Mi Locupan, Kuliner Khas Bangka-Tionghoa di Bandar Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kuliner mi locupan menjadi salah satu makanan khas Bangka yang identik dengan etnis Tionghoa. Mi locupan dikenal dengan nama lain mi pendek atau lao shu fen-dari bahasa Tiongkok, dan memiliki ciri khas berukuran pendek dan tebal.

Fafa dan Aon, suami istri asal Bangka Belitung, adalah salah satu warga yang membuka usaha mi ayam khas Bangka di Lampung Selatan, dengan mi locupan sebagai varian kuliner favorit.

Dikenal dengan Mi Khas Bangka 96 Aon, usaha berbagai jenis mi miliknya ada di Jalan Ikan Mas, Gudang Lelang, Bandar Lampung.

Kawasan yang dihuni oleh etnis Tionghoa yang sebagian dari Bangka, membuat usahanya cukup dikenal. Mi locupan menjadi salah satu menu yang paling diburu, terutama oleh warga asal Bangka yang rindu akan kelezatan mi asal tanah kelahirannya.

Fafa (kaos hitam, menuangkan kecap),pemilik usaha kuliner mie ayam khas Bangka, dibantu sejumlah karyawan melayani pelanggan yang menunggu di warungnya di jalan Ikan Mas Gudang Lelang,Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu (7/12/2019). -Foto: Henk Widi

Menurut Fafa, mi locupan sangat erat dengan budaya asalnya di pulau Bangka, yang dikenal dengan provinsi Bangka Belitung (Babel). Mi tersebut terbuat dari beras, sangat digemari karena proses pengolahan dilakukan secara tradisional.

Sepintas, mi locupan memiliki bentuk seperti cendol atau dawet. Disajikan dengan kuah atau digoreng, mi locupan menjadi menu sarapan pagi hari pengganti nasi.

“Pelanggan kerap menikmati locupan dengan kuah bakso tahu, pangsit rebus untuk menu sarapan dengan taburan ayam giling seperti menyajikan mi ayam, selain menyehatkan juga mengenyangkan,” ungkap Ci Fafa, sapaan akrabnya, saat ditemui Cendana News di warungnya, Sabtu (7/12/2019).

Ci Fafa menjelaskan, mi locupan dibuat berbeda dengan jenis mi untuk bakso dan mi ayam. Tekstur lembut dan bentuk yang unik menyerupai cendol, membuat mi locupan berbentuk bulat panjang atau pipih.

Ia memakai tepung beras pilihan sebagai bahan pembuatan mi locupan. Setelah beras dibuat menjadi tepung, dibuat adonan menggunakan air seperti pembuatan cendol.

Adonan yang sudah siap akan dimasukkan pada cetakan menyerupai saringan. Adonan tepung beras akan ditekan hingga melewati saringan yang terlebih dahulu disiapkan wadah berisi air mendidih di atas kompor gas. Saat jatuh ke air mendidih, adonan yang sudah dicetak menjadi mi akan mengembang dan matang. Ia membuat mi locupan pada malam hari untuk dijual pada pagi harinya.

“Bahan yang digunakan selalu segar dan proses pembuatan memakai cara tradisional untuk menjaga kualitas,” beber Ci Fafa.

Sebagai warga asal Bangka yang menjaga tradisi kuliner nenek moyang, mi locupan buatannya memiliki rasa yang khas. Penyajian dengan kuah bakso tahu bertabur daun bawang, seledri, makin segar dan taburan tauge, daun sawi, ayam giling. Tekstur lembut mi locupan akan makin terasa saat dimasukkan dalam mulut seperti menikmati cendol. Rasa gurih akan mendominasi dengan tambahan rasa pedas saat menambahkan sambal.

Stevani menikmati mi locupan di warung Mi Ayam Khas Bangka 96 Aon, jalan Ikan Mas, Gudang Lelang, Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu (7/12/2019). -Foto: Henk Widi

Ci Fafa menyebut, usaha yang ditekuninya sejak lima tahun silam menghabiskan mi locupan 15 kilogram sehari. Sebagai varian berbagai mi khas Bangka, ia juga menyediakan mi kecil, mi lebar, kwitiaw, bihun, bakso tahu, pangsit rebus dan goreng.

Bagi warga asal Bangka Belitung dan etnis Tionghoa, mi locupan menjadi menu favorit, terlebih penyedia kuliner tersebut terbilang langka.

“Pelanggan umumnya warga di sekitar gudang lelang, tapi juga berasal dari wilayah lain yang penasaran sensasi makan mi locupan,” ungkap Ci Fafa.

Stevani, salah satu penyuka kuliner mi locupan, menyebut menu tersebut sangat kaya gizi. Wanita asal Bangka Tengah tersebut mengaku kerap membuat mi locupan dari tepung beras dicampur pati jagung.

Sebagai salah satu makanan tradisional khas Tionghoa yang banyak ditemui di Bangka, ia bisa membelinya di Gudang Lelang Teluk Betung.

“Menikmati locupan saat pagi hari seperti suasana di Bangka tanah kelahiran saya, sekaligus bertemu perantau asal Bangka lain,” cetus Stevani.

Ia menyukai mi locupan, karena teksturnya yang lembut cocok untuk sarapan pada pagi hari. Memasuki musim penghujan di wilayah tersebut, mi locupan yang disantap dengan kuah hangat menjadi energi yang siap digunakan untuk aktivitas.

Kuah bakso yang ditaburi lada dan campuran saos pedas, daging ayam giling, menjadi penggugah selera saat menikmati mi locupan.

Selain mi locupan, ia juga kerap menikmati menu lain berupa mi ayam, mi lebar, dan pangsit khas Bangka. Sebagai pengobat kerinduan, sejumlah menu diakuinya bisa ditebus dengan harga Rp13.000 untuk mi ayam, dan Rp16.000 untuk mi locupan.

Selain menikmati mi locupan di lokasi penjualan, ia kerap membeli mi locupan untuk dibawa ke rumah dan menikmatinya bersama keluarga.

Lihat juga...