NTT Raih Juara Umum Parade Lagu Daerah ke-36 TMII

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Meo Lakaan menghantarkan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meraih juara umum Parade Lagu Daerah ke-36 Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pengamat Kehormatan Parade Lagu Daerah ke-36, Bambang Parikesit, mengatakan, ajang ini sebagai sarana untuk promosi seni budaya dan memperkenalkan karya cipta musisi daerah. TMII memberikan ruang kreatif untuk pencipta, penyanyi dan pemusik sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap lagu-lagu daerah.

Pengamat Kehormatan Parade Lagu Daerah ke 36, Bambang Parikesit (batik biru) saat membacakan pemenang Parade Lagu Daerah ke-36 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (7/12/2019) sore. -Foto: Sri Sugiarti

Menurutnya, semua peserta tampil memukau dengan lagu khas daerahnya hingga para juri kesulitan dalam menentukan pilihan terbaik.  Namun tentu dari kesemua penampil, para juri pun harus memilih yang terbaik menjadi juara umum kompetisi lagu daerah tingkat nasional yang rutin diadakan TMII, setiap tahunnya.

“Juara umum Parade Lagu Daerah ke-36, dan berhak mendapatkan piala bergilir dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, piala dan piagam TMII, serta uang pembinaan sebesar Rp15 juta dari Direktur Utama TMII, adalah Nusa Tenggara Timur,” kata Bambang saat membacakan pemenang Parade Lagu Daerah ke 36 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (7/12/2019) sore.

Menurutnya, parade ini sangat menarik dan tentunya managemen TMII berharap kualitas peserta ke depan lebih bagus lagi. Dia juga berharap tahun depan pesertanya akan bertambah.

“Harapan kami, semangat ini harus dipupuk dan tahun depan semua provinsi ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya bangsa,” ujar Bambang Parikesit yang juga menjabat sebagai Dewan Komisaris TMII.

Dian Hadipranowo, salah satu juri memberikan apresiasi untuk semua peserta. Menurutnya, semua peserta sudah menjalankan apa yang diharusnya dalam kompetisi ini. Salah satunya dalam penataan musik diharuskan memasukkan unsur keroncong.

Menurutnya, ada yang telak-telak memasukkan unsur keroncong dalam instrumen lain dari  masing-masing daerah. Tapi  ada yang rasanya keroncong saja tanpa melibatkan instrumen lain.

“Saya apresiasi untuk semua peserta. Karena kontes ini sesuatu yang simple, siapapun pemenangnya harus tetap berkarya lestarikan budaya bangsa,” ujar Dian saat memberikan arahan penilaian di atas panggung.

Gilang Ramadhan, salah satu juri juga mengatakan, bahwa ekspektasi kompetisi ini adalah peserta harus berfokus pada lagunya, baru kemudian ke liriknya.

“Jadi ekspektasinya lagu dulu baru lirik. Berangkat dari itu, baru ke hal lain yang juga sangat penting,” ujar Gilang saat memberikan arahan penilaian di atas panggung.

Kepala Seksi Kesenian Bahasa dan Sastra Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Paulina Samosir (baju tenun merah) saat menerima piala sebagai juara umum Parade Lagu Daerah ke-36 di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Sabtu (7/12/2019) sore. -Foto: Sri Sugiarti

NTT memperoleh beberapa penghargaan dalam parade lagu daerah yang diikuti 15 provinsi dari seluruh Indonesia. Yakni berhasil meraih pencipta lagu terbaik, penyanyi  terbaik, penata musik unggulan,  dan penata musik unggulan. Atas penghargaan tersebut, NTT berhak menjadi juara.

“Senang banget, nggak nyangka jadi juara umum. Bangga ya, TMII telah memberikan ruang dan waktu untuk generasi muda NTT berkreasi menjadi yang terbaik di ajang nasional ini,” kata Kepala Seksi Kesenian Bahasa dan Sastra Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Paulina Samosir kepada Cendana News usai menerima piala.

Lagu Meo Lakaan berkisah tentang kenangan dan sanjungan untuk Mgr Gabriel Manek Svd yang telah mengharumkan nama Belu. Putra-putri Belu seperti beliau,  biasanya diibaratkan dengan manuaman lakaan (bahasa tetun: sang jago atau ayam jantan dari lakaan). Atau  gelar timor tengah dan timur.

“Nama Mgr Gabriel Manek disanjung dalam lagu ini karena jasanya. Dia laksana pahlawan sang jago dari lakaan yang berkokok dari timur hingga ke barat untuk mewartakan sabda dan perintah Tuhan. Berawal dari Lahurus hingga ke Larantuka dan Colorada,” jelas Paulina.

‘Meo Lakaan’ ini diciptakan oleh Tamarizky Tfuakani, dengan penataan musik nan apik oleh Agastya Rama Listya dan Yohanes Ruswanto.

Merdunya lagu ini didendangkan oleh generasi muda NTT, yaitu Miranti Koa, Yokamina Adolfina Manuaon dan Joseph Richardo Wunda.

Lihat juga...