonia masih belum banyak mengalami penurunan selama empat tahun belakangan ini.

Ketua UKK Respirologi PP IDAI, DR. Dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) menjelaskan, bahwa pneumonia merupakan peradangan pada jaringan paru yang disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur.

“Pada saat paru meradang akibat infeksi mikroorganisme akan mengakibatkan jaringan paru rusak. Kalau jaringan paru rusak, artinya akan kekurangan oksigen. Kalau kekurangan oksigen artinya akan ada potensi meninggal,” kata Nastiti saat seminar media tentang Pneumonia pada Anak di Gedung IDAI Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Ia menyebutkan bahwa penyebab pneumonia pada anak bergantung pada jenjang umurnya.

“Kalau anak kurang dari satu bulan, yang biasa menyerang itu adalah Group B Streptococcus, E. coli, L. monocytogens, CMV dan HSV,” ucapnya.

Sementara pada umur 1-3 bulan, umumnya yang menyerang adalah virus S. pneumoniae, afebrile pneumonitis pathogens, dan S.aereus. Untuk anak umur 3 bulan hingga 5 tahun yang menyerang adalah Virus S. pneumoniae dan S. aereus.

“Pada saat sekolah, anak-anak juga masih bisa terserang melalui paparan Virus M. pneumoniae, S. pneumoniae dan C. pneumoniae,” papar Nastiti.

Gejala pneumonia yang bisa terdeteksi pada anak adalah jika ditemukan peningkatan laju napas hingga terjadi sesak napas yang semakin berat.

“Biasanya jika kita melihat nafas anak cepat dan batuk, maka kita bisa melakukan teknik hitung nafas, untuk memastikan apakah anak kita terkena pneumonia atau tidak,” papar Nastiti.

Sebagai patokannya, untuk anak kurang dari umur dua bulan, frekuensi nafasnya adalah 60 kali per menit, 2-12 bulan adalah 50 kali per menit dan anak umur 1-5 tahun adalah 40 kali per menit.

“Cara ini cukup efektif dan gampang untuk dilakukan oleh setiap orang tua,” tandasnya.

Gejala lain yang gampang terlihat, menurut Nastiti adalah chest indrawing. Yaitu suatu kondisi dimana dinding dada akan tertarik ke dalam saat anak bernafas.

“Gejala lainnya yang juga bisa terlihat adalah gelisah, tidak mau makan dan minum, mengalami kebiruan pada bibir, kejang hingga penurunan kesehatan. Dan jika gejala lain ini sudah muncul, artinya sudah waktunya untuk membawa anak ke pusat layanan kesehatan terdekat,” ujarnya lebih lanjut.

Pada saat anak dibawa ke pusat layanan kesehatan, perawatan akan dilakukan berdasarkan gejala yang terlihat.

“Saat anak dibawa karena pneumonia maka yang pertama dilakukan adalah memberikan suplai oksigen. Kalau tingkatnya masih rendah, maka hanya akan terpasang selang oksigen. Kalau lebih berat, maka akan dipasangkan masker. Dan kalau lebih berat lagi, maka akan dipasangkan ventilator,” urai Nastiti.

Untuk mengatasi dehidrasi, biasanya anak juga akan dipasangi infus, meningkatkan nutrisi anak, penambahan antibiotik dalam tahap kuratif dan terapi suportif lainnya yang dibutuhkan.

“Intinya, jangan memberi obat sembarangan. Apalagi obat-obatan yang belum teruji secara klinis. Dan ini, bukan hanya untuk pneumonia. Untuk penyakit lain juga,” pungkasnya.

Lihat juga...