ODGJ di Sikka Masih Diperlakukan Kurang Manusiawi

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Banyak masyarakat di Sikka masih menganggap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) merupakan anggota masyarakat yang tidak perlu mendapatkan perhatian khusus sehingga penanganan yang dilakukan pun cenderung tidak manusiawi.

“Banyak ODGJ yang dipasung dan tidak mendapatkan perawatan yang memadai dan diperlakukan dengan baik,” kata Dwi Angelina Ester Santoso, psikolog dan salah seorang pendiri Yayasan Profisio Mof, yang ditemui di kantornya, Sikka, Kamis (5/12/2019).

Dwi Angelina Ester Santoso, psikolog dan salah seorang pendiri Yayasan Profisio Mof yang juga staf di Dinas Sosial Pemkab Sikka, NTT, saat ditemui di kantornya, Kamis (5/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Ester sapannya, pihaknya selalu memberikan konseling dan membantu ODGJ agar bisa mendapatkan perlakukan yang lebih manusiawi dari keluarga dan masyarakat.

Ia menyesalkan masih banyak anggota keluarga yang selain memasung ODGJ, banyak juga ODGJ dan disabilitas yang dibuatkan tempat tinggal terpisah dari rumah anggota keluarga.

“Mereka sering ditempatkan di tempat tinggal yang dibangun sendiri di luar rumah anggota keluarga. Entah apa alasannya namun hal ini tentu tidak berdampak baik bagi perkembangan mental mereka,” ungkapnya.

Ester yang juga staf di Dinas Sosial Pemkab Sikka meminta agar pemerintah bisa membangun rumah singgah atau panti khusus untuk merawat ODGJ dan kaum disabilitas yang terlantar dan memerlukan penanganan khusus.

Bila ada tempat tersebut, dirinya yakin para ODGJ akan mendapatkan pembinaan mental dan pengobatan secara rutin dan teratur sehingga akan berpengaruh kepada kesembuhan mereka.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo saat membuka kegiatan ODGJ mengatakan hingga bulan November 2019 jumlah ODGJ di  Sikka sebanyak 688 orang.

“Ada sebanyak 19 orang diantaranya yang masih dipasung dan ada 7 orang bebas pasung. Perlu dilakukan pendataan lagi karena data ini belum semuanya terangkum,” ungkapnya.

Robi sapaannya pun menegaskan agar pada tahun 2020 nanti semua ODGJ di Sikka harus terbebas dari pasung sehingga dirinya akan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk mewujudkannya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Sikka, Petrus Herlemus, menjelaskan, sebanyak 688 ODGJ tersebut dirangkum dari 25 Puskesmas di Sikka.

Jumlah tertinggi, kata Pet, sapaannya berada di Kecamatan Nita sebanyak 75 orang, dikuti Kecamatan Bola berjumlah 49 orang, Lela 46, Alok Timur 42 dan Kecamatan Nele 42 orang.

Lihat juga...