Nelayan Sebut Erupsi GAK Berdampak Positif

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Situasi di sejumlah objek wisata bahari di pesisir Lampung Selatan (Lamsel) tetap normal, meski Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami erupsi. Erupsi itu bahkan dianggap menguntungkan bagi nelayan dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Marsa, salah satu nelayan di pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, mengaku sudah terbiasa dengan erupsi GAK. Sebab, jika gunung berapi di Selat Sunda tersebut aktif akan berdampak positif bagi nelayan. Arus hangat aktivitas GAK akan mengundang ikan pelagis atau ikan yang hidup berkelompok.

Marsa juga menyebut, nelayan sudah terbiasa dengan aktivitas erupsi GAK yang mengeluarkan kolom abu. Area tangkap bagi nelayan yang berada beberapa mil dari GAK, menurutnya tidak terpengaruh oleh erupsi.

Ia juga menyebut ketinggian gunung yang semula mencapai 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl) berbentuk kerucut tersebut, kini hanya mencapai 175 meter.

Berbeda dengan sebelum tsunami 22 Desember 2018, gunung di laut tersebut sulit terlihat secara visual. Sebab, saat kondisi berkabut hanya terlihat gugusan pulau Rakata Besar, pulau Sertung, pulau Panjang dan pulau Sebesi.

Marsa, nelayan di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, saat melakukan perbaikan jaring, Selasa (31/12/2019). -Foto: Henk Widi

Erupsi GAK dengan kolom abu sekitar 200 meter menurutnya masih teramati dengan intensitas tipis, sehingga menjadi penanda aktivitas gunung aktif tersebut.

“Bagi nelayan, erupsi gunung anak Krakatau tidak ada pengaruhnya sama sekali, bahkan justru nelayan bisa mendapat tangkapan yang banyak, sebab arus laut menjadi lebih hangat disukai oleh ikan di sekitar perairan barat Lamsel,” terang Marsa, saat ditemui di pantai Minang Rua, Selasa (31/12/2019).

Rahmat, pengelola objek wisata di sekitar pesisir pantai, selaku ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Ragom Helau, juga memastikan erupsi GAK justru menjadi daya tarik. Sebab, wisatawan yang berlibur di pantai Belebuk, pantai pulau Mengkudu dan pantai pulau Sekepol bisa melihat aktivitas GAK.

Sejumlah wisatawan bahkan disebutnya bisa membedakan posisi GAK, pulau Sebesi, pulau Rakata Besar, pulau Sertung dan pulau Panjang.

Sebelumnya, GAK juga sempat erupsi dengan kolom asap membubung pada 25 Maret, 13 November dan terakhir pada Senin (30/12). Bagi sektor pariwisata bahari yang langsung berhadapan dengan Selat Sunda, ia menyebut jumlah wisatawan bertambah. Fasilitas yang dibenahi dengan adanya kano, perahu dan jet ski di pantai pulau Mengkudu banyak diminati pengunjung saat libur Nataru.

“Beberapa wisatawan bahkan memilih akan menginap di pulau Mengkudu dan pantai Belebuk untuk menikmati pergantian tahun,” ungkap Rahmat.

Rahmat juga menyebut, erupsi GAK yang pernah menimbulkan tsunami pada 22 Desember 2018 silam tidak mempengaruhi sektor parisiwata. Sejumlah isu yang beredar melalui media sosial terkait adanya gempa bumi dahsyat pada akhir tahun, juga tidak berpengaruh pada sektor wisata pantai.

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (31/12/2019). -Foto: Henk Widi

Senada, Andi Suardi, kepala pos pengamatan gunung anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, menyebut erupsi merupakan hal normal. Sebab, sebagai gunung api aktif pelepasan energi dari dalam kawah masih tetap berlangsung usai runtuhnya gunung di laut yang disebut menjadi penyebab tsunami Selat Sunda tersebut.

“Secara visual, gunung di Selat Sunda tersebut tidak teramati karena samar dari pos pengamatan,” papar Andi Suardi.

Andi Suardi juga menyebut, aktivitas kegempaan pada GAK terpantau dominan oleh tremor menerus. Kegempaan terpantau dengan amplitudo maksimum 41 mm dan durasi 1 menit.

Hingga Selasa (31/12) pagi, terpantau erupsi GAK mencapai 18 kali dengan hembusan kolom abu ke arah Selatan. Berstatus waspada (level II), ia menyebut wisatawan dilarang mendekat di kawasan tersebut.

Lihat juga...