Minyak Relatif Stabil Meskipun OPEC+ Berencana Memperdalam Pemotongan

Ilustrasi - harga minyak dunia. Foto: Antara

NEW YORK — Minyak berjangka relatif stabil untuk sedikit menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), meskipun OPEC dan sekutunya merencanakan salah satu pengurangan produksi terdalam dekade ini untuk mencegah kelebihan pasokan.

Kesepakatan itu akan berlaku untuk periode singkat yang tidak terduga selama tiga bulan pertama 2020, tanpa perpanjangan yang telah diincar pasar, dan akan mengecualikan kondensat dari pemotongan sekutu non-OPEC, seperti Rusia.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Februari naik 0,39 dolar AS atau 0,6 persen, menjadi ditutup pada 63,39 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari berakhir di 58,43 dolar AS per barel, tidak berubah dari penyelesaian sebelumnya, setelah mencapai tertinggi sejak akhir September di awal sesi.

Panel menteri anggota kunci Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan produsen sekutu yang dipimpin oleh Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, merekomendasikan pendalaman pengurangan produksi sebesar 500.000 barel per hari (bph) pada kuartal pertama 2020, menurut Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

OPEC+ telah setuju untuk secara sukarela mengurangi pasokan sejak 2017 untuk melawan peningkatan produksi dari Amerika Serikat, yang sekarang merupakan produsen top dunia. Pembatasan pasokan 1,2 juta barel per hari ditetapkan akan berakhir pada Maret. Pemotongan 1,7 juta barel per hari akan berjumlah 1,7 persen dari pasokan global.

Para menteri OPEC berkumpul pada Kamis (5/12/2019) di Wina dan OPEC+ akan bertemu lagi pada Jumat untuk memberikan suara pada kesepakatan.

“Kami sudah menunggu untuk melihat seperti apa pengumuman yang sebenarnya akan terjadi, jadi itu sebabnya minyak naik turun,” kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago.

Minyak mentah berjangka AS membalikkan kenaikan awal dan Brent memangkas kenaikan setelah panel menteri juga merekomendasikan mengecualikan data kondensat dari angka produksi minyak untuk Rusia dan anggota non-OPEC lainnya.

Kondensat adalah jenis minyak mentah bernilai tinggi yang diekstraksi sebagai produk sampingan dari produksi gas.

Untuk Rusia, itu berarti bahwa sekitar 760.000 barel per hari kondensat akan dikeluarkan dari perhitungan, yang berarti produksi dasar Rusia yang digunakan untuk pemotongan akan turun menjadi sekitar 10,66 juta barel per hari dari 11,42 juta barel per hari.

“Itu adalah cara bagi Rusia untuk bersaing dengan andalan serpih AS,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York. “Jadi apa yang tampak seperti potongan agresif mungkin berakhir menjadi lumayan ketika kita melakukan analisis akhir.”

Upaya OPEC untuk memperdalam pemotongan dan meningkatkan kepatuhan anggota juga didorong oleh pemimpin kelompok itu, Arab Saudi, berharap melihat harga minyak yang lebih tinggi untuk mendukung anggarannya dan penawaran umum perdana (IPO) raksasa minyak milik negara Saudi Aramco.

IPO Aramco akan menjadi yang terbesar dalam sejarah, tetapi masih jauh dari nilai dua triliun dolar AS yang lama dicari oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

“Menjadi semakin jelas bahwa Saudi bersedia untuk menimbulkan rasa sakit jangka pendek tambahan setidaknya sampai IPO Saudi Aramco memperoleh definisi yang lebih besar dan penerimaan yang menguntungkan,” kata Jim Ritterbusch, presiden perusahaan penasihat perdagangan Ritterbusch and Associates, pada sebuah catatan. [Ant]

Lihat juga...