Minangkabau Festival 2019, Lestarikan Rendang di TMII

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kemeriahan pesta budaya Minang bertajuk Minangkabau Festival 2019 digelar di Anjungan Sumatera Barat (Sumbar)  Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Sabtu-Minggu (7-8/12/2019), menghadirkan ragam kegiatan, diantaranya bazar makanan dan kuliner khas Minang, fashion show, lomba memasak rendang dan talkshow kuliner Minangkabau.

Ketua Dekranasda Sumatera Barat, Nevi Zuairina Irwan Prayitno, mengatakan, Minangkabau Festival ini diselengarakan yang ketiga kalinya dengan tujuan untuk  pengenalan budaya dan mempromosikan destinasi wisata  Sumbar.

Insyaallah kegiatan ini akan terus berlangsung dalam upaya mengenalkan budaya dan wisata Sumbar kepada masyarakat luas dan dunia,” kata Nevi pada talkshow kuliner Minangkabau di area Anjungan Sumatera Utara TMII, Jakarta, Minggu (8/12/2019).

Terkait lomba masak rendang, dia menjelaskan, bahwa pihaknya terus menggerakkan lomba masakan khas Sumbar ini dengan menyertakan seluruh masyarakat Indonesia.

Belum lama ini,  pihaknya telah mengadakan lomba marandang atau lomba masak rendang untuk ibu-ibu PKK se- Indonesia. Peserta lomba adalah ibu-ibu gubernur dari seluruh Indonesia.

“Dan juara pertama itu dari Jawa Tengah, ibu gubernurnya langsung yang masak rendang, rasanya seperti orang Padang masak. Jadi saya juga khawatir nanti jangan-jangan rendang dieskspor  dari Jawa. Ibu gubernurnya sudah pintar masak rendang,” seloroh Nevi disambut gelak tawa hadirin.

Nevi mengatakan, dari zaman nenek moyang, rendang itu merupakan khas masakan Sumbar. Jadi bukan seperti yang diakui oleh negara Malaysia.

Maka dalam upaya pelestarian kuliner Sumbar, digelarlah lomba masak rendang di Anjungan Sumbar untuk memeriahkan Minangkabau Festival 2019. Lomba masak rendang ini diikuti oleh 23 anjungan provinsi yang ada di TMII.

“Saya harapkan peserta 23 provinsi lomba masak rendang, dimohon jadi agen promosi rendang sedunia, bukan se-Indonesia,” tukas Nevi Zuairina Irwan Prayitno, yang merupakan istri dari gubernur Sumbar, Irwan Prayitno.

Dia menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus mempromosikan khazanah budaya Sumbar. “Promosi Sumbar ini kalau perlu tiap hari hingga ke luar negeri,” ujarnya.

Nevi berkisah kalau dirinya telah melakukan promosi masakan rendang hingga ke luar negeri. Namun dia mengaku sedih karena masih banyak orang yang belum tahu Sumbar itu berada di wilayah mana.

“Kita tentu sebagai orang Sumbar akan hancur lebur perasaan karena rendang sudah mendunia,  tapi ternyata tetap nggak tahu Sumbar dimana. Bahkan Sumbar itu dibilangnya Bali. Dan Indonesia dikenalnya itu Bali,” tukasnya.

Ketua Dekranasda Sumatera Barat, Nevi Zuairina Irwan Prayitno (busana muslim coklat) dan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vita Datau (baju merah) pada talkshow kuliner Minangkabau di area Anjungan Sumatera Utara TMII, Jakarta, Minggu (8/12/2019). -Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, Bali sudah mempromosikan diri sejak tahun 1930 hingga kini pun terus gencar dilakukan.  Untuk itu Pemda Sumbar melalui Dinas Pariwisata terus mempromosikan seni budaya, kuliner dan destinasi wisatanya.

“Dua hari ini dalam Minangkalau Festival, insyaallah budaya, kuliner dan wisata kami lebih dikenal,” ujar Nevi.

Nevi  berharap kegiatan ini bisa menambah wawasan masyarakat terhadap keanekaragaman budaya Minangkabau.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vita Datau, mengatakan, Indonesian Gastronomy Network sedang mempromosikan gerakan nasional memasak makanan khas Indonesia dari rumah.

Apapun itu masakannya, sebut dia, harus dimulai dari rumah dilakukan oleh para ibu-ibu. Memang tak dipungkiri banyak sekali ibu bekerja yang tidak punya waktu untuk masak. Dia juga tidak memperkenalkan masakan Indonesia pada anaknya.

“Pelestarian itu mahal lho, ibu-ibu. Dan   yang bisa melestarikan itu awalnya dari rumah. Saya berkobar bicara tentang pariwisata, tapi tiba-tiba turis datang ke sini. Ternyata anak mudanya tidak bisa masak rendang,” tukasnya.

Dia menegaskan, pelestarian itu pondasi yang harus dimulai dari ibu-ibu dengan mengajarkan masak rendang kepada anaknya.

“Ayuk ibu-ibu ajarkan masak rendang ini ke anak-anak kita, laki atau perempuan. Bukan berarti nyuruh yang laki masak, paling tidak dia bisa bercerita,” ujar Vita.

Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Sumbar, Novrial menambahkan, pihaknya sedang dalam penyusunan roadmap rendang warisan dunia ke UNESCO.  Dia berharap meskipun tidak tahun depan, tapi rendang ini tetap didaftarkan agar mendapatkan pengakuan dunia.

Karena menurutnya, pihaknya tidak ingin rendang itu menjadi milik pihak lain. Tetapi semua masyarakat Indonesia bisa memasaknya dengan menggunakan merek apapun tidak masalah. Tetapi  originalitasnya  adalah Sumbar.

“Teman dari Maluku Utara bisa bikin rendang, dan alhamdulilah bisa jual tapi orang tetap tahu bahwa rendang adalah kuliner khas Sumbar,” ujar Novrial.

Ema Lukman, salah satu peserta lomba merandang pada Minangkabau Festival 2019. Dia merupakan peserta dari Anjungan Jambi TMII yang turut memeriahkan lomba ini bersama anjungan daerah lainnya.

“Kita ikut lomba marandang untuk turut mempopulerkan redang. Kita berharap jadi juara pertama, mudah-mudahan ya,” kata Ema kepada Cendana News.

Ema berharap lomba ini diadakan terus supaya budaya marandang itu lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Lihat juga...