MUI: Satukan Pemahaman ‘Ukhuwah Islamiyah’ untuk Sejahterakan Umat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatukan pemahaman bersama organisasi Islam dalam upaya membangun bangsa dan mensejahterakan umat.

Wakil Menteri Agama ( Wamenag), Zainut Tauhid Sa’adi, mengatakan, Indonesia dengan populasi umat muslim terbesar di dunia, memiliki tanggungjawab untuk memajukan bangsa dengan selalu menjaga ukhuwah islamiyah.

Karena sangat dipahami juga bahwa lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni menurutnya, berkat perjuangan panjang rakyat Indonesia. Utamanya, menurut Zainut, adalah perjuangan para ulama dan umat Islam dari generasi ke generasi.

“Perjuangan umat Islam, itu dapat dilakukan dalam bentuk menjaga keutuhan negara dan mensejahterakan masyarakat,” kata Zainut dalam acara Silaturahim Nasional Forum Ukhuwah Islamiyah 2019, Refleksi Perjalanan Penguatan Ukhuwah Islamiyah di Indonesia di kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Zainut menyakini, bahwa berdirinya suatu bangsa adalah wujud perjanjian kebangsaan yang berlandaskan kesepakatan bersama.

Oleh karena itu, menurutnya, sangatlah penting kita sebagai bangsa menunjukkan sikap menghormati nilai-nilai negara. Yaitu, Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan peraturan perundang-undangan.

Dia juga mengingatkan agar umat Islam dapat memahami mana wilayah yang memang dimaklumi berpotensi terjadi perbedaan (majal al-ikhtilal).

“Saya mengimbau agar umat Islam semakin meningkatkan perannya di wilayah publik dengan ilmu dan kapasitas yang dimilikinya,” kata Zainut Tauhid Sa’adi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MUI Pusat.

Dalam forum ini, Zainut berharap umat Islam harus menyamakan pemahaman satu masalah, dengan tetap memberikan penghormatan terhadap perbedaan.

Karena menurutnya, perbedaan pandangan dalam ubudiyah adalah satu keniscayaan. ” MUI memberikan suatu pedoman yakni ketika perbedaan masih dalam ikhtilaf, maka, perbedaan harus diterima dengan tasamuh dan toleran,” ujarnya.

Dia juga menyayangkan, karena umat Islam selalu disibukkan dengan permasalahan tidak fundamental. Sehingga sering terjadi perpecahan antar sesama umat.

Maka dia mengingatkan perlunya memperkuat persatuan umat agar dapat tercipta kesejahteraan masyarakat keseluruhan.

“Umat Islam sangat besar jumlahnya, tapi tidak memiliki peranan yang cukup besar. Ini yang perlu menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.

Maka melalui forum ini, Zainut berharap umat Islam dari berbagai ormas dapat merefkeksikan diri dalam mengambil peran di segala bidang untuk memajukan bangsa dan mensejahterakan umat Islam.

Ketua MUI Bidang Pengkajian dan Penelitian, Maman Abdurrahman, menegaskan, bahwa negara Indonesia memberikan jaminan kepada rakyatnya untuk menjalankan agamanya.

Ini dikarenakan menurutnya, bangsa Indonesia sangat majemuk dengan ragam agama dan budaya. Yakni dimana kemajemukan itu dapat dilihat dalam berbagai ormas Islam yang memiliki program berbeda dalam gerakannya.

Dalam satu tujuan menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, MUI memiliki pedoman dalam memperkuat ukhuwah. Yaitu sebut dia, taswiyatul manhaj atau kesatuan pemahaman, dan tansikul harakah atau kesatuan gerak.

“Jadi, ketika ada perbedaan dalam furuiyah, umat sudah bisa menerima tanpa harus dipertentangkan,” tukas Maman.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ukhuwah sudah menjadi bahasa Indonesia. Dimana kata ukhuwah tidak asing bagi siapa pun dalam kehidupan di Indonesia.

Ungkapan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah laniyah, jelas dia, yaitu ukhuwah yang didasarkan atas ajaran Islam bagi kaum muslimin.

“Jadi, ungkapan ini bukan hanya memiliki sejarah panjang dalam membangun umat dan bangsa. Tapi juga mengandung makna spirit teologis, spiritual, dan ideologis,” jelas Maman.

Secara sosiologis, sebut dia, ukhuwah merupakan fitrah kehidupan khususnya manusia. Sehingga mereka merasa tenang dan tenteram menjalani kehidupan berteman dengan orang lain.

“Dalam Islam, ukhuwah itu ditata dan dibangun lewat ibadah. Seperti  salat berjamaah, salat idul fitri, idul adha dan silaturahmi dengan sesama,” ujarnya.

Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI, Buya Adnan Harahap, mengingatkan umat Islam agar menegakkan ukhuwah sebagaimana disyariatkan agama dengan selalu memuliakan pendahulunya.

Menurutnya, umat Islam harus senantiasa memberikan manfaat bagi sesama, dan jangan memberi mudharat, tidak menguntungkan serta merugikan orang lain.

“Jika tidak bisa menggembirakan orang lain, jangan sampai membuat orang lain susah. Jika tidak bisa memuji, jangan mencaci. Karena sejarah menekankan pentingnya umat Islam benar-benar menegakkan ukhuwah islamiyah,” tukasnya.

Silaturahim Nasional Forum Ukhuwah Islamiyah MUI ini dihadiri oleh sekitar 50 pimpinan ormas Islam dari seluruh Indonesia. Dalam pertemuan itu mereka sepakat menyatukan pemahaman pentingnya meningkatkan ukhuwah Islamiyah.

Lihat juga...