Omzet Pedagang Oleh-oleh Jalinsum Anjlok Terimbas Jalan Tol

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sejumlah pedagang oleh-oleh di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalisum) mengaku omzet penjualan anjlok. Beroperasinya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Lampung hingga Palembang berdampak signifikan bagi pelaku usaha jika dibandingan beberapa waktu terakhir.

Suminah, pedagang oleh-oleh seperti kerupuk kemplang, keripik dan makanan tradisional mengaku anjloknya omzet akibat kendaraan memilih melintas di jalan tol. Kondisi itu berimbas pedagang oleh oleh hanya mengandalkan pengendara motor dan mobil yang masih melintas di Jalinsum.

“Meski masih ada bus antar kota antar provinsi (AKAP) dan antar kota dalam provinsi (AKDP) melintas, penghasilan dari berjualan oleh oleh turun,” ungkap Suminah saat ditemui Cendana News di tempatnya berjualan, Selasa (31/12/2019).

Sebagai perbandingan saat libur akhir pekan sebelum tol beroperasi ia bisa mendapat omzet Rp500 ribu perhari. Saat liburan panjang Idul Fitri ia bahkan bisa mendapat omzet rata rata Rp1 juta perhari.

“Setelah tol beroperasi omzet Rp200 ribu per hari sudah sangat besar,” terangnya.

Ia terpaksa mengurangi stok barang yang akan dijual terutama oleh oleh yang gampang kadaluarsa dan memperbanyak minuman yang bisa tahan lama karena sebagian titipan dari produsen.

Suminah menyebut oleh oleh yang dijual berupa kerupuk kemplang rata rata dijual Rp7.000 hingga Rp8.000 berisi lima bungkus. Sebagian oleh oleh jenis keripik pisang dijual Rp10.000 hingga Rp15.000 menyesuaikan ukuran.

“Meski sebagian oleh-oleh telah diturunkan harganya namun karena pembeli berkurang omzet tetap anjlok. Saat ini kendaraan jenis travel dan motor masih menjadi penyumbang pendapatan saat libur Nataru,” tambahnya.

Andini, pedagang oleh oleh di Jalinsum KM 1 Bakauheni juga mengamini adanya penurunan omzet. Ia masih sedikit beruntung karena sebagian pengendara dari jalan lintas timur tidak melintas melalui jalan tol.

“Penurunan sangat terlihat karena banyak pengendara memilih melintas ke jalan tol, saya dan pedagang lain hanya mendapat konsumen dari pengendara dari jalinsum dan jalantim,” papar Andini.

Penurunan oleh oleh yang dijual menurut Andini sudah terlihat sejak libur Idul Fitri bulan Juli silam. Saat libur Nataru dengan tersambungnya tol dari Lampung ke Palembang semakin berdampak baginya dan sejumlah pedagang.

Ratna Yunianti, pemilik usaha pembuatan kerupuk kemplang di Desa Kelaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan tengah menjemur bahan kemplang dengan memanfaatkan sinar matahari, Selasa (31/12/2019). Foto: Henk Widi

Ratna Yunianti, produsen kerupuk kemplang menyebut sejak dua tahun terakhir produksi kerupuk miliknya turun karena sejumlah pedagang gulung tikar. Ia bahkan hanya memproduksi sekitar 1.000 bungkus dari semula mencapai 2.000 bungkus per pekan.

“Kemplang yang saya produksi dipesan oleh pedagang di sepanjang Jalinsum sebagian dikirim ke Cilegon,” ungkapnya.

Ratna Yunianti menyebut sebagian kemplang sudah dipesan untuk dijual pada rest area jalan tol. Meski permintaan menurun dari pedagang jalinsum ia berharap permintaan dari pedagang di rest area akan meningkat.

Lihat juga...